Khamsyahurahman: Janggal Jika Perancang Lambang Garuda Pancasila Tak Jadi Pahlawan Nasional

Pemerhati Sejarah Kalbar menilai penolakan atas usulan pahlawan nasional utk Sultan Hamid II dan penundaan kepahlawanan

Khamsyahurahman: Janggal Jika Perancang Lambang Garuda Pancasila Tak Jadi Pahlawan Nasional
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Khamsyahurahman 

Khamsyahurahman: Janggal Jika Perancang Lambang Garuda Pancasila Tak Jadi Pahlawan Nasional

PONTIANAK - Pemerhati Sejarah Kalbar menilai penolakan atas usulan pahlawan nasional utk Sultan Hamid II dan penundaan kepahlawanan untuk J.C Oevang Oeray dan Gustirani Pangeran Natakusuma menjadi kado yang buruk tahun ini untuk masyarakat Kalbar.

Apalagi ini menjelang peringatan detik-detik kemerdekaan Indonesia ke 74.

Seperti sosok tokoh Sultan Hamid II ditolak karena 3 poin penilaian, 2 diantaranya adalah masalah konspirasi APRA Westerling yang hingga kini masih terus menjadi perdebatan yang panjang didalam masyarakat.

"Hal tersebut menjadi rujukan utaman penilaian negatif dari Kemensos RI untuk Sultan Hamid II," ujarnya

Satu poin lagi berkaitan dengan keterkaitan dengan lambang negara yang dirancang oleh Sultan Hamid II, tentunya itu poin positif.

Baca: Strategi PDAM Gunung Poteng Singkawang Layani Air Bersih Masyarakat di Musim Kemarau

Baca: Eden Hazard Terancam Absen, Peluang Bale: Prediksi Celta Vigo Vs Real Madrid, Link Live Streaming

Baca: Kenang Bassis yang Sudah Tiada, Coffternoon Perkenalkan Lagu Barunya di FestivaLAnd

Namun seharusnya poin - poin terebut harus saling mendukung antara poin satu kepoin yang lain, bukan menjadi poin - poin sendiri.

"Tak sedikit yang mengatakan bahwa tuduhan Sultan Hamid II terhadap konspirasi APRA Westerling bersifat politik dan mengarah pada permainan manuver dan intrik politik untuk menjatuhkan nama baik Sultan Hamid II pada masa Orde Lama," ujarnya.

Ia yang juga mengelola akun Instagram Pontianak Sejarah mengatakan tak sedikit pula tokoh pahlawan nasional dimasa Orde Lama dibui seperti Buya Hamka, Sutan Sjahrir, M. Roem dan lain - lain, mereka adalah korban politik.

"Yang namanya intrik politik selalu ada disetiap zaman. Maka dari itu poin penilaian konspirasi APRA Westerling tak cukup untuk menilai bahwa Sultan Hamid II tidak layak menjadi pahlawan nasional," ujarnya.

Lambang Negara yang mampu menjadi poin utama akan besarnya jiwa nasioanlis seorang Sultan Hamid II karena hingga detik ini negara masih menggunakan lambang ciptaan Sultan Hamid II.

"Janggal jika perancang lambang Garuda Pancasila tidak disematkan menjadi pahlawan di Negeri ini," ujarnya.

Masyarakat luas sudah sangat peka akan peran besar Sultan Hamid II, banyak kiranya peran - peran Sultan Hamid II layak menjadi poin penilaian Kemensos RI.

"Akan menjadi bumerang bagi pemerintah jika sampai detik ini persoalan nama baik Sultan Hamid II tidak diselesaikan secara tuntas dan objektif oleh pemerintah RI," ujarnya.

Penulis: Hamdan Darsani
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved