Stres Tak Bisa Masuk SMA Negeri Karena Zonasi, Calon Siswa Kurung Diri Dikamar dan Tak Mau Makan

Puluhan orangtua calon siswa di Pontianak mendatangi DPRD Provinsi Kalbar guna mengadukan nasib anaknya yang tidak bisa masuk SMA

Stres Tak Bisa Masuk SMA Negeri Karena Zonasi, Calon Siswa Kurung Diri Dikamar dan Tak Mau Makan
TRIBUNPONTIANAK/Destriadi Yunas Yumasani
Suasana penerimaan siswa didik baru (PPDB) 2019 melalui sistem zonasi dan jalur prestasi di SMA Negeri 1 Pontianak, Jalan Kalimantan, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (24/6/2019) siang. Calon peserta didik beserta orangtua dibantu operator dari pihak sekolah menggunakan Google Maps dalam mengecek zonasi calon peserta didik. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

Stres Tak Bisa Masuk SMA Negeri Karena Zonasi, Calon Siswa Kurung Diri Dikamar dan Tak Mau Makan

PONTIANAK - Puluhan orangtua calon siswa di Pontianak mendatangi DPRD Provinsi Kalbar guna mengadukan nasib anaknya yang tidak bisa masuk SMA Negeri di Pontianak lantaram terbentur aturan sistem zonasi yang diterapkan.

Satu diantara perwakilan masyarakat yang datang, inisial KG yang tinggal di Sungai Beliung Pontianak Barat menjelaskan bahwa cucunya hingga stres dan prustasi lantara tidak bisa masuk SMA negeri yang ada.

KG menceritakan bahwa cucunya sudah tidak hari mengurung dirinya dikamar dan tidak mau makan karena prustasi tidak bisa masuk SMA negeri.

Jangan di SMA yang lainnya, KG menjelaskan untuk di SMA 2 saja cucunya tidak bisa masuk lantatan jarak antara rumah dan sekolah memang sekitar 3 kilometer lebih.

Baca: Peringati Hari Anti Narkoba, BNN Ajak Masyarakat Perangi Penggunaan Narkotika

Baca: PSM Makassar Gagal Lolos ke Final Zona ASEAN Piala AFC 2019 Meski Menang 2-1 atas Becamex

Baca: Hasil Liga 2 Rabu (26/6/2019) - Mitra Kukar Vs PSIM Yogyakarta dan Persik Kediri Vs Martapura FC

"Cucu saya sudah tiga hari tidak mau keluar kamar, dia stress karena tidak bisa masuk SMA negeri, sedangkan nilainya bagus rata-rata diatas delapan," ucapnya saat diwawancarai setelah mengadu pada DPRD yang diterima oleh, Zulkarnain Siregar, Ermin Alviani dan Mad Nawir, Rabu (26/6/2019).

Ia menceritakan bahwa cucunya semakin drop saat banyak teman-temannya mengejek bahwa percuma nilai tinggi tapi tidak bisa masuk SMA negeri. Lebih baik bodoh tapi dekat dengan sekolah dan pasti diterima.

"Teman-temannya mengejek, kalau percuma nilai bagus itu membuat cucu saya semakin stress dan tiga hari tidak mau makan itukan mau bunuh diri," ucap KG memperjuangkan pendidikan cucunya.

Ia menceritakan, di Pontianak Barat hanya ada satu SMA negeri, padahal penduduknya paling banyak. Maka banyak masyarakat tidak bisa masuk sekolah karena terhambat zonasi.

Oranglua lainnya, Diki Sugianto (45) warga Sungai Raya Dalam Kecamatan Pontianak Tenggara, mengatakan didaerahnya tidak ada sekolah yang bisa menjadi pilihan.

Pada sistem zonasi anaknya memilih SMA 1, SMA 3 dan SMA 7 Pontianak. Pada hari pertama saja menurutnya untuk pilihan ketiga yakni SMA 7 Pontianak anaknya sudah tidak bisa masuk.

"Kalau kami di Tenggara ini mau daftar dimana, mana ada sekolah negeri disini. Jadi mau dibiarkan tidak sekolah," ucapnya.

Apabila menggunakan sistem zonasi berdasarkan jarak rumah yang berdasarkan KK atau KTP untuk wilayah Pontianak Tenggara ia menegaskan sama sekali tidak memiliki SMA yang bisa di masuki.

"Jadi jika tidak terpilih di SMA pilihan apakah harus tidak sekolah selama satu tahun," pungkasnya.

Penulis: Syahroni
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved