Bambang Widianto: Cegah Stunting Harus Dengan Cara

Bambang Widianto menegaskan aksi cegah stunting harus dilakukan dengan cara "Keroyokan".

Bambang Widianto: Cegah Stunting Harus Dengan Cara
ilustrasi
Ilustrasi 

Citizen Reporter
Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil
Sekretariat Wakil Presiden RI

Bambang Widianto: Cegah Stunting Harus Dengan Cara "Keroyokan"

PONTIANAK - Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan, Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres), Bambang Widianto menegaskan aksi cegah stunting harus dilakukan dengan cara "Keroyokan".

Menurutnya, mustahil persoalan stunting dapat diselesaikan secara cepat jika hanya mengandalkan satu atau dua kementerian/lembaga saja. 

"Ini berlaku di tingkat pusat maupun daerah. Di tingkat pusat seluruh kementerian/lembaga harus keroyokan. Di tingkat daerah seluruh organisasi perangkat daerah juga harus keroyokan," ungkap Bambang.

Stunting adalah masalah kurang gizi dan nutrisi kronis yang ditandai tinggi badan anak lebih pendek dari standar anak seusianya. Beberapa diantaranya mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal seperti lambat berbicara atau berjalan, hingga sering mengalami sakit.

Baca: SMAN 7 Bakal Gelar Kejuaraan Voli antar Pelajar se-Kalbar

Baca: BMKG Prediksi Prediksi Kota Pontianak Diselimuti Asap di Malam dan Dini Hari

Baca: KISAH Asal Mula Kurban atau Qurban Dalam Islam yang Dipersembahkan Kepada Allah SWT

Bambang mengatakan, keroyokan yang ia maksud tidak lantas hanya melibatkan pemerintah saja, namun juga sektor swasta. Perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) di daerah operasionalnya bisa mendukung program penanganan masalah stunting.

Mengutip Badan Kesehatan Dunia (WHO), Bambang menerangkan, pada 2018 sebanyak 7,8 juta atau 30 persen dari 23 juta balita di Indonesia adalah penderita stunting. Meskipun proporsinya telah menurun dari 37 persen pada tahun sebelumnya, namun angka itu dinilai masih tinggi.

"Saya yakin dengan keroyokan ini, upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih optimal karena semua memiliki pemahaman yang sama bahwa stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa," imbuhnya. 

Senada Asisten Deputi Perlindungan Sosial dan Penanggulangan Bencana, Abdul Muis mengungkapkan, bahwa stunting adalah bukan penyakit.

Stunting juga bukan semata soal gizi anak, tapi terkait kualitas SDM dan sarana kebutuhan sosial masyarakat. Oleh karena itu dalam pencegahannya ada pembagian penanganan masalah. 

"Ada 23 Kementerian dan Lembaga yang saat ini berkolaborasi melakukan percepatan pengentasan stunting yang tahun ini ditargetkan di 2160 Kabupaten\Kota diseluruh Indonesia," tuturnya disela-sela acara Workshop Konvergensi Aksi Percepatan Pencegahan Stunting yang digelar di Hotel Arya Duta, Rabu 7 Agustus 2019. (*)

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved