Wakil Bupati Mempawah: Selain Sosialisasi, Tindakan Tegas Kepada Pembakar Lahan Juga Ditegakkan

"Ini adalah PR kita semua, apalagi kemarin sudah terjadi kebakaran di Sungai Rasau, jadi ini sebenarnya tidak hanya tanggung jawab pemerintah,"

Wakil Bupati Mempawah: Selain Sosialisasi, Tindakan Tegas Kepada Pembakar Lahan Juga Ditegakkan
ISTIMEWA
Satu unit helikopter dari BPBD Provinsi Kalbar diterjunkan untuk memadamkan api karhutla di Desa Sungai Rasau, Selasa (16/7/2019) 

Wakil Bupati Mempawah: Selain Sosialisasi, Tindakan Tegas Kepada Pembakar Lahan Juga Ditegakkan

MEMPAWAH - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sudah seperti penyakit masyarakat yang setiap tahun terjadi di Kabupaten Mempawawah, kendati Pemerintah Daerah (Pemda) sudah berupaya maksimal dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan.

Sebagian besar Karhutla yang terjadi di Kabupaten Mempawah adalah ulah manusia yang dengan sengaja membuka lahan dengan cara di bakar, terlebih di musim kemarau.

Wakil Bupati Mempawah, Muhammad Pagi mengatakan selain sosialisasi kepada masyarakat, sanksi tegas juga harus ditegakkan dan diberikan kepada para pelaku pembakar lahan dengan sengaja.

"Kalau memang betul mereka membakar sembarangan, apalagi yang bukan haknya, tangkap kita adili mereka, jangan dibiarkan, agar tidak menjadi 'koreng' berkepanjangan," ujarnya, Rabu (17/7/2019).

Baca: Sejak Januari 34 Titik Kebakaran Terjadi di Mempawah, BPBD Bentuk Satgas Pencegahan Karhutla

Baca: VIDEO: Aksi Anggota Polsek Mempawah Hulu Dorong Mobil Warga Yang Mogok

Muhammad Pagi menganalogikan Karhutla ini seperti sudah menjadi penyakit masyarakat. Sebab dari tahun ke tahun Karhutla selalu terjadi di Kabupaten Mempawah.

"Penyakit masyarakat ini sepertinya tidak bisa dihalang-halangi, meski secara kekuatan kita tetap berupaya semaksimal mungkin agar masyarakat adar tidak membakar lahan secara bebas," ujarnya.

Memang kata dia, masyarakat yang membakar lahan secara bebas itu dari segi biaya pengolahan lahan itu kecil, namun mereka tidak mempertimbangkan resiko dan dampak jangka panjang kedepannya.

Baca: Peringatan Dini! BMKG Pantau 26 Titik Panas di Kalbar, Kabupaten Mempawah Terbanyak

Baca: Karhutla Jadi Ancaman Serius, BPBD dan Pemda Gelar Rakor Bahas Pencegahan

Selain itu, kebakaran juga dipicu oleh cuaca panas yang disebabkan oleh lapisan ozon yang semakin menipis, akhirnya lahan gambut menjadi kering dan mudah terbakar.

"Ini adalah PR kita semua, apalagi kemarin sudah terjadi kebakaran di Sungai Rasau, jadi ini sebenarnya tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi seluruh elemen masyarakat," ujarnya.

Muhammad Pagi mengatakan 6 titik kebakaran yang ada di bulan Juli seperti yang disampaikan oleh BPBD itu adalah yang urgent, bisa saja kata dia, ada banyak titik lain yang tidak diketahui.

"Lagipula enam desa yang telah kita tetapkan sebagai titik rawan tadi memang sebagian besar adalah lahan gambut yang masih kosong, sehingga rawan kebakaran," ungkapnya.

Oleh sebab itu, Muhammad Pagi mengajak seluruh stakeholder untuk serius dalam mencegah kebakaran lahan.

Kemudian dia mengatakan penting bagi seluruh elemen terkait untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dampak kebakaran hutan dan lahan.

"Setiap tahun kita harus memberikan sosialisasi kepada masyarakat, tidak hanya setiap kebakaran saja, tapi itu harus rutin dan konsisten," pungkasnya. 

Penulis: Ya'M Nurul Anshory
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved