Kontingen Kapuas Hulu Tiba di Palangkaraya, Ini Ekspedisi Selanjutnya

peserta ekspedisi napak tilas damai 1894 Tumbang Anoi Provinsi Kalimantan Tengah baru tiba di Palangkaraya, Sabtu (19/7/2019)

Kontingen Kapuas Hulu Tiba di Palangkaraya, Ini Ekspedisi Selanjutnya
TRIBUNPONTIANAK/Sahirul Hakim
Kontingen ekspedisi napak tilas damai 1894 Tumbang Anoi Provinsi Kalimantan Tengah asal Kapuas Hulu tiba di Palangkaraya, Sabtu (19/7/2019) 

Kontingen Kapuas Hulu Tiba di Palangkaraya, Ini Ekspedisi Selanjutnya

KAPUAS HULU - Setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer, rombongan dari Kabupaten Kapuas Hulu, peserta ekspedisi napak tilas damai 1894 Tumbang Anoi Provinsi Kalimantan Tengah baru tiba di Palangkaraya, Sabtu (19/7/2019).

Selanjutnya rombongan yang berjumlah sekitar 28 orang, dengan 7 kendaraan darat itu akan melanjutkan perjalan menuju tempat kegiatan di Desa Tumbang Anoi Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalteng. "Dalam perjalanan kita harus beberapa kali singgah, karena memang perjalanan luar biasa jauhnya," ujar Sekretaris DAD Kabupaten Kapuas Hulu, Petrus Kusnadi.

Rombongan berangkat dari Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu dari hari Kamis (18/7/2019), dimana langsung menuju Tayan. Terus Jumat (19/7/2019) dari Tayan Kabupaten Sanggau mulai bertolak menuju Provinsi Kalteng, dan singgah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Terus dari Sampit, Sabtu (20/7/2019) rombongan kembali menuju Palangkaraya Ibukota Provinsi Kalteng dan tiba sekitar Pukul 15.00 WIB. "Setelah sampai di Palangkaraya, kita nginap juga, namun kita sempat dulu mampir ke rumah Betang mengkonfirmasi pihak panitia kegiatan," ucapnya.

Baca: Ini pengakuan Sejumlah Nasabah Bank Mandiri di Kota Pontianak

Baca: KONI Pontianak Akan Gunakan Atlet yang Masih Segar di Porprov Mendatang

Baca: Ketua PTMSI Kalbar Minta Gencarkan Pembinaan Atlet Usia Produktif

Besok Minggu (21/7/2019), langsung ke tempat kegiatan yang perjalannya juga masih lumayan jauh. Dimana kata Kusnadi kegiatan ini memiliki makna penting bagi masyarakat Suku Dayak. Oleh karenanya perlu dikenang kembali kilas balik peristiwa bersejarah itu.

"Karena di Tumbang Anoi itulah lahir sebuah kesepakan masyarakat Dayak terdahulu, untuk bersama-sama menghapus sistem ngayau, sistem dendam dan tidak ada lagi tradisi harus mengorbankan sesama manusia," ujarnya.

Kusnadi menuturkan, untuk konteks sekarang memang sudah sangat tidak relevan, karena bertentangan dengan hak asasi manusia. Maka moment perjanjian sekitar 125 tahun silam itu harus dikenang, karena para leluhur Dayak saat itu sudah punya pemikiran yang bijaksana, bagaimana menghargai sesama manusia.

"125 tahun silam itu masyarakat Dayak sudah punya pemikiran toleransi, rasa cinta damai dan persaudaraan, itu yang harus kita pupuk," ucapnya.

Maka melalui Napak tilas ini kata Kusnadi harus dikenang kilas balik, bagaimana pemikiran orang tua kita dulu yang dianggap tidak bersekolah, penuh kekurangan namun saat itu mereka sudah punya pemikiran yang sangat maju.

"Peristiwa ini sangat menarik bagi kita, khususnya Dewan Adat Dayak Kapuas Hulu, kita bergembira sekali dalam perjalanan, menikmati suasana alam lingkungan, baik perkotaan, perkampungan," ujarnya.

Dengan ini diharapkan, acara napak tilas itu berjalan lancar. Informasi yang ia dapat bahwa sangat banyak. Selain itu kata Kusnadi, dalam rangkaian acara selain seminar, akan ada ritual adat.

"Mungkin ritual itu yang sudah ditampilka. 125 tahun lalu, dan pasti menarik, karena di Tumbang Anoi juga akan bergabung seluruh masyarakat Dayak yang ada di pulau Borneo, dan Sarawak," ungkapnya.

Penulis: Sahirul Hakim
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved