Film Lokal dari Pontianak Dapat Apresiasi Lewat Festival

Film lokal yang sukses masuk sebagai nominasi Lift-Off Global Network Film Festival dengan judul Less Than 2 Ons atau Kurang 2 Ons.

Film Lokal dari Pontianak Dapat Apresiasi Lewat Festival
Net
Cuplikan Kurang 2 Ons 

Film Lokal dari Pontianak Dapat Apresiasi Lewat Festival

PONTIANAK - Film lokal yang sukses masuk sebagai nominasi Lift-Off Global Network Film Festival dengan judul Less Than 2 Ons atau Kurang 2 Ons.

Sutradara, Haris Supiandi, mengajak para teman-teman film maker Pontianak agar bersama-sama dapat memajukan perfilman lokal.

Menurutnya, sebagai film maker hendaklah jangan cepat berpuas diri ketika film yang digarap telah selesai produksi.

Ia ingin para film maker melangkah keluar dan menunjukan jika budaya lokal memiliki potensi yang besar untuk ke luar, bukan malah sebaliknya, budaya luar yang masuk dan memengaruhi budaya lokal.

"Seperti penggunaan bahasa dalam film, tata letak, sikap, situasi sosial. Itu budaya lokal yang seharusnya kita bawa ke Indonesia," ungkapnya ketika dijumpai Tribun.

Baca: Bikin Bangga, Karya Budak Pontianak Diapresiasi Ajang Film Internasional

Baca: VIDEO: 40 Hektar Lahan PT IGP Terbakar Kapolres Minta Perusahaan Segera Padamkan Api

Baca: Hari Kedua SMN di Mempawah, Siswa Dari Provinsi Bali Berkunjung ke Tiga Lokasi

Menurutnya, sah-sah saja jika para film maker mempromosikan filmnya lewat sosial media. Jika sebuah film ingin lebih dikenal dan diapresiasi, namun tidak bisa dikomersialkan seperti masuk ke bioskop, ia menyarankan untuk mengikuti festival karena dalam ranah festival, sebuah film akan lebih diapresiasi secara prestise.

"Sebelumnya itu ada film Bagian Tengah Masih Terang kan, itu sudah kemana-mana juga. Sudah ke Solo, Jogja JAFF, Aruh Film Festival Kalimantan Selatan kemarin, seluruh Kalimantan kita juga yang menang," ungkapnya untuk memotivasi teman-teman film maker untuk menunjukan Pontianak.

Namun, ia menyayangkan fasilitas untuk para film maker di Pontianak tidak mendukung. Dan oleh karena itu, para film maker Pontianak untuk melakukan screening mereka harus nomaden (pindah-pindah) ke warkop-warkop yang memiliki infokus dan proyektor.

Sedangkan jika dilihat di luar Kalbar, para film maker telah difasilitasi dengan adanya art space tempat untuk menikmati audio visual dan para film maker dapat melakukan screening sekaligus berdiskusi di tempat tersebut.

Oleh karena itu, ajang festival merupakan jalan yang dapat ditempuh oleh para film maker lokal agar karyanya mendapatkan apresiasi dan tempat yang seharusnya.

Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved