Sistem Zonasi PPDB Ciptakan Lingkungan Sekolah Yang Homogen

istem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) ditingkat SMP dan SMA Negeri yang digadang-gadang

Sistem Zonasi PPDB Ciptakan Lingkungan Sekolah Yang Homogen
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Rektor IKIP PGRI Pontianak, Rustam menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pontianak yaitu Hari Peringatan Sampah Nasional (HPSN) 2019, di Kantor Lurah Kota Baru, Pontianak Selatan, Jumat (8/3/2019). 

Sistem Zonasi PPDB Ciptakan Lingkungan Sekolah Yang Homogen

PONTIANAK - Sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) ditingkat SMP dan SMA Negeri yang digadang-gadang sebagai upaya pemerataan pendidikan justru akan menimbulkan masalah baru.

Saat ini masyarakat Indonesia diketahui tinggal mengelompok pada komunitas suku mereka. Dengan pengumpulan peserta didik dalam radius tiga kilometer pada satu sekolah justru akan menciptakan lingkungan sekolah yang homogen.

"Alangkah lebih elegan jika dari berbagai wilayah digabungkan dalam satu sekolah, terciptalah suasana bhineka tunggal ika," ucap Rektor IKIP PGRI Pontianak , Rustam saat diwawancarai diruangnya, Selasa (2/7/2019).

Ia mengatakan di satu sekolah dengan sistem zonasi berarti siswa-siswi yang berasal dari satu lingkungan dengan radius paling jauh tiga kilogram. Dalam lingkup tiga kilometer kultur masyarakat selalu homogen. Jika siswa-siswi dalam raduis tersebut dikumpulkan dalam satu sekolah tentu pemerintah juga tengah menciptakan budaya homogen.

Baca: Syafruddin: 2 PNS Diberhentikan Karena Langgar Disiplin

Baca: Mahasiswa Untan Juara 1 Lomba Debat Bahasa Inggris di Banjarmasin

Baca: Mahasiswa S3 University of Texas Penelitian Bahasa Dayak di Kecamatan Meliau

Hal tersebut karena siswa-siswi dalam satu sekolah hanya berasal dari orang-orang sekitar sekolah. Begitu anak-anak membaur sesama mereka ketika ada kegiatan event antar sekolah maka ini yang akan menjadi sangat rentan. Anak-anak remaja jika telah mengelompok akan merasa besar.

"Gesekan antar kelompok sekolah yang sangat mengkhawatirkan terjadi jika sistem zonasi PPDB diberlakukan," katanya.

Dirinya menyampaikan saat ini pemerintah tengah menggagungkan indahnya hidup bersama dengan orang yang berbeda-beda. Namun dalam sistem zonasi PPDB hal tersebut menurutnya mustahil akan bisa terwujud. Ia berharap konflik sosial yang akan terjadi bisa ditanggulangi oleh pemerintah.

Lebih lanjut Rustam menambah sangat miris ketika di zaman millenial masyarakat masih dipertontonkan dengan orang yang seperti mengantri sembako ketika ingin memasukkan anaknya sekolah. Seharusnya pendidikan Indonesia telah bergerak jauh. Tidak lagi berbicara persoalan susahnya dalam menyekolahkan anak.

Dengan sistem zonasi PPDB Indonesia tenaga mengalami kemunduran dalam dunia pendidikan. Rekrutmen siswa dari SD hingga SMA seperti kompetisi. Seharusnya ada sebuah kebijakan dari pemerintah yang betul-betul bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

"Dewan pendidikan, dinas pendidikan semoga melek dengan gejolak yang terjadi," ucapnya

Disisi lainnya sistem zonasi PPDB justru akan berdampak baik bagi sekolah swasta. Namun tidak dipungkiri bagi masyarakat yang kurang mampu akan sangat berat jika harus menyekolahkan anaknya disekolah swasta. Dan hal tersebut harus juga menjadi perhatian pemerintah dengan memberikan bantuan untuk masyarakat disekolah swasta.

Penulis: Anggita Putri
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved