Pengamat Pendidikan Dr Aswandi: Terjadi Kesenjangan Yang Sangat Jauh Antara Guru PNS dan Honorer

Pengamat Pendidikan Universitas Tanjungpura, Dr Aswandi mengatakan bahwa sekarang ada Dana Alokasi Umum

Pengamat Pendidikan Dr Aswandi: Terjadi Kesenjangan Yang Sangat Jauh Antara Guru PNS dan Honorer
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Anggita Putri
Dr Aswandi saat di wawancarai diruang kerjanya usai menghadiri sumpah jabatan ke VIII Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. 

Pengamat Pendidikan Dr Aswandi: Terjadi Kesenjangan Yang Sangat Jauh Antara Guru PNS dan Honorer

PONTIANAK - Pengamat Pendidikan Universitas Tanjungpura, Dr Aswandi mengatakan bahwa sekarang ada Dana Alokasi Umum (DAU) yang bisa digunakan untuk meningkat kesejahteraan guru bukan PNS.

Ia mengatakan jadi dari pemerintah daerah juga sudah banyak dana yang dikerahkan ke daerah yang bisa digunakan.

"Sampai menurut menteri mengatakan bahwa jangan sampai gaji guru honor di bawah upah minimum .Karena sampai saat ini masih banyak yang di gaji di bawah upah minum dari 300 sampai 500 ribu," ujarnya.

Ia mengtakan kesenjangan guru PNS dan honor sangat jauh. Kecuali guru honor yang sudah menjadi guru tetap di yayasan swasta yang sudah mapan sudah bagus. Tapi dengan guru honor pada umumnya masih sangat jauh .

"Untuk masalah kinerjanya memang belum diteliti sejauh itu, tapi gambaran umum tidak beda kinerjanya antara guru honor dan PNS. Mereka sama melaksanakan tugas. Bahkan tidak jarang guru honor sendiri melaksanakan tugas sangat banyak ," ujarnya kepada Tribun Pontianak , jumat (16/8/2019).

Baca: ZODIAK HARI INI – Asmara Minggu 18 Agustus 2019, ARIES Banyak Pilihan, Romantisme VIRGO & AQUARIUS

Baca: Fakta MotoGP Inggris: Dovizioso Taklukkan Valentino Rossi, Marc Marquez Nyaris Bikin Vinales Celaka

Baca: Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Sambas Sukses Dilakukan

Ia mengatakan jika menggharapakan dana bos untuk membayar gaji guru honor yang bukan dari Pemda itu terlalu kecil .Jadi guru honor itu harus di kelola oleh pemerintah juga.

"Sementar itu guru honor hanya ditangani oleh kepala sekolah , tidak jarang itu berlebihan," ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah sudah tahu tanpa harus diberi tahu oleh PGRI bahwa guru honor masih seperti itu keadaannya. Tapi mereka juga tidak ada dana. karena alokasi dana yang ada pun banyak keperluan.

"Memang disatu pihak susah dan Pemda masih kurang mampu karena biayanya besar .Karena banyaknya yang harus di biayai pemerintah semestinya adanya partisipasi dari orang tua," ujarnya.

Tapi ketika orang tua membantu sering dilaranag dan dibilang pungutan liar.

"Sebenarnya jika pemerintah mensubsidi di atur dulu jumlahnya jangan sampai banyak dan di angkat semaoknya . Pemda susah juga akhirnya udah gaji diserahkan ke pemda binggunglah pemda. mesti di atur betul-betul
Masyarkaat kita tidak mudah lagi diajak kerja sama karena mengenal pendidkan gratis, ini itu gratis. Jaid ketika di minta bantuan pun tidak mau karena sudah terlalu di buai ," jelasnya.

Melihat usia kemerdekaan yang sudah menginjak usia 74 tahun merdeka, tapi sementara pendidikan masih seperti ini masih sangat jauh tertinggal.

"Semestinya setiap memperingati hari besar kita sebenarnya yang pertama adalah muhasabah , introspeksi, tidak cukup dengan pidato saja. Mestinya ada langkah nyata .Jadi mesti dijelaskan betul persoalan guru kurang dan lain biar jelas dan enak mengatasinya. Ini tahun ke tahun tidak ada kemajuan, " pungkasnya.

Penulis: Anggita Putri
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved