Mocaf Mentonyek Bisa Diolah Jadi 300 Jenis Makanan

BPTP sangat mendukung pengembang mocaf yang dilakukan bersama Bank Indonesia. Oleh karena ini satu di antara cara diversifikasi pangan.

Mocaf Mentonyek Bisa Diolah Jadi 300 Jenis Makanan
TRIBUN PONTIANAK/ NINA SORAYA
Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Baras Baru mulai membuat makanan olahan berbahan dasar tepung mocaf, Sabtu (20/7/2019). 

Mocaf Mentonyek Bisa Diolah Jadi 300 Jenis Makanan

LANDAK - Penyuluh Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalbar, Sigit Sapto Wibowo, mengatakan mengolah Mocaf di Mentonyek Landak memang memiliki tantangan. Tak seperti di Jawa, tanah di Kalimantan tak sesubur disana, sehingga perlu treatment untuk. Dia menyebutkan penanaman singkong Mocaf ini memerlukan mekanisasi pertanian.

“Tapi saat kita lihat hasilnya singkong cukup besar, tentu ini sudah sangat baik. Perlu beberapa kali tanam lagi, maka akan menghasilkan kualitas singkong Mocaf seperti yang di Jawa Tengah,” jelasnya.

Baca: BREAKING NEWS - Anak Kandung Tusuk Ibu dan Adik Pakai Gunting di Sungai Pinyuh

Baca: MIS Al Munadir Kuala Mandor B Memprihatinkan, Penerapan K 13 Belum Maksimal

BPTP sangat mendukung pengembang mocaf. Oleh karena ini satu di antara cara diversifikasi pangan. Di Mentonyek, lahan yang dipakai juga hampir sebagian merupakan lahan yang tak terpakai sehingga sudah tepat untuk pemanfaatan tersebut.

“Yang lebih penting lagi model pengelolaan yang diterapkan Bank Indonesia adalah dari hulu hingga ke hilir. Maka ini bisa membuka kesempatan kerja dan peluang meningkatan pendapatan bagi anggota tani,” ujarnya.

Dahulu, makan ubi sepertinya hanya untuk “orang susah”, tapi sekarang tidak demikian. Pasca ubi kayu atau singkong yang telah dijadikan tepung Mocaf ini maka lebih dari 300 jenis makanan bisa diolah.

“Ibu-ibu KWT Baras Baru untuk tahap awal bisa membuat kue yang bisa dititipkan di sekolah, warung-warung. Coba perhatikan makanan apa yang disukai anak-anak, lalu dibikinkan. Bank Indonesia juga sudah membantu di kemasan,” ujarnya.

Meningkatnya permintaan untuk industri makanan dalam negeri membuat Indonesia harus mendatangkan gandum dari luar negeri. Berdasarkan data Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) volume impor gandum Indonesia pada 2017 naik sekitar 9% menjadi 11,48 juta ton dari tahun sebelumnya.

Demikian pula nilainya meningkat 9,9% menjadi US$ 2,65 miliar dari sebelumnya. Impor gandum Indonesia terbesar berasal dari Australia, yakni mencapai 4,23 juta ton atau sekitar 37% dari total impor. Terbesar kedua dari Ukraina seberat 1,98 juta ton atau sekitar 17% dan ketiga dari Kanada mencapai 14,7% dari total impor.

Manager Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Djoko Juniwarto, menjelaskan alasan memilih Mentonyek Landak untuk pengembangan Mocaf, dia menilai para perempuan di sana termasuk yang menjadi tulang punggung keluarga. Makanya, Bank Indonesia tertarik memberikan pendampingan lewat program pemberdayaan perempuan.

"Kita lihat di sini para perempuan ini yang noreh getah, nanam jagung, hingga nanam padi. Perempuan-perempuan di sini luar biasa karena ikut menopang ekonomi keluarga. Sehingga sangat tepat Bank Indonesia datang lewat program pemberdayaan perempuan dan juga untuk mewujudkan ketahanan pangan, satu di antaranya dengan mengolah mocaf," jelasnya.

Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved