Kesan Rektor IAIN Pontianak Diundang Raja Salman Berhaji

Haji merupakan cita-cita kaum muslimin yang sangat dihajatkan. Pada banyak tradisi suku-bangsa di tanah air, bagi yang muslim

Kesan Rektor IAIN Pontianak Diundang Raja Salman Berhaji
istimewa
Rektor IAIN Pontianak, DR Syarif

Kesan Rektor IAIN Pontianak Diundang Raja Salman Berhaji

Oleh: Syarif

Haji merupakan cita-cita kaum muslimin yang sangat dihajatkan. Pada banyak tradisi suku-bangsa di tanah air, bagi yang muslim, haji menjadi motivasi saving dalam mereka berusaha atau berikhtiar harta- dunia. Pada suku madura misalnya, dalam usaha itu ada lima langkah atau urutan sempurnanya hidup yaitu: kerja-tanah/rumah-sapi-emas-haji. Tradisi hidup seperti ini tidak sekedar menggambarkan terintegrasi dunia-akhirat, tetapi sekaligus menunjukan bahwa haji itu merupakan cita-cita puncak orang Islam.

Diyakini banyak orang bahwa haji merupakan panggilan atau undangan Allah Swt. Ada sebutan bahwa “Haji itu Allah mengundang, Rasul menunggu”. Semua para auliyâ’-anbiyâ’ dan orang-orang yang diperkenankan mendapat rejeki batin mengalami perjumpaan dan pertemuan dengan Rasulullah Saw di Baitullah. Ini kefahaman dari sebutan di atas. Bahwa Allah yang mengundang tidak Allah langsung yang menjumpai hamba-Nya yang diundang, melainkan Rasulullah Saw.

Keyakinan bahwa haji/umrah itu panggilan atau undangan dinyatakan oleh fakta bahwa banyak orang yang berpunya dari segi harta dunia tapi tidak berkesempatan atau tidak tergerak hatinya untuk menunaikam ibadah haji. Sebaliknya, ada orang yang dari segi kemampuan financial tidak mampu, tetapi ada jalan lain yang menyebabkannya dapat berangkat menunaikam ibadah haji. Misalnya dengan jalan dapat rejeki mendadak karena tanah atau asetnya terjual. Atau dengan jalan diberangkatkan oleh kolega atau oleh orang yang berpunya, atau dengan jalan hadiah, atau dengan jalan diundang oleh pengampu wewenang haji, dan lain-lain.

Baca: Raja Salman Undang Istimewa Rektor IAIN Pontianak Berhaji

Kami 19 Warga Negara Indonesia pada musim haji 1440 hijriah/2019 masehi ini mendapat karunia besar, karena kami mendapat undangan Yang Mulia Khâdimu al-Haramain Raja Salman al-Sa’ud. Dalam tempo waktu yang, kurang-lebih 10 hari dari pemberitahuan awal bahwa kami didaftarkan untuk menjadi jamaah haji tamu Raja Salman al-Saud, kami benar-benar definitif dengan visa sudah ready. Sedangkan saudara-saudara kita yang berhajat haji reguler harus menunggu lama, ada menunggu 20-30 tahun. Subhanallah ini benar-benar mengesankan. Ini kesan pertama yang kami rasakan. Tentu kami sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Khâdimu al-Haramain Raja Salam al-Sa’ud di Riyadh, kepada Duta Besar Saudi Arabi di Jakarta Yang Mulia Esham ‘Abid al-Tsaqafy dan seluruh staf Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta, serta kepada semua pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pemberangkatan haji tamu kerajaan Saudi Arabia ini.

Kedua, tentu terkait dengan bahwa kami sebagai dhuyûf khâdimi al-haramain, kami mendapatkan layanan bebas hambatan dan full service. Bagi yang telah berpengalaman haji baik reguler dan plus maupun umroh, semua mengatakan nyatanya perbedaan pelayanan. Yang paling gamblang saat melewati pintu migrasi di airport baik di tanah air maupun di Jeddah dan Madinah. Kami dibawa pemandu, baik masuk maupun keluar pintu migrasi di bandara. Juga kami merasakan full service baik di hotel maupun di tempat-tempat ritual haji seperti di ‘Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Nyaris tidak ada hambatan dan kesulitan yang berarti kecuali yang sifatnya karena faktor alam seperti hujan lebat dan angin yang mengakibatkan padam listrik sebentar sewaktu di Mina.

Ketiga, kami 19 orang dari tanah air sebagai tamu raja, berasal dari berbagai daerah, profesi dan latar belakang, baik pendidikan, jabatan, suku-bangsa, gerakan, dan organisasi. Ada yang perwira polisi, akademisi pimpinan perguruan tinggi, ekonom, aktivis, media, penulis, ustadz, kiyai, syekh, majlis ulama, da’i, dan lain-lain. Dalam keberagaman itu kami sangat membaur, sangat akrab, dan lupa dengan latar belakang masing-masing. Kami saling berbagi cerita tentang pengalaman, saling mengingatkan dan menasihati, saling bantu, berdiskusi, dan sebagainya dalam kehangatan dan keterbukaan. Kami saling ledekan, tertawa, dan sebagainya. Benar-benar hikmahnya haji yang kami jalani luar biasa dari sisi sosial internal kami. Kami menjadi bersaudara yang sangat dekat. Kiranya kesan hikmah ini yang paling dalam dan semoga berlanjut sekembalinya di tanah air dalam bentuk persaudaraan yang lebih luas.

Keempat, kami bangga sebagai bangsa Indonesia. Saudara-saudara kita di Saudia Arabia membanggakan orang Indonesia. Demikian juga saudara-saudara kita dari seluruh penjuru dunia. Saat berkenalan bahwa kami dari Indonesia, respon mereka sangat baik. Mereka ada mengungkapkan ”Akbaru al-jamâ’ah fi al-hajji — jamaah paling besar jumlahnya pada haji”. Mereka ada menggelari jamaah haji Indonesia sebagai “Thuyûru al-jannah — burung-burung surga” karena ketertiban dan keteraturan jamaah haji Indonesia. Pada saat kami bergerak dari Mina ke hotel di bilangan Aziziah Makkah setelah kami menyelesaikan jumrah nafar awwal, saya di bus duduk dengan warga negara Jepang asal Mesir. Pria dosen bahasa di suatu University di Jepang ini bernama Almukmin Abdallah. Dalam bincang-bincang kami dalam bahasa Arab, setelah kami saling kenalan dan tahu saya dari Indonesia dia bilang “Jamâatu al-hajji al-indûnisiyyûn hum thayyibûn — jamaah haji Indonesia itu bagus/baik”.

Kelima, kesan yang kelima ini lebih kepada bersifat pribadi saya. Kesan ini tidak bermakna negatif tapi mungkin lebih kepada harapan. Dalam rentetan pelaksanaan haji kali ini, kami sering mendapat wejangan, atau ceramah, atau orang menyebut siraman rohani dalam bahasa arab. Ceramah yang sebagian besar tentang manasik haji tersebut sering disampaikan setelah shalat dalam lima waktu oleh ustadz atau syekh yang berbeda-beda, baik disampaikan di tempat atau mushallah di mana kami menginap, tempat kami bertenda seperti di Arafah dan Mina, maupun kami dengar dari masjid yang dekat dengan hotel kami atau tenda kami. Yang saya rasakan ceramah tersebut seperti parade pidato karena materi yang disampaikan berulang antara ustadz yang satu dan yang lainnya. Keseluruhan penyampaian itu sifatnya fiqih centris. Terkesan mengulang-ulang teknik-teknik ritualistas yang sejak kecil kita sudah mendengarnya.

Saya yakin sisi eksoteris beragama yang disampaikan itu sangat penting dan sangat berguna. Hanya saja dari sisi esoterisnya hampa, kering. Ritual syariat itu sangat penting, tetapi manasik atau penatalaksanaan hakikat juga tidak kalah pentingnya. Bahkan lebih penting. Setidaknya ada dua alasan yaitu pertama, bahwa diri kita ini seimbang terdiri dua sisi ialah sisi lahiriah-zhahiriah dan bathiniah, sisi jasmaniah dan sisi rohaniah. Kedua, bahwa Allah tidak meniliki/menilai/memandang yang sifatnya fisik-fisik ritualitas syariat. “Innallâha lá yanzhuru ilá shuwarikum walâ ilâ a’málikum walâkin yanzhuru ilâ qulûbikum waniyyatikum — Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa (lahiriah)mu, tidak juga memandang amal (lahiriah)mu, tetapi Dia memandang kepada hati dan niatmu”. Ahli hikmah hakikat menambahkan “Ada tidak hatimu di hadapan-Ku”. Mengapa Allah demikian menilainya? Oleh karena Allah itu Wujud yang bukan lahiriah, bukan jasmaniah. Dalam ilmu tauhid sangat dikenal ajaran tentang bahwa “Fallâhu laisa lahû ‘anâshirun min al-ajsâm — adapun Allah itu tidak tersusun/tidak berunsur materi”.

Maka alanglah lebih cantiknya, mengiringi manasik ritual haji secara syariat juga dipentingkan penyampaian manasik atau tata cara penatalaksanaan haji secara hakikat. Manasik haji secara hakikat (haqîqat) adalah berbicara tentang kinerja hati saat ritual syariat dilaksanakan. Ini sangat penting karena agama ini sesungguhnya hanya bertujuan untuk mengendalikan kebaikan hati yang telah dikotori oleh kinerja insaniyah. Kinerja insaniyah itu adalah kinerja hawa-nafsu. Kinerja hawa-nafsu ini yang merusak agama dan masyarakat. Kerusakan agama dan sosial itu dimulai dari pribadi. Maka secara pribadi pula dalam keseharian kita diperintah untuk membaca catatan diri dalam dada “Iqra kitâbaka kafâ binafsika al-yauma ‘alaika hasîba — baca catatanmu cukup hari ini dirimu sendiri menghisab/menghitung dirimu sendiri” (Qs. al-Isrâ’/17:14). Kalau mau jujur, saat ini juga kita tahu, terekam dan tercatat dalam dada semua yang kita lakukan sejak kecil. Sebesar-besarnya pendusta adalah yang mengingkari atau pura-pura tidak tahu terhadap catatan yang ada dalam dadanya. Catatan itulah sebenarnya yang harus kita bawa saat thawaf untuk dimintakan ampun kepada Allah Swt. Sesombong-sombongnya orang adalah yang melenggang melupakan semua catatan dosanya saat menghadap Allah Swt.

Itu penting menghadap Allah secara hakikat. Maka jika kinerja hati ini dilakukan dalam setiap ritual syariat ibadah maka sesungguhnya telah terputus dari maqâshidu tasyrî’i al-dîn — tujuan disyariatkannya agama. Kebaikan hati itu menjadi hak Allah atau tidak bisa diurus oleh selain Allah. Maka setiap wujud yang di alam hati harus datang kepada-Nya. Sedangkan Allah itu bukan wujud material. Maka Dia tidak menerima kehadiran wujud material seperti tubuh ini. Itu yang saya maksud dalam banyak kesempatan bahwa tidak bisa hanya mengandalkan ritualitas syariat semata dalam hajat menghadap dan menyembah Dzat-Nya Allah Swt.

Kembali kepada kesan haji 1440 Hijriah ini, sungguh jika Allah menghendaki ada saja jalan kita untuk memenuhi panggilan-Nya. Inilah kesan kami, sejatinya kata-kata dalam goresan kesan ini tidak dapat mewakili bahasa hati kami masing-masing. Namun sebagai rasa syukur kami yang juga tidak terkira, maka diungkaplah kesan ini sebagai tanda syukur kami. Ja’alallâhu lanâ waiyyâkum hajjan mabruran wa sa’yan masykûran wa dzanban maghfûran. Âmîn yâ Karîm.

* Penulis adalah Rektor IAIN Pontianak.

Editor: Haryanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved