Bedah Film Dua Garis Biru Bersama BKKBN Provinsi Kalbar

Karena kuliatas ibu ditentukan pada sisi remaja bagaimana remaja mempersiapkan diri mendewasakan diri mereka untuk siap menjadi orang tua nanti.

Penulis: Anggita Putri | Editor: Ishak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANGGITA PUTRI
Foto bersama usai Bedah Film Dua Garis Biru Bersama BKKBN Provinsi Kalbar di Cafe Kayu Manis, selasa (23/7/2019). 

Bedah Film Dua Garis Biru Bersama BKKBN Provinsi Kalbar

PONTIANAK - Usai Nonton Bersama Film Dua Garis Biru bersama, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Kalimantan Barat mengajak para komunitas Remaja, Pelajar, Mahasiswa, dan mitra kerja BKKBN Kalbar untuk menyaksikan Bedah Film Dua Garis Biru, di Cafe Kayu Manis Jalan Reformasi, Selasa ( 23/7/2019).

Bedah Film Dua garis biru bersama BKKBN di pandu oleh Syarif Rizki Alkadri Duta Genre Putra Kalimantan Barat 2019.

Kegiatan bedah film disi pemateri dari Kepala BKKBN Provinsi Kalbar, Drs Kusmana, Ahli Psikologi Agus Andi, Tokoh Agama dari Forum Antar Umat Beragama, Usman Thoyib, Akademisi Bidang Kesehatan Reproduksi Universitas Muhammadiyah Pontianak, M Taufiq.

Para pemateri akan mengupas terkait Film Dua Garis Biru dari segi Kebijakan, Kesehatan, Psikolog dan Nilai agama yang terkandung dalam film tersebut.

Baca: Gelar Nobar Film Dua Garis Biru, Kepala BKKBN: Bisa Jadi Alat dan Media Edukasi

Baca: Peringati Hari Kependudukan Dunia BKKBN Kalbar Nonton Bareng Film Dua Garis Biru

Dari segi kesehatan, M Taufiq mengatakan pesan yang disampai dari film Dua Garis Biru adalah memberikan edukasi untuk menjauhi pergaulan bebas.

"Dalam hal ini yang dimaksud dengan pergaulan bebas ini adalah prilaku seksual sebelum nenikah karena dampak yang timbul sangat bisa dirasakan oleh perempuan," ujarnya.

Ia mengatakan kasus kehamilan yang tidak diinginkan di Kalbar kurang lebih 24,9 persen dari hasil survei yang menunjukan ada resiko yang amat besar yang akan di alami oleh perempuan.

"Mulai dari resiko yang paling awal resiko lahirnya bayi dengan bayi prematur ini sendiri merupakan suatu gambaran terhadap resiko menurunya SDA kedepan, karena yg ingin kita harapkan adalah bayi yang punya kualitas baik dari sisi pertumbuhan dan perkembangan. ditenggarai oleh hasil dari kualitas ibunya.

Baca: Pesan Lili dan Syarif Duta Genre Kalbar 2018 Kepada Remaja Usai Nobar Film Dua Garis Biru

Baca: Titanic Tengggelam Tahun 1912, Ternyata Penyebab Kapal Tenggelam Tak Seperti Diceritakan di Film

Karena kuliatas ibu ditentukan pada sisi remaja bagaimana remaja mempersiapkan diri mendewasakan diri mereka untuk siap menjadi orang tua nanti.

"Kalau bicara tentang kehamilan bahwa kehamilan usia muda memberikan resiko yang amat besar bagi kualitas rumah tangga dimasa yang akan datang ," ujarnya.

Ia mengatakan dalam film tersebut menunjukan pasangan yang sangat muda atau pernikahan suatu kondisi yang tidak diinginkan akan msngakibatkan mudah nya mencari konflik dalam rumah tangga.

Pada akhirnya mereka berfikir bahwa hidup seperti biasanya tanpa harus memikirkan nasib anak kedepan dan bagaimana kondisi ekonomi kedepan bagi seluruh keluarga .

"Bagi remaja maknai film pada persepsi positif dan memang tidak bisa kita pungkiri memang akan ada perdebatan terhadap film ini. Seolah-olah melegalkan prilaku seks diluar nikah tapi pola yang dibangun didalam film ini adalah upaya untuk mencegah jangan sampai remaja kedepan terjebak pada suasana. Kemudian pada akhirnya merugikan mereka di masa mendatang," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved