BPDAS Nyatakan Terdapat 1,1 Juta Hektare Lahan Kritis di Kalbar

Kepala BPDAS kalbar Evi Budiaryanti mengatakan bahwa saat ini pihaknya belum pernah melakukan riset ataupun data terkait

BPDAS Nyatakan Terdapat 1,1 Juta Hektare Lahan Kritis di Kalbar
TRIBUNPONTIANAK/Destriadi Yunas Yumasani
Kebakaran lahan hampir mendekati bangunan warga di Jalan Sepakat 2, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (9/4/2019) siang. Anggota Polsek Pontianak Selatan dengan alat seadanya berupaya memadamkan api dengan alat seadanya sebelum pemadam kebakaran tiba. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

BPDAS Nyatakan Terdapat 1,1 Juta Hektare Lahan Kritis di Kalbar

PONTIANAK - Kepala BPDAS kalbar Evi Budiaryanti mengatakan bahwa saat ini pihaknya belum pernah melakukan riset ataupun data terkait dengan kualitas air sungai dibKalbar.

Kendati demikian pihaknya hanya memiliki data luas lahan kritis di Kalbar yang terdiri dari dalam dan luar kawasan hutan.

“Namun kalau tentang data luas data lahan kritis di DAS Kalbar kita ada,” ujarnya.

Untuk Kalbar sendiri, luas lahan kritis di DAS mencapai 1,1 juta hektar. Angka ini diklasifikasi menjadi tiga kategori yakni sangat kritis, kritis dan tidak kritis. Hanya saja, dirinya tidak menyebutkan secara rinci terkait dengan rincian kategori-kategori ini.

Baca: Walhi Sebut Banyak Aktivitas di Dekat DAS Potensi Sebabkan Sungai Jadi Rusak dan Tercemar

Baca: Wabup Effendi Harap Program Inovasi Desa Tingkatkan Layanan Teknis

Baca: VIDEO: Abu Bakar: Pembangunan Jalan Jawai Harapan Masyarakat

“Kalau luas lahan kritis di Kalbar itu ada 1,1 juta hektar yang terbagi sangat kritis, kritis dan tidak kritis, baik itu di luar ataupun di dalam kawasan hutan. Tapi saya lupa angka pastinya,” ujarnya

Ia memaparkan DAS Kapuas merupakan kawasan yang paling luas yang masuk dalam kategori lahan kritis. Penyebabnya dikarenakan aktivitas masyarakat seperti penebangan liar, ladang berpindah dan aktivitas fungsi kawasan.

Sementara kontribusi yang paling besar jika dilihat melalui citra satelit adalah adanya tata guna lahan yang tidak sesuai dengan kondisi daya dukung DAS. Seperti pemanfaatan ladang, perkebunan yang seharusnya wilayah tersebut merupakan kawasan lindung.

“Kawasan lindung ini berubah menjadi perkebunan. Alih fungsi lahan,” ujarnya.

Saat ini di BPDAS memiliki program bernama Kebun Bibit Rakyat (KBR). Program ini sudah berjalan beberapa tahun terakhir, di mana dengan adanya program ini dirinya berharap masyarakat memiliki kemauan untuk menanam pohon.

Sebab, menurutnya pola-pola ladang berpindah merupakan salah satu faktor utama penyebab lahan-lahan menjadi kritis.

“Pola – pola ladang berpindah yang mungkin banyak mengakibatkan lahan-lahan kita kritis, jadi diajaklah melakukan penanaman. Dan juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat kita juga,” ujarnya.

Penulis: Hamdan Darsani
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved