Keruh dan Mengandung Banyak Garam, Air PDAM Pontianak Tak Layak Konsumsi

Musim kemarau tengah melanda Kota Pontianak. Masyarakat mulai mengeluhkan kondisi air yang didistribusikan oleh PDAM terasa asin dan keruh

Keruh dan Mengandung Banyak Garam, Air PDAM Pontianak Tak Layak Konsumsi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Rizki Fadriani
Kondisi air PDAM di rumah warga 

Keruh dan Mengandung Banyak Garam, Air PDAM Pontianak Tak Layak Konsumsi

PONTIANAK - Musim kemarau tengah melanda Kota Pontianak. Masyarakat mulai mengeluhkan kondisi air yang didistribusikan oleh PDAM terasa asin dan keruh.

Hal ini disebabkan karena sumber air baku di sungai Kapuas mengalami intrusi.

Intrusi merupakan perembesan air laut ke dalam lapisan tanah sehingga terjadi percampuran air laut dengan air tanah.

PDAM telah mengeluarkan pengumuman terkait tingginya kadar garam pada air baku. Per 10 Agustus 2019, kadar garam tersebut berkisar dari 459mg/liter-2400mg/liter. Angka tertinggi berada di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sungai Jawi Luar.

Menurut Direktur Utama PDAM, Lajito, penyebab air baku terasa asin adalah karena kondisi di hulu sungai tidak mengalami hujan, sehingga debit air di hulu menjadi kecil dan itu menyebabkan naiknya air laut.

Baca: Prediksi PSM Makassar Vs Barito Putera Shoppe Liga 1, Guy Junior & Zulham Zamrun Absen Bela Juku Eja

Baca: Konstruksi Tol Semarang - Demak Ditargetkan Mulai Tahun Ini

Baca: Diskon Promo Besar-besaran Kemerdekaan RI 17 Agustus HUT RI ke-74, Dari Fashion Hingga Kuliner

Ia berharap agar hujan lekas turun sehingga masyarakat dapat kembali mendapatkan air bersih yang layak.

Ia turut menghimbau masyarakat agar menghemat penggunaan air dan mengingat kondisi air sekarang sudah tidak layak, ia meminta masyarakat untuk tidak mengkonsumsi air PDAM dan hanya digunakan sebatas keperluan untuk mandi dan cuci.

"Saya selaku pimpinan PDAM mohon maaf kepada pelanggan PDAM karena kondisi air sekarang ini, bagaimana dan apa boleh buat dijalankan dari pada tidak ada air sama sekali," ungkapnya.

Ia menambahkan jika dulu permasalahan air ini sudah dilaporkan bahkan ke Gubernur, karena di Kalbar jika sudah tidak hujan sebulan dua bulan air menjadi asin, sehingga PDAM tidak dapat mengolah air yang sehat.

Pihaknya juga telah meminta bantuan kepada pemerintah provinsi mengenai permasalahan air baku yang terintrusi air laut.

Dirinya juga mengatakan jika PDAM hanya sebagai operator yang mengambil air baku untuk dikelola dan didistribusikan ke pelanggan. Serta berdasarkan Undang-undang, kewenangan mengenai pengolaan air baku (sungai) berada di tangan pemerintah pusat atau provinsi bukan di PDAM.

Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan 1 (BWSK1), Achmad Zubaidi mengatakan jika BWSK 1 telah berupaya menanggulangi intrusi air laut dengan membangun cadangan air baku di daerah Penempat.

Ia menambahkan jika intake Imam Bonjol terkena intrusi air laut, maka PDAM akan mengoperasikan intake di Penempat. Karena air baku di Penempat merupakan cadangan dari intake di Imam Bonjol. Jarak antara intake dan muara di Penempat sejauh 50 km sehingga jika dalam situasi kemarau yang tidak cukup panjang maka air baku di Penempat masih aman dari intrusi.

"Kita membangun SDA BWSK 1 kan membangunnya untuk air baku, begitu selesai, pegelolanya nanti PDAM," ungkapnya, pada Selasa (13/8). (Rizki Fadriani)

Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved