DAD Bengkayang Juara I Lomba Pangka Gasing Beregu

Perwakilan Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang berhasil meraih juara I dalam perlombaan pangka gasing kategori beregu

TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Lomba permainan tradisional pangka gasing yang digelar dalam Festival Budaya Dayak ke-1 Kalimantan Barat di Ramin Bantang, Kabupaten Bengkayang, Selasa (9/7/2019). Adapun juara 1 dalam pangka gasing kategori beregu adalah DAD Bengkayang, juara 2 dari DAD Singkawang dan juara 3 dari DAD Kapuas Hulu.Kemudian juara 1 kategori peorangan diraih oleh Rinja peserta dari DAD Kapuas Hulu, juara 2 atasnama Anjiu dari DAD Singkawang dan juara 3 dari DAD Kapuas Hulu atasnama Epin. 

DAD Bengkayang Juara I Lomba Pangka Gasing Beregu

BENGKAYANG - Perwakilan Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang berhasil meraih juara I dalam perlombaan pangka gasing kategori beregu yang digelar dalam Festival Budaya Dayak ke-1 Kalimantan Barat di Ramin Bantang, Kabupaten Bengkayang, Selasa (9/7/2019).

Meski berhasil membawa nama DAD Bengkayang juara1, para pemain mengaku mengalami beberapa kendala, misalnya grogi saat bertanding karena tidak adanya ofisial yang mendampingi.

Satu di antara pemainnya, Roma Talius mengatakan saat bertanding timbul rasa grogi, pasalnya tidak ada pendamping dari pihak kontingen DAD, akibatnya ia tidak terlalu memahami prosedur dan aturan main yang telah ditetapkan oleh panitia dan juri, karena menurutnya mereka tidak memegang buku panduan dan syarat-syarat aturan main dari panitia.

Baca: PGD Sintang ke-VIII Bakal Dimeriahkan 17 Jenis Lomba Tradisional Masyarakat Dayak

Baca: TRIBUNWIKI: Profil Singkat Kabupaten Sambas

Baca: LIVE Babak II Persebaya Vs Barito Putera Liga 1 2019, Babak Pertama Kedua Tim Mandul Gol

"Kesulitanya sih sebenarnya ndak ada, cuma apa ya, timbul grogi lah, gimanalah ndak grogi, kami kan dari kecamatan ni mewakili nama DAD Kabupaten, tapi ndak ada yang mendampingi kami, makan jak baru sekarang ni dari pagi, jadi kita kalau stamina kita standar kan nyaman juga kita bertanding, inipun dapat makan dikasi dari pihak desa kami," kata Roma Talius setelah pertandingan selesai.

Kemudian kendala lainnya dikatakan Roma adalah jarak antara pemangka dengan gasing yang dipangka, menurutnya kalau tali gasing pendek dari jarak mangka ke gasing lawan, maka itu susah mengenai gasing lawan.

"Ini kan jarak mangkanya dua meter dari lingkaran tempat gasing lawan yang akan dipangka, bearti kalau gasing lawan berada di tengah-tengah lingkaran kan otomatis jaraknya lebih dari 2 meter, sementara tali gasing kita hanya satu meter setengah, itukan ndak mampu mengenai gasing lawan, cuma ya kita pakai tehnik jak, gimana caranya biar tetap bisa mengenai gasing lawan, makanya dengan cara-cara mau tumbang itu tadi karena ngimbang badan, kemudian saat bertanding harus jaga kaki jangan sampai nginjak garis pembatas," tambahnya.

Ia menambahkan untuk mengikuti perlombaan pangka gasing saat ini ia dan timnya tidak ada melakukan persiapan khusus, pasalnya tidak ada koordinasi dan informasi yang sampai ke mereka dari jauh-jauh hari.

"Panitia sudah kasi ke pihak kecamatan tentang prosedur aturan main, berapa ukuran gasing, berat gasing daj arak tembaknya, tapi dari koordinator kecamatan tidak sampai ke kami, cuma kades kami bilang tanggal sekian kami main, siap-siap kalian tu, karena kalian mengatasnamakan Kabupaten,"

"Kami nanya lah syarat-syarat perlombaannya seperti apa, jadi kami ni ndak ada pedoman itu,langsung turun bertanding, tapi kita bersyukur juga karena masih mampu melawan yang lain, untuk kategori beregu kami juara 1, tapi ini harus dimantapkan lagi, seperti kata orang bilang, ular berbisa kan karena terbiasa, kami biasanya kalau udah tau dari jauh-jauh hari kami latihan di kampung, buat garis kayak yang diperlombakan, nanti latihan mangka harus 20 kali kena, karena sering latihan mungkin 30 kali, 40 kali, 50 kali pangka pun kena terus kalau latihan," kata Roma Talius saat ditemui disebuah stan warung usai perlombaan.

"Kemudian gasing kita bawa sendiri, ya kita memang mau mendukung pemerintah dalam hal membudayakan adat dan budaya, kita kan suka dalam hal adat dan budaya seperti ini, karena kita orang yang beradat, coba lah kalau pemerintah minta masyarakat melestarikan adat budaya tapi masyarakatnya ndak mau kan susah juga," Ujar pria asal Desa Karya Bhakti, Kecamatan Sungai Betung tersebut.

Ia mengatakan bahwa dirinya memang pemain gasing yang mewakili Kecamatan Sungai Betung saat ada perlombaan gasing ditingkat Kabupaten, mereka dipercayai jadi pemain gasing mewakili Kabupaten kalau ada perlombaan ditingkat provinsi, hingga saat ini ia sudah 5 kali mewakili Kabupaten Bengkayang dalam perlombaan Pangka Gasing.

Penulis: Anesh Viduka
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved