Anak Disabilitas Penghuni PLAT Tewas Dianiaya, Kadis Sosial Pontianak Ungkap Hal Ini

Kita ada Konsoler nya, ada Psikiaternya, ada ustadznya, dan tiap malam ustadznya yang mengajar ngaji

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ FILE
Kepala Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan Kota Pontianak, Aswin Djafar. 

Anak Disabilitas Penghuni PLAT Tewas Dianiaya, Kadis Sosial Pontianak Ungkap Hal Ini

PONTIANAK - Kepala Dinas Sosial Pontianak, Aswin Djafar kepada awak media mengatakan bahwa VMR korban meninggal akibat di aniaya 2 orang penghuni PLAT Pontianak merupakan hasil tangkapan dari pihak Satpol PP Pontianak.

"Jadi Satpol PP membawa ke dinas sosial, dan kita tanyakan ini apa kasusnya, ini pak, dia ini sering mengambil HP saat orang sedang sholat, kemana uang hasilnya itu, sebagian dia berikan kepada orang yang menyuruhnya, sebagian dia ambil untuk membeli konsumsi narkoba, dari kapasitas itulah, kami dari dinas sosial membina, jadi bukan dia kasusnya penanganan ini, tapi kita pembinaan, dalam arti kata jangan sampai dia mengulang lagi," katanya di hadapan awak media. Sabtu (27/7/2019)

Iapun mengaku bahwa pihaknya telah berupaya untuk memulihkan korban.

"Kemarin kita sudah berupaya untuk dibawa ke bambu Apus, di Jakarta Timur untuk pemulihan anak yang perlu rehabilitasi sosial. Hanya kendalanya si VRM ini tidak sekolah, ndak bisa tulis baca, itu masalahnya. Jadi sementara ini kita bina sholat, kita bina dulu, supaya dia mandiri, kan, inilah yang kita upayakan, dan sebenarnya dia ini ABH (Anak Berhadapan Hukum)," jelasnya.

Baca: VIDEO: Ruah Amping Agenda Tahunan, Hamdan: Untuk Mensyukuri Panen Yang Melimpah

Baca: 31 JULI Tayang Perdana - 5 Fakta Film Fast and Furious: Hobbs and Shaw, Tak Ajak Pemeran Utama

Terkait proses pembinaan di dalam PLAT, ia mengatakan bahwa pihaknya memilki Konsoler, Psikiater, serta tenaga rohaniawan untuk pembinaan para penghuni PLAT.

"Kita ada Konsoler nya, ada Psikiaternya, ada ustadznya, dan tiap malam ustadznya yang mengajar ngaji," jelas Aswin Djafar.

Untuk yang bertugas menjaga di PLAT sendiri, ia mengungkapkan ada 6 personel, dengan pembagian 2 orang per shift, dan dalam satu hari ada 3 shif yang akan berhentian setiap 8 jam.

Lalu, terkait situasi saat terjadi penganiayaan tersebut, ia mengungkapkan bahwa terjadi saat penjaga sedang istirahat untuk ibadah.

"Ya memang kita lihat perkelahian itu terjadi saat jeda sholat, maka kita akan pecat. Kan di dalam PLAT itu ada tempat sholat, ya ini mau tidak mau akan kita pecat, inikan tenaga kontrak, yang akan kita pecat 1 orang. Dia itu sholat di luar, pengakuan dia sholat, tapi kan di PLAT itu ada tempat sholat, kenapa Ndak sholat di sini, sambil membimbing anak - anak ini," katanya.

Aswin Djafar menambahkan, pihaknya pernah meminta kepada pihak kepolisian untuk memberikan pengawalan personel kepolisian terhadap ABH yang ada di PLAT, namun hingga kini pihaknya belum mendapatkan pengawalan tersebut.

"Ini nampaknya umur kecil, tapi tindakannya dewasa, kita sudah minta, hanya sampai sekarang belum di berikan. Kalau memang tidak bisa, jangan dititip dululah, takut terjadi lagi hal yang tidak di inginkan," ujarnya.

Penulis: Ferryanto
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved