Pihak IAIN Pontianak Klaim UKT Lebih Rendah Dibanding Perguruan Tinggi Lainnya

Wakil Rektor I IAIN Pontianak menjekaskan, tentang adanya kenaikan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) sehingga mengindang reaksi mahasiswa

Pihak IAIN Pontianak Klaim UKT Lebih Rendah Dibanding Perguruan Tinggi Lainnya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIVALDI ADE MUSLIADI
Wakil Rektor I IAIN Pontianak, Achmad Firdaus 

Pihak IAIN Pontianak Klaim UKT Lebih Rendah Dibanding Perguruan Tinggi Lainnya

PONTIANAK - Wakil Rektor I IAIN Pontianak menjekaskan, tentang adanya kenaikan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) sehingga mengindang reaksi mahasiswa yang tidak setuju, dikatakannya sudah melalui pengkajian. Bahkan, kata dia, nilai UKT IAIN Pontianak masih terhitung rendah dibanding perguruan tinggi lainnya di Kalbar.

"Nilai UKT di IAIN masih terbilang rendah dibanding (perguruan tinggi) lain. Misalnya, Rp. 3,2 Juta UKT di Untan masuk kategori 2, kalau di kita (IAIN) sudah terbilang ke kategori 3 atau 4," ujarnya saat diwawancarai awak media, Senin (15/7).

Ia melanjutkan, melihat kondisi saat ini memang segala hal itu biaya lumayan besar. Sementara pendidikan tidak lepas dari biaya tersebut. Sementara pendidikan juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan pembiayaan itu.

"Makanya konsekuensinya pilihan yang paling berat kita ambil itu adalah menaikkan biaya UKT," katanya.

Baca: Tata Cara Salat Gerhana Bulan dari Kemenag, Dirjen Bimas Islam Ajak Laksanakan Shalat Khusuf

Baca: Polsek Seponti Banyak Terima Aspirasi Warga Seponti Terkait Jalan Rusak

Baca: Hubungan Sule Ayah Rizky Febian & Naomi Dibongkar Anaknya, Putri Delina Beberkan Fakta Sebenarnya!

Ia juga mengatakan, peruntukkan biaya dari UKT mahasiswa tersebut tentu untuk pengelolaan. Misalnya, kata dia, untuk mendapatkan akreditasi dengan nilai A, maka diperlukan perimbangan antara dosen dan mahasiswa. Untuk saat ini, IAIN sendiri masih berakreditasi B.

"Setiap kita ajukan formasi penerimaan dosen misalnya, kita ajukan 100 hanya dapat 50 persen dari itu. Nah jalan keluar yang bisa kita tempuh itu adalah menggunakan tenaga dosen non PNS, dan itu harus kita biayai, ini salah satunya (peruntukkan UKT). Kemudian pengelolaan yang lain misalnya fasilitas sarana," jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, IAIN saat ini terus mencoba untuk menjadikan kampus yang menggunakan class room digital, dan hal tersebut tentu membutuhkan biaya yang besar.

"Jadi kebijakan peningkatan biaya UKT ini bukan kebijakan sepihak, namun sudah dikaji dengan matang. Dan itu juga diberlakukan kepada mahasiswa baru, bukan mahasiswa lama," katanya.

Untuk itu, Firdaus sangat menyesalkan aksi sejumlah mahasiswamya yang melakukan demo menolak kebijakan pemberlakuan UKT, tanpa melakukan dialog dengan pihak pejabat kampus.

Seharusnya, kata dia, mahasiswa datang menemui pejabat kampuas untuk berdialog apabila mereka merasa keberatan atas adanya kebijakan pemberlakuan UKT baru tersebut.

"Ada hal yang miris dari mahasiswa, padahal mereka adalah bagian dari IAIN ini. Tetapi mereka mencoba untuk mempertanyakan kebijakan itu lewat demo-demo, padahal mereka bisa berdialog terbuka bersama pimpinan sesuai dengan tugas dan fungsinya sehingga mereka tahu apa yang dialami oleh IAIN ini," pungkasnya.

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved