Riezky F Purnomo: Indonesia Harus Bisa Jadi Pusat Keuangan Syariah

Dalam kegiatan bincang-bincang bersama Jurnalis dan launching Jurnalis Ekonomi Syariah (JES) Pontianak

Riezky F Purnomo: Indonesia Harus Bisa Jadi Pusat Keuangan Syariah
TRIBUN/ISTIMEWA
Bank BI 

Riezky F Purnomo: Indonesia Harus Bisa Jadi Pusat Keuangan Syariah 

PONTIANAK - Dalam kegiatan bincang-bincang bersama Jurnalis dan launching Jurnalis Ekonomi Syariah (JES) Pontianak, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar, Riezky F Purnomo mengatakan OJK telah mengandang-gandakan bahwa pada 2022 mendatang Indonesia harus sudah jadi pusat keuangan syariah di Dunia.

“Indonesia itu termasuk dalam 10 negara yang pasar Keuangan Islamnya paling maju,” ujar Riezky, Kamis (1/8).

Ia menjelaskan jika Industri keuangan syariah masih belum optimal dalam mengatasi kesenjangan dan distribusi pendapatan. Hal ini disebabkan oleh adanya dikotomi dalam menjalankan fungsi komersial dan fungsi sosial.

“Seperti ada nama produknya yang masih agak sulit, kemudian adanya dikotomi bahwa institusi keuangan syariah itu hanya milik orang islam. Harus diketahui bahwa sebagian besar ekonomi kita juga masih dikuasai teman-teman yang non muslim. Pasar begitu besar kalau kita hanya membatasi pada masyarakat muslim akan sulit. Nah ini yang harusnya lebih dikembangkan lagi,” ungkapnya.

Baca: Prijono Harap Indonesia Tak Hanya Jadi Pemakai Tapi Juga Jadi Supplier

Baca: Acara MOFEST 2019 Bahas Adaptif Persaingan Global dan Revolusi Industry 4.0

Baca: Semenjak Menikah dengan Raffi Ahmad, Kebiasaan Nagita Slavina Ini Berubah Naik Level

Berdasarkan data statistik perbankan syariah di Kalbar, bahwa growth aset Kalbar hanya 0,86 % (yoy), growth DPK 1,95 % (yoy) dan growth pembiayaan 1,24 % (yoy). 

“Jadi ini sangat kecil kalau dibandingkan dengan nasional. Growth aset nasional itu 10,92 % (yoy), DPK 10.57 % (yoy) dan pembiayaannya 13,04 % (yoy). Kalau kita melihat pada penduduk Kalimantan Barat yang sebenarnya 30 persennya adalah teman-teman dari suku melayu, yang norabennya adalah muslim harusnya pertumbuhannya bisa lebih besar. Ada 1 hal yang perlu kita gali bersama kenapa pertumbuhannya sangat kecil, padahal kita berharap bisa jauh lebih besar,” jelas Riezky.

Ia pun menyebutkan berdasarkan pada data per mei 2019 share perbankan syariah se Kalimantan, Kalbar hanya 28 persen dan menurutnya, Kalbar masih banyak kesempatan untuk mengembangkan perbankan syariah.

“Kita ini punya roadmap untuk pengembangan keuangan syariah, tidak terbatas hanya perbankan, tetapi keuangan syariah juga untuk mewujudkan industri jasa keuangan syariah yang tumbuh dan berkelanjutan, berkeadilan serta memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan menuju terwujudnya Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia,” 

Adapun langkah-langkah untuk pengembagan tersebut adalah dengan Meingkatkan kapasitas kelembagaan industri keuangan syariah yang leboh kompetitif dan efisien, Memperluas akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan Meningkatkan inklusi produk keuangan syariah serta koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah.

Riezky berharap jika kelak ibu kota Indonesia pindah ke kalimantan, pertumbuhan syariah harus sangat dahsyat.

Penulis: Mia Monica
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved