Pertumbuhan Ekonomi Dunia Cenderung Memburuk, Perekonomian Dalam Negeri Kena Imbas

Ia pun mengungkapkan jika ekonomi Indonesia masih stagnan. Untuk 3 atau 4 tahun terkahir, hanya diangka 5,1 sampai 5,2 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Dunia Cenderung Memburuk, Perekonomian Dalam Negeri Kena Imbas
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MIA MONICA
Kegiatan seminar yang dihadiri oleh beberapa narasumber dengan tema “Menjaga Kesehatan APBD di Tengah Ketidakpstian Ekonomi Global” yang dilaksanakan di Hotel Ibis Pontianak, Rabu (7/8/2019). 

Pertumbuhan Ekonomi Dunia Cenderung Memburuk, Perekonomian Dalam Negeri Kena Imbas

PONTIANAK - Kementrian keuangan melaksanakan seminar dengan tema “Menjaga Kesehatan APBD di Tengah Ketidakpstian Ekonomi Global” yang dilaksanakan di Hotel Ibis Pontianak, Rabu (7/8/2019).

Turut hadir Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Eddy Suratman sebagai salah satu narasumber dalam seminar ini. 

Edy mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia cenderung memburuk sehingga berdampak pada perekonomian dalam negeri.

“Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan tidak sebesar 3,9 persen tapi mungkin hanya skitar 3,7 persen. Dan negara-negara maju lebih parah lagi, mereka hanya akan tumbuh sekitar 2,1 persen tahun ini. Ini menurun dari tahun 2018 lalu yang mereka masih bisa tumbuh 2,4 persen,” ujar Prof Eddy.

Baca: Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan Ungkap Tantangan Ekonomi Kalbar

Baca: Inilah Wanita Peraih IPK Tertinggi Program Doktoral Prodi Ilmu Ekonomi Untan

Hal ini mengakibatkan para petani masih akan menikmati harga komoditas yang realtif rendah. Menurut perkiraan bank dunia, secara umum masih akan terjadi hingga tahun 2030-2035. Kecuali untuk beberapa komoditi yang prospeknya bagus hingga di 2021.

“Komoditas yang prospektif itu ada gas alam, kakao, groundnut oil, minyak sawit, kedelai, jagung, daging ayam, gula, jeruk, serbuk kayu, karet, pupuk (kecuali DAP dan TSP), nikel, platinum. Dan Komoditas yang suram adalah Minyak mentah, batubara, kopi, teh, minyak kelapa, minyak kedelai, beras, daging sapi, udang, kayu batangan, kapas, tembakau, pupuk DAP dan TSP, timah, tembaga, emas,” jelasnya.

Ia pun mengungkapkan jika ekonomi Indonesia masih stagnan. Untuk 3 atau 4 tahun terkahir, hanya diangka 5,1 sampai 5,2 persen. 

Baca: Prof Eddy Suratman Sebut Ketidakmampuan OPD Maksimalkan Serapan Anggaran Rugikan Masyarakat

Baca: Pembukaan PLBN, Eddy Suratman Ingatkan Pemerintah untuk Persiapn Sumber Daya Dalam

“Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan itu ditambahi beban dengan adanya deindustrialisasi, yang mana kontribusi sektror industri yang justru menurun, bukan membaik. Kita sekarang porses deindustrilisais, kontribusi industri bagi perekonomian Indonesia tidak pernah melampaui 30 persen, paling tinggi hanya 29,1 persen di tahun 2001,” ungkapnya.

Edy menjelaskan jika tahun 2001 adalah tahun pertama dimulainya desentraliasi fiskal Indonesia, yang mana berdasarkan UU 22 dan 25 tahun 1999, setelah dilakukan desentralisasi fiskal dapat memberikan sebagian kewenangan kepada pemerintah daerah mengenai menyerapkan anggaran besar dari APBN ke APBD provinsi/kabupaten/kota.

"Justru industri kita tidak berkembang dengan  baik, ada masalah dengan desentralisasi fiskal kita. Itu menggambarkan bahwa kita tidak bisa memberikan nilai tambah yang besar dari produk yang kita hasilkan. Kita lupa mendiversifikasi, hanya memanfaatkan SDA saja. Lalu Bagaimana efeknya di Kalbar? kalbar mirip-mirip saja dengan nasional, pertumbuhannya mirip, pertumbuhan di Kalbar hanya sekitar 5 persen. Tahun ini saja, RPJMD 2018-2023, pertumbuhannya tahun ini hanya 5,2 persen. Publikasi BPS triwulan pertama pertumbuhan ekonomi Kalbar hanya 5,07, dan triwulan kedua 5,08 persen. Jadi kemungkinan besar di tahun ini, kita tak mampu memenuhi target pertumbuhan ekonomi Kalbar yang besarnya 5,2 persen,” jelasnya lagi.

Jika melihat dokumen RPJMN pada 5 tahun mendatang yaitu dari 2020-2024 RPJMN memproyeksi pertumbuhan ekonomi Kalbar hanya bergerak di sekitar 5 persen. Pada 2024 paling tinggi diperkirakan 5,9 persen. 

“Dengan demikian, kita mesti berpikir untuk mengatasi problem ekonomi dan kemungkinan kita juga menghadapi problem sosial. Sebetulnya kita bisa tumbuh diatas 5 persen,” ucapnya.

Penulis: Mia Monica
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved