Berhenti Lakukan Illegal Logging, Kelompok Tani Jalin Kerjasama dengan Dinas Pertanian

Kelompok petani Meteor Garden adalah mantan ilegal loger dikawasan Taman Nasional Gunung Palung

Berhenti Lakukan Illegal Logging, Kelompok Tani Jalin Kerjasama dengan Dinas Pertanian
TRIBUN/ISTIMEWA
Kelompok Tani mantan Illegal Logger bernama Meteor Garden yang saat ini telah resmi berbadan hukum dan menjalin kerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kayong Utara. 

Citizen Reporter
Yayasan Palung
Petrus Kanisius

Berhenti Lakukan Illegal Logging, Kelompok Tani Jalin Kerjasama dengan Dinas Pertanian

KETAPANG - Kelompok petani Meteor Garden adalah mantan ilegal loger dikawasan Taman Nasional Gunung Palung yang berhenti dan menjadi petani hortikultura dan didampingi oleh Yayasan Palung. Jumat (02/08/2019).

Meteor Garden mendaftarkan diri secara resmi sebagai kelompok tani pada hari Rabu (17/07/2019) kemarin, bertempat di BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) dari Tim Sustainable Livelihood Yayasan Palung bersama tiga orang perwakilan dari kelompok petani Meteor Garden mengajukan proposal permohonan bantuan alat dan bibit tanaman hortikultura untuk kebutuhan kelompok petani Meteor Garden.

Seperti diketahui, sejak tahun 2018 lalu, tim Sustainable Livelihood Yayasan Palung bersama petani Meteor Garden membangun kerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kayong Utara, dan kelompok petani Meteor Garden sudah terdaftar sebagai kelompok petani yang berbadan hukum dan memiliki administrasi yang lengkap.

Kerjasama kelompok petani Meteor Garden dengan Dinas Pertanian adalah bentuk dukungan konkrit Dinas Pertanian kepada kelompok tani untuk mengoptimalkan kerjasama yang terjalin dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kayong Utara.

Beberapa hal yang disampaikan kelompok petani Meteor Garden kepada PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) Desa Pampang Harapan yaitu, kendala dan permasalahan yang dihadapi adalah minimnya alat penunjang pertanian dan bibit tanaman hortikultura. Menurut PPL Desa Pampang Harapan, Rosdiani, proposal permohonan dari kelompok petani Meteor Garden ini akan di prioritaskan di tahun 2020, sedangkan untuk tahun ini belum bisa direalisasikan sebab Dinas Pertanian Kabupaten Kayong Utara telah meanggarkan dan meralisasikan untuk kegiatan lainnya.

Tetapi kemungkinan ada rencana pada tahun ini, kemungkinan di bulan Oktober, Rosdiani selaku PPL akan memberikan bantuan alat untuk menanam jagung dengan harapan kepada ke kelompok petani agar bisa memanfaatkan alat ini dengan sebaik baiknya.

Asbandi dari Tim Sustainable Livelihood Yayasan Palung sebagai staf pendamping petani Meteor Garden berharap, kerjasama ini bisa berjalan lancar dengan baik dan bisa membantu kelompok petani Meteor Garden supaya berkembang dan bisa bersaing dengan kelompok tani lain yang telah sukses.

Berawal, ketika Tomanse dan ketiga temannya menawarkan inisiatif untuk menghidupkan kembali budaya gotong-royong di masyarakat dengan cara bertani tanpa merambah di tanah Kayong.

Saban waktu, dimulai sejak setahun lalu, ketika empat personil ini berkeinginan untuk membentuk kelompok yang misi utama mereka menghidupkan kembali budaya gotong royong bertani di tanah Kayong.

Tomanse demikian teman-temannya menyapa merupakan ketua kelompok mereka tersebut, Herman nama aslinya atau biasa disapa Man dan kini namanya berubah menjadi Tomanse. Tomanse bersama ketiga anggota kelompoknya yang terdiri dari Jakaria, Baharudin, Ishak dan Yanto memulai rutinitas mereka sehari-hari untuk bertani dengan terlebih dahulu mencangkul lahan untuk bedeng tanaman yang akan mereka tanam.

Seperti diketahui, personil Meteor Garden menawarkan diri mereka kepada Yayasan Palung untuk didampingi dan diberikan pelatihan terkait pertanian. Mereka pun tanpa dipaksa mengisi formulir atau surat kesepakatan untuk menghidupkan kembali budaya gotong-royong dan pengembangan pertanian masyarakat di wilayah Desa Pampang Harapan.

Ide dan keinginan mereka untuk mengaktifkan budaya gotong royong sebagai upaya perlindungan di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Menariknya, sistem gotong-royong tersebut di lahan mereka masing-masing. Mereka secara bergiliran membantu dalam kelompok. Mereka berharap ada masyarakat yang bisa mengikuti cara mereka dan bisa memanfaatkan lahan kosong untuk pertanian serta yang terpenting adalah menghidupkan kembali budaya gotong-royong di masyarakat setempat.

Penulis: Nur Imam Satria
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved