PT Borneo Sayangkan Karyawannya Ditangkap, Manajer: Seolah-olah Kami Ilegal

Manajer PT Borneo Group Cabang Sintang, Petrus Cristian merasa kecewa atas sikap yang diambil Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/WAHIDIN
Kantor PT Borneo Group Cabang Sintang di Jalan YC Oevang Oeray tampak tidak ada aktivitas usai karyawannya yang melakukan praktik kesehatan di lapangan ditangkap Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Kamis (2/8/2019) kemarin. 

PT Borneo Sayangkan Karyawannya Ditangkap, Manajer: Seolah-olah Kami Ilegal

SINTANG - Manajer PT Borneo Group Cabang Sintang, Petrus Cristian merasa kecewa atas sikap yang diambil Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang menangkap dan menyerahkan karyawannya ke pihak kepolisian saat sedang melakukan pekerjaan di lapangan.

Diketahui langkah tersebut diambil oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang karena PT Borneo Group sendiri belum memiliki Surat Izin Berusaha (SIB) di Kabupaten Sintang dan belum ada berkoordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan.

"Kami sedikit kecewa terhadap dinas kesehatan, kami merasa sebagai warga harusnya dibimbing. Tetapi kemarin langsung menangkap anggota kami di lapangan. Seolah-olah perusahaan kami ini ilegal," katanya, Kamis (1/8/2019) sore.

Menurutnya, sudah seharusnya jika ada kesalahan diberikan teguran lebih dulu tanpa harus melibatkan kepolisian. Pihaknya pun merasa selama ini pekerjaan mereka juga membantu tugas daripada dinas kesehatan.

Baca: Ketua DPRD Sambas Sebut Belum Ada Perubahan UUMD3

Baca: Peringatan Dini Tsunami, BMKG Mencatat 4 Daerah Berstatus Siaga hingga Waspada

Baca: TOP SKOR Liga 1 2019 - Duo Brazil Kuasai Daftar Pencetak Gol Terbanyak, Striker Timnas Masuk Top 10

"Karena kami, tujuan kami untuk penyuluhan kesehatan memberikan edukasi pelayanan kesehatan kepada masyarakat supaya masyarakat yang tidak paham dan tidak mengerti akan kesehatan lebih mengerti," terangnya.

Pihaknya pun menegaskan sudah memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dasar, pemeriksaan gula darah, dan kolesterol di lapangan, lalu kemudian menawarkan suplemen-suplemen yang dijual.

"Kita di lapangan memang ada praktek kesehatan tetapi alat-alat kesehatan yang kita gunakan itu alat kesehatan rumah tangga yang beredar luas di masyarakat. Seperti alat-alat cek kolesterol, gula darah dan asam urat," jelasnya.

Dalam praktik pemeriksaan kesehatan di lapangan, pihaknya mengaku tidak ada unsur-unsur pemaksaan. Pihaknya juga sudah memberi tahu dalam cek darah untuk pemeriksaan kolesterol, gula darah, dan lainnya berbayar.

"Kemudian kami jelaskan program kami ini tujuannya untuk pencegahan, kita hanya melihat indikasi saja, tidak memvonis. Kalau masyarakat berminat dan merasa membutuhkan kami layani, kalau tidak juga tidak masalah," katanya.

Pasca kejadian penangkapan tersebut, pihaknya pun sementara waktu berhenti melakukan praktik lapangan. 32 karyawan yang disebut Konsultan Kesehatan yang biasa berkeliling menawarkan pemeriksaan kesehatan sementara stop bekerja.

Dirinya juga menegaskan walaupun 32 staff yang disebut Konsultan Kesehatan tersebut lebih banyak yang lulusan SMA, namun telah mendapat pelatihan dari dokter perusahaan sebelum melakukan pekerjaan di lapangan.

Penulis: Wahidin
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved