Pengakuan Korban Penipuan Berkedok Traveloka di Pontianak, Ungkap Modus Pelaku

Namun, hampir seluruh korban yang hadir merupakan para driver ojek online.

Pengakuan Korban Penipuan Berkedok Traveloka di Pontianak, Ungkap Modus Pelaku
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIVALDI ADE MUSLIADI
Sedikitnya 15 korban penipuan pemalsuan data mengatasnamakan Traveloka turut hadir pada konferensi pers yang digelar di Mapolda Kalbar, Rabu (17/7). Namun, hampir seluruh korban yang hadir merupakan para driver ojek online. 

Pengakuan Korban Penipuan Berkedok Traveloka di Pontianak, Ungkap Modus Pelaku

PONTIANAK - Sedikitnya 15 korban penipuan pemalsuan data mengatasnamakan Traveloka turut hadir pada konferensi pers yang digelar di Mapolda Kalbar, Rabu (17/7/2019).

Namun, hampir seluruh korban yang hadir merupakan para driver ojek online.

Dewi satu diantaranya mengatakan, tagihan yang diterimanya mencapai Rp 10 Juta di bank.

Awalnya, diceritakan dia informasi ini diterima di grup WhatsApp ojol tersebut, di mana ada salah seorang kawan mengajak anggota tersebut untuk ikut serta dalam pengumpulan point Traveloka dengan imbalan Rp 100 Ribu.

"Ada can ni seratus ribu, cuma kita diminta untuk mengumpulkan KTP, untuk point Traveloka. Kebetulan ada kawan juga sudah dapat tiga ratus ribu," ungkapnya.

Baca: OJK Kalbar Sebut Kasus Penipuan Berkedok Travel Online Rugikan Masyarakat Sekaligus Perbankan

Baca: Kapolda Kalbar Ungkap Modus Penipuan Mengatasnamakan Traveloka, Tersangka Raup Rp 350 Juta

Setelah itu, sejumlah korban yang tertarik dikumpulkan di salah satu kamar hotel untuk didata. Mereka diminta untuk mengumpulkan KTP sebelum akhirnya di foto sembari memegang KTP tersebut.

Dijelaskan Dewi, di hotel tersebut sudah disiapkan dua kamar yang saling terhubung. Yang mana satu kamar digunakan untuk korban dikumpulkan.

Sementara itu satu kamar lainnya digunakan oleh sejumlah orang untuk mendata identitas mereka.

Baca: Dapat Rp 350 Juta, Tersangka Penipuan Gunakan Uang untuk Foya-foya dan Berlibur ke Bali

"KTP kami dikumpulkan, setelah itu dibawa ke kamar sebelah. Kalau berhasil kami difoto sambil memegang KTP. Setelah itu dikasi uang seratus ribu. Kalau yang tidak bisa didaftarkan tidak dikasi uang," ungkapnya.

Ia mengatakan, alasan mengapa ada korban yang tak bisa terdata, disebabkan oleh ketidak cocokan antara wajah dan identitas diri korban di KTP.

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved