PerkimLH Kalbar Akan Pantau Kualitas Air Sungai di Kalbar

Osmar Mubin mengatakan korporasi atau industri, baik karet, sawit maupun pertambangan disebut bisa membuang limbah industrinya

PerkimLH Kalbar Akan Pantau Kualitas Air Sungai di Kalbar
Shutterstock
Ilustrasi 

PerkimLH Kalbar Akan Pantau Kualitas Air Sungai di Kalbar

PONTIANAK - Kasi Penegakan Hukum Lingkungan dinas Perumahan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kalbar, Osmar Mubin mengatakan korporasi atau industri, baik karet, sawit maupun pertambangan disebut bisa membuang limbah industrinya ke badan sungai dengan syarat baku mutu limbah tersebut sesuai dengan ketentuan sehingga ketika dibuang tidak mencemari sungai.

Adapun ketentuan itu termuat dalam Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, di mana setiap penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang membuang air limbah ke air atau sumber air wajib mentaati persyaratan yang ditetapkan dalam izin.

“Perusahaan boleh membuang limbahnya di badan sungai asalkan baku mutunya di bawah ketentuan," ujarnya.

Baca: Batik Gelombang Muera Jadi Syarat Wajib Lomba Tari di HUT Kubu Raya ke 12

Baca: Batik Gelombang Muera Jadi Syarat Wajib Lomba Tari di HUT Kubu Raya ke 12

Baca: Pangdam XII/Tanjungpura Terima Kehormatan Buka Kunci Pintu Rumah Adat Ramin Bantang Bengkayang

Menurutnya aturan memang aturannya begitu. Ini dalam aturan PP 82 2001 tentang pengelolaan kualitas sumber air terutama sungai, Permen LH nomor 5 tahun 2004 tentang baku mutu limbah akibat kegiatan industri, misalnya sawit, karet dan lain-lain. Asal baku mutunya di bawah.

Saat disinggung soal kualitas air sungai Kapuas dan beberapa sungai Kapuas di wilayah Kalbar, menurutnya untuk menentukan kualitas air, harus memiliki data dari uji sample terlebih dahulu.

“Karena kualitas air ini berkaitan dengan data. Jadi ketika saya mengatakan air sungai ini tidak berkualitas, tidak berani saya. Datanya belum ada. Saya tidak ada bawa data,” ujarnya.

Begitu juga dengan riset kualitas air di Kalbar, dia menegaskan pihaknya akan tetap memantau hal ini, sebab data kualitas air tidak hanya didapatkan dari provinsi saja, namun setiap kabupaten dan kota juga harus memiliki data dan hasil riset itu.

“Tetap kita pantau, karena kualitas air ini kan kita ambil dari kabupaten juga dari provinsi juga. Sama seperti BPDAS juga tadi juga melakukan riset. Makanya kita satukan datanya dan baru kita buat kesimpulan, biar enak,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan aktivitas korporasi atau perusahaan bukan satu-satunya faktor utama penyebab menurunnya kualitas air di Kalbar, namun juga disebabkan oleh pembangunan serta aktivitas masyarakat yang bermukim di pinggiran sungai.

“Banyak, karena manusia kita ini semakin banyak, dari hulu ke hilir, perkembangan teknologi, banyak pengaruhnya. Akibat pembangunan saja mempengaruhi kualitas air. Misalnya pasir dari sungai, dulu masyarakat belum bermukim di pinggiran sungai saat ini sudah ada," ujarnya.

Begitu juga dengan perusahaan yang dulunya belum ada dan sekarang sudah banyak sekali Karena aktivitas kita banyak di tepi sungai,” imbuhnya.

Penulis: Hamdan Darsani
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved