USHUL dan HIKMAH JAMARAT dalam Haji

Beberapa ritualitas syariat haji tak lepas dari sosok Nabi Ibrahim as. Di antarnya yang paling langsung adalah wajib haji melempar jumroh

USHUL dan HIKMAH JAMARAT dalam Haji
istimewa
Rektor IAIN Pontianak, DR Syarif

USHUL dan HIKMAH JAMARAT dalam Haji
Oleh: Syarif

Beberapa ritualitas syariat haji tak lepas dari sosok Nabi Ibrahim as. Di antarnya yang paling langsung adalah wajib haji melempar jumroh. Ada jumroh aqabah, wusthaa, dan ûlâ. Semua penjelasan pada penyampain-panyampaian hikmah amaliah atau ibadah, melontar jumroh merupakan simbol melempar setan. Bisa dibayangkan jika ritual melempar jumrah ini dipahami secara syariat mentah, berarti di tiang-tiang jamarat itu merupakan perkampungan atau tempat berkumpulnya setan. Itu artinya sama dengan kita menyebut setan itu sebagai wujud sosok atau bahkan subyek. Apa sebenarnya ushul asal disyariatkannya melontar jumrah dalam ritual haji ini?

Bermula dari Ibrahim as mendapat perintah dalam mimpinya untuk menyembelih putranya (Ismail) yang diperolehnya di usia tua dari seorang istrinya Siti Hajar.

“Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Qs. al-Shaaffaat/37:102).

Bagi Ibrahim, dan bagi semua orang tentu perintah semacam ini sangat berat untuk dilakukan. Pasti ini merupkan ujian yang sangat berat. Begitupun Allah mengungkapkannya “inna hâdzâ lahuwa al-balâu al-mubîn —- sesungguhnya ini sungguh ujian yang nyata” (Qs. al-Shaaffaat/37:106).

Selain Ibrahim as, pasti tidak ada yang bisa melaksanakan perintah ini. Sungguh sangat berat. Namun bagi seorang nabi, oleh karena keimanannya yang telah diistimewakan, seberat apapun perintah Tuhan tetap dilakukannya. Ibrahim as adalah sosok yang tunduk kepada Tuhannya. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam" (Qs. al-Baqarah/2:131).

Ternyata mimpi itu tidak sekali datang langsung dieksekusi oleh Ibrahim as. Ternyata Ibrahim juga jadi korban bisikan di dalam dada “alladzii yuwaswisu fii shuduurin naasi” seperti Adam as. Padahal Ibrahim as telah membuktikan nyatanya Tuhan dan kekuasaan-Nya dihadapannya. Seperti diceritakan dalam teks Alquran di surah yang lain: “Dan ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(Qs. al-Baqarah/2:260).

Dalam kajian hikmah dikabarkan bahwa Ibrahim as tidak sekali mendapat perintah dalam mimpinya. Setiap mendapat mimpi setiap itu pula Ibrahim as mendapat bisikan ragu dalam dadanya, dan itu bisikan setan. Secara wujud, keraguan itu sendiri adalah setan. Yang dilaksanakan penyembelihan itu setelah dialog dengan Ismail as putranya itu adalah mimpi yang ketiga kalinya.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya)” (Qs. al-Shaaffaat/37:103). Saat sudah seperti ini pun tetap setan menggoda supaya Ibrahim as tidak menyembelih putranya. Maka Ibrahim as mengambil batu dan melemparkannya ke arah depannya seraya menghadap qiblat.

Inilah USHÛL JUMRAH AQABAH.

Halaman
12
Editor: Haryanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved