Camat Sajingan Besar Akan Mendata Orang Asing Masuk di Wilayahnya, Gunakan Cara-cara Ini

ia memastikan akan terus memantau aktivitas WNA yang ada di wilayahnya. Dan selalu meminta laporan berkala dari pada Kades dan lainnya.

Camat Sajingan Besar Akan Mendata Orang Asing Masuk di Wilayahnya, Gunakan Cara-cara Ini
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/M WAWAN GUNAWAN
Camat Sajingan Besar, Supriadi, Kamis (27/6/2019). 

Camat Sajingan Besar Akan Mendata Orang Asing Masuk di Wilayahnya, Gunakan Cara-cara Ini

SAMBAS - Camat Sajingan Besar, Supriadi yang hadir dalam kegiatan  Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) tingkat Kecamatan di Kabupaten Sambas, Kantor Imigrasi Kelas II Sambas, mengatakan pihaknya melakukan pendataan secara berjenjang. 

"Orang asing yang masuk ke Sambas, Khususnya di Sajingan Besar. Kita itu meminta laporan dari RT, Dusun, Desa dan baru Kecamatan. Ada yang secara lisan, maupun tertulis karena kita tidak sampai ke sana," ungkapnya, Kamis (27/6/2019) di Hotel Sambas Trigas.

Meskipun diatur dalam PP No 17 Tahun 2018, pada pasal 12 ada tugas tambahan bagi camat perbatasan. Khususnya di bidang keimigrasian, kekarantinaan. 

Namun menurut Supardi itu belum di definisikan dalam bentuk petunjuk pelaksanaan.

Baca: Ganda Samosir: Rakor Timpora Bahas Pengawasan WNA dan Pencegahan Praktik Kawin Kontrak

Baca: Imigrasi Kelas II Sambas Laksanakan Rapat Koordinasi Timpora di Kabupaten Sambas

Ia menjelaskan, di Sajingan sendiri ada kurang lebih 97 Kilometer jalur yang berbatasan langsung dengan negara Tetangga. 

Sehingga perlu perhatian khusus untuk mengawasinya. Dan itu bukan hanya dari imigrasi, tapi harus bersama-sama. Namun perlu penegasan untuk itu, terkait siapa yang lebih berwenang. 

"Berkenaan dengan yang ada di Sajingan saat ini ada 97 Kilometer batas negara yang berada di wilayah Kabupaten Sambas. Dengan 311 patok di Kecamatan Paloh, dan 381 di Kecamatan Sajingan. Ini ada lebih dari 20 jalan tikus yang ada mesti di awasi," jelasnya. 

"Jadi ini perlu di tegaskan, apakah di perbatasan seperti itu hanya imigrasi, atau pamtas ataupun kita Pemda. Jadi kami kurang memahami itu, ini batu di Sambas belum di daerah lainnya," sambung Supriadi.

Baca: Bentuk Tim Pengawasan Orang Asing di Kalbar, Ini Penjelasan Kepala Imigrasi Kelas I TPI Pontianak

Baca: Warga Tiongkok Masih Dominasi WNA Terbanyak di Kalbar

Namun demikian, ia memastikan akan terus memantau aktivitas WNA yang ada di wilayahnya. Dan selalu meminta laporan berkala dari pada Kades dan lainnya. 

"Pada intinya kita di Sajingan Besar pasti selalu memantau hal ini, tapi bukan berarti tidak ada yang luput dari pantauan, pasti ada. Tapi itupun kasuistis," bebernya. 

"Karena yang ada di biawak itu WNA Malaysia yang di biawak itu bukan hanya satu etnis yang sama dengan etnis yang ada di Sajingan. Bahkan sub-etnis nya pun sama dengan yang di Sajingan, sama-sama Dayak, dari sub-etnis Salako, dengan bahasa Badamea. Jadi ada pamannya di Malaysia ponakan di Sajingan dan lain sebagainya," ungkap Supriadi.

Baca: Lebih Dari 50 Orang, Ikuti Program Bhakti Kesehatan Polres Sambas

Saat di konfirmasi apakah ada WNA asing yang sering keluar masuk melalui Sajingan Besar. Ia katakan ada, akan tetapi untuk saat ini masih di nominasi oleh WNA dari negara tetangga Malaysia. 

"Kalau pada umumnya ya WNA Malaysia ya yang masuk di Sajingan. Itu dari Desa sebelah, kalau di mereka itu Distrik," tutupnya. 

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved