Citizen Reporter

Jelang Hari Anak Nasional 2019, GMKI Pontianak akan Bahas Persoalan Anak dan Solusinya

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Pontianak Peduli Bahas Persoalan Anak dan Solusinya

Jelang Hari Anak Nasional 2019, GMKI Pontianak akan Bahas Persoalan Anak dan Solusinya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
┬áSumanti, Sekretaris Fungsi Badan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Pontianak. 

Citizen Reporter
Sekretaris GMKI Pontianak, Irfansius

PONTIANAK - Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2019, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Pontianak akan menyerap permasalahan anak-anak dan remaja dari kelompok terpinggirkan untuk membahas berbagai persoalan terkait dengan anak di Indonesia, khususnya di Kota Pontianak, serta solusi dan harapan untuk penyelesaian masalah itu.

Berbagai permasalahan yang dialami anak menjadi pembahasan dalam rencana kerja Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Pontianak, Salah satu persoalan penting yang dibahas adalah perundungan (bullying), akibat perbedaan yang dimiliki setiap anak. 

Menurut Sumanti, Sekretaris Fungsi Penguatan Kapasitas Perempuan (PKP) Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Pontianak, dirinya berharap setiap anak tidak ada lagi yang saling mengejek, menghina atau melakukan perundungan terhadap sesama teman, dan mulai menghargai perbedaan sebagai suatu kekayaan dan potensi untuk membangun bangsa di masa mendatang.

Baca: BMKG Rilis Cuaca di Kapuas Hulu, Potensi Hujan

Baca: VIDEO: Jadi Langganan Karhutla Settiap Tahun, Warga Sarankan Pemerintah Bikin Kolam

"Tentang bullying terhadap beberapa anak, misalnya perbedaan suku, ras, (warna) kulit, terutama dalam perbedaan gaya bahasanya, yang kadang di setiap daerah itu suka membully anak-anak yang berbeda bahasanya atau logat bicaranya dengan daerah setempatnya," ujar Sumanti, Selasa (6/8/2019).

Sambut Hari Anak Nasional 2019, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Pontianak Peduli Bahas Persoalan Anak dan Solusinya

Sumanti mengatakan, konflik identitas yang terjadi di masyarakat pasca reformasi, secara tidak langsung menimbulkan dampak terhadap anak-anak. Potensi perpecahan dan dijadikannya anak sebagai korban, harus diatasi bersama-sama dengan meminimalisasi bibit perpecahan, serta memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai pentingnya persatuan Indonesia yang terdiri dari berbagai ragam suku, agama, budaya dan bahasa.

Sumanti menambahkan, “Proses-proses perpecahan karena identitas, identitas bisa keagamaan, bisa kesukuan, dan sebagainya. Sebenarnya kita sudah mulai lihat dari reformasi, demokrasi kita berjalan dengan baik, tetapi juga ada bertumbuhan juga konflik, yang tadinya mungkin hanya laten saja, sekarang sudah mulai mengemuka, dan salah satunya adalah perebutan kekuasaan daerah itu memperkuat konflik-konflik yang sudah ada. Bagaimana pun juga anak-anak ini terpapar juga di berbagai daerah dengan potensi-potensi konflik itu," timpalnya.

Sumanti menegaskan, penghargaan terhadap berbagai nilai perbedaan yang dimiliki Indonesia harus diajarkan kepada anak sejak usia dini. Hal ini sebagai dasar agar anak mampu menghargai perbedaan itu, sehingga dapat menjadi agen perdamaian, persatuan, dan kebhinnekaan.

 “Kita perlu mendorong bagaimana sejak anak-anak itu juga bisa menghargai perbedaan, pruralisme, toleransi, kemudian perdamaian, persatuan, maupun juga anti kekerasan. Jadi sejak dini orang tua harus sudah mengajarkan lewat bermain maupun juga kegiatan-kegiatan diskusi dan berbagi peran, itu berusaha untuk menanamkan nilai-nilai itu tadi di dalam kerja-kerja anak,” tutup Sumanti

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved