Rebutan Kursi Sistem Zonasi, Siswa Antre Pukul 05.00

Tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu yang berebut-rebut. Kalau ini sudah terprogram dari sekolah, mulai dari nomor antrean dan pengisian data

Rebutan Kursi Sistem Zonasi, Siswa Antre Pukul 05.00
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Antusias Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) hari pertama di SMAN 9 Pontianak begitu ramai dan tertib, Senin (24/5/2019). 

Rebutan Kursi Sistem Zonasi, Siswa Antre Pukul 05.00 

PONTIANAK - Siswa dan orantuanya rela mengantre sejak subuh di SMAN 1 Pontianak agar bisa lolos pada Penerimaan Perserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi, Senin (24/6). Orangtua dan siswa berlomba datang lebih awal, padahal loket pendaftaran baru dibuka pukul 08.00 WIB.

Rahma Tauhida (14) dan ibunya Lili (49) datang ke SMAN 1 datang pukul 05.00. Meski datang pukul 05.00, keduanya mendapatkan nomor antrean 94. Pada hari pertama PPDB di SMAN 1 Pontianak, panitia menyiapkan lebih dari 700 nomor antrean.

"Takutnya dapatnya siang atau malah besok pagi lagi," ungkap Lili pada Tribun. Usai mendapat nomor antrean, Lili dan anaknya masuk ruangan verifikasi data. Siswa kemudian harus mengisi formulir yang disediakan panitia. Usai mengisi formulir, dilakukan proses input data. Lili dan sang anak mendapat urutan ke 55 input data.

Lili mengaku tak ada kesulitan saat mengisi formulir dan verifikasi data. Sebelumnya, ia sudah dapat informasi dari guru dan grup WhatsApp.

"Tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu yang berebut-rebut. Kalau ini sudah terprogram dari sekolah, mulai dari nomor antrean dan pengisian data," terangnya.

Baca: Dengan Adanya Sertifikat Halal, Diharapkan dapat Meningkatkan Penjualan

Baca: Terbentur Regulasi, Sutarmidji Tetap Bangun Sekolah Unggulan

Ia juga tak menghadapi kendala terkait persyaratan. Semua persyaratan sudah dipersiapkan sejak jauh hari. Rahma Tauhida, memilih SMAN 1 Pontianak karena jaranya dekat dengan rumah.

"Anak saya ikut jalur zonasi alamat tinggalnya di Jl Sepakat Untan. Anak saya ambil pilihan di SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Pontianak dan SMAN 7 Pontianak,” jelasnya.

Saat ditemui Tribun, Rahma Tauhida memang menjatuhkan pilihannya di SMAN 1 Pontianak. Alumnus SMPN 3 Pontianak ikut antre bersama ibunya sejak pukul 05.00.

Menurutnya, banyak teman sekelasnya yang mendapat nomor antrean besar karena datang siang.

Menurut Rahma, belum ada kendala yang dihadapi. Ia tinggal menunggu penggumuman melalui website untuk mengetahui di sekolah mana ia diterima. Ada tiga sekolah yang Rahma pilih yakni SMAN 1 Pontianak sebagai pilihan utama, SMAN 3 Pontianak, dan SMAN 7 Pontianak.

"Karena antre dari pagi, jadi tidak terlalu lama. Soalnya masuk ruang verifikasi bentar tidak terlalu lama," ujarnya.

Melalui jalur zonasi ini, siswa bisa memilih tiga sekolah yang diinginkan. Sementara itu ada juga jalur prestasi dan perpindahan orangtua yang hanya bisa memilih satu sekolah saja.

Khusu untuk jalur berprestasi, hanya bisa menginput satu penghargaan saja. Namun, bagi siswa pemegang predikat juara UN tingkat kabupaten/kota dan melalui jalur prestasi bisa menginput keterangan nilai UN tertinggi dan penghargaan bidang non akademis.

Syarat Kurang
Kurangnya persyaratan membuat Lina, orangtua siswa harus meninggalkan meja pendaftaran. Perempuan yang mengatar anaknya mendaftar di SMAN 1 Pontianak ini tak melengkapi syarat legalisir akta kelahiran.

"Pada persyaratan tidak ada keterangan bahwa akta harus dilegaliisir. Jadi harus dilegalisir ke Capil lagi. Sebelumnya tidak diberitahu. Jadi bingung dan harus bolak balik," keluhnya.

Lina mengungkapkan, informasi terkait persyaratan yang ia terima dari setiap sekolah yang menjadi sekolah pilihan anak berbeda-beda.

Kebingungan dan kekurangan persyaratan juga dirasakan Raihana (14). Alumnus SMPN 1 Pontianak ini mengantre bersama ibunya sejak pukul 06.00.

"Saya bingung gimana caranya ambil nomor antrean. Selain itu banyak persyaratan saya yang kurang. Ibu harus bolak balik rumah, sekolah, dan kantor Capil untuk minta legalisir. Masih kurang ngerti cara mendaftarnya," keluh Raihana.

Baca: Sutarmidji Diagendakan Lantik Pejabat Struktural Hari Ini

Saat mengisi data, Raihana mengaku perlu dampingi orangtua. "Tadi mama berlari pergi untuk ambil akte dan harus dilegalisir ke Capil lagi. Sebenarnya sudah lima bulan lalu aktenya di legalisir tapi belum selesai lagi dan baru bisa diambil sekarang," ujarnya.

Meski datang pukul 06.00, Raihana dan ibunda mendapat nomor antrean 561. Diakuinya, sistem zonasi ini lebih sulit. Saat masuk SMP dulu, kata Raihana, menggunakan nilai dan lebih mudah.

“Lebih enak. Kalau jalur zonasi orang pada berebut dapat tempat paling atas. Zonasi bukan sistem yang pas dan kurang mendukung,“ katanya.

Raihana yang tinggal di Jl Profesor M Yamin ini memilih tiga sekolah yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Pontianak dan SMAN 4 Pontianak.

Humas PPDB SMA N 1 Pontianak Aris Widodo menjelaskan, SMAN 1 Pontianak mengeluarkan 700 lebih nomor antrean sejak pukul 08.00 hingga 10.00. Panitia bahkan kehabisan nomor antrean.

"Kami akan tetap menampung berapapun peserta yang ingin mendaftar dan mengikuti aturan pembukaan untuk PPDB yang dimulai 24 sampai 26 Juni dari pukul 08.00 -14.00," ujar Aris.

Ada ratusan siswa yang memilih jalur zonasi. Sementara untuk jalur mutasi dan prestasi baru puluhan siswa yang mendaftar.

Aris mengatakan, daya tampung SMAN 1 Pontianak 417 siswa . Pihaknya menjalankan proses pendaftaran secara transparan dan fleksibel. Orangtua menyaksikan langsung proses input data dan menentukan koordinat tempat tinggal.

Diakuinya, antusiasme orangtua dan siswa sangat besar. "Sebelum jam 6 pagi antrean sudah ramai hingga ratusan orang memenuhi depan pagar. Pengambilan formulir pukul 08.00, tetapi pembagian nomor antrean pukul 07.00 melihat antusias peserta dan orangtua," pungkasnya.

Sempat Berdesakan
Antusiasme orangtua dan siswa juga terlihat di SMA N 7 Pontianak. Orangtua yang ditemui Tribun mengaku kesal lantaran antrean tak teratur. Kekesalan ini disampaikan Yulianti, satu di antara orangtua siswa.

"Kekurangan persyaratan juga menjadi penghambat. "Tadi yang masuk pertama tidak pakai fotokopi KTP, sekarang malah pakai," ucapnya.

Menurutnya, jumlah pendaftar sangat ramai namun hanya ada satu loket pendaftaran.

"Saya kurang KK sebutik dan bingung juga mau pakai zona atau prestasi. Kalau jalur prestasi hanya satu pilihan sekolah sedangkan zonasi ada tiga pilihan," tambahnya.

Kepala SMAN 7 Pontianak Karjana mengakui tingginya antusias peserta pada hari pertama PPDB. Ada sekitar 200 siswa yang mendaftar.

"Karena penerapan zonasi murni baru kali ini. Mungkin orangtua penasaran. Kita lakukan sosialisaai melalui pengumuman supaya masyarakat tahu dan tidak ada kesalahan," ujarnya.

Sistem pendaftran yang diberlakukan juga sama dengan sekolah lain yaitu melalui antrean terlebih dahulu. Menurutnya, ada beberapa orangtua yang datang duluan supaya lebih dulu mendaftar. Padahal, jalur zonasi mempertimbangkan jarak bukan siapa yang dulu mendaftar.

Diakuinya, ada beberapa orangtua yang terkendala pada Kartu Keluarga. Padahal sebelumnya sudah diberitahukan sesuai Juknis harus 1 tahun KK domisili untuk mengikuti jalur perpindahan orangtua.

"Setiap jalur persyaratannya ada yang sama dan berbeda. Ada surat keterangan kelulusan dan nilai ujian, serta akte lahir," ujarnya.

Ia mengatakan kalau jalur prestasi harus ditambah dengan sertifikat dicabang tertentu oleh lembaga atau pihak lembaga yang telah bekerja sama dengan pemerintah secara resmi.

"Kalau sifatnya beregu didalam piagam tidak ada namanya harus meminta keterangan surat berprestasi dari sekolah asal," ujarnya.

Sedangkan untuk siswa yang masuk 10 besar nilai UN tertinggi harus melampirkan surat atau sertifikat dari kepala dinas kabupaten/ kota. Begitu juga dengan prestasi di lomba lainnya juga harus dilampirkan.

Untuk perpindahan orang tua atau wali juga harus dilampirkan KK disamping surat kelulusan dan nilai siswa. KK dilampirkan gunanya untuk mengetahui apakah siswa tersebut betul masuk dalam KK tersebut.

Kalau zonasi menggunakan KK mengukur jarak dengan menggunakan Google Maps. Sejak awal sudah dibuat pernyataan untuk siap menggunakan Google Maps. Kemudian sistem memunculkan secara otomatis jarak rumah dan sekolah.

Terkait antrean, ia memastikan sudah menyediakan nomor antrean. Namun, ada beberapa orangtua yang belum dapat nomor antrean karena belum mengisi formulir pendaftaran dan surat pernyataan.
Setelah mengisi formulir dan verifikasi, jelasnya, baru diberikan nomor antrean.

"Sejauh ini keluhan mengenai sistem belum ada tapi keluhan dari mayarakat ada dan banyak yang mengatakan memang sistem manual yang dulu lebih bagus dan jelas memilih sekolahnya. Kalau ini hanya memilih tiga sekolah saja," ujarnya.

Wakil Ketua PPDB SMAN 7 Pontianak Ali Romlon memastikan pendaftaran berjalan lancar.

"Terkait pendaftar yang tidak diberi nomor antrean. Pertama kita berikan informasi formulir, waktu dan tempat untuk mengisi formulir. Setelah mengisi formulir baru verifikasi awal dan kita kasi nomor antrean untuk verifikasi online menentukan zonasinya," ujarnya.

Akibat banyak orangtua yang belum mengisi formulir tapi ikut antre, maka terjadilah desak-desakan. Setelah diinformasi terkait mekanisme, lanjutnya, barulah orangtua paham.

"Alhamdulillah akhirnya tidak berdesakan dan kami tambah menjadi dua jalur. Awalnya hanya satu jalur saja. Makanya sebelum jam 12 sudah selesai untuk tahap pertama," ujarnya.

SMAN 7 Pontianak memiliki daya tampung 8 kelas dengan jumlah siswa 280orang. Pendaftaran dibuka mulai dari pukul 08.00 sampai 14.00 WIB. Siswa yang mendaftar untuk hari pertama di SMA N 7 Pontianak banyak melalui jalur zonasi. Sedangkan jalur prestasi dan mutasi tidak sebanyak zonasi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar Suprianus Herman memastikan tak ada kendala pada hari pertama PPDB. "Sampai saat ini belum ada kendala yang bisa mengganggu jalannya PPDB," ucap Suprianus Herman.

Menurutnya, ada beberapa pertanyaan orangtua terkait penerapan sistem zonasi. Namun, pihaknya dapat memberikan penjelasan dan pengertian pada mereka.

Ada pula laporan terkait batas kabupaten. Kadisdik menyatakan, PPDB zonasi tidak kaku dan tidak terikat batas administrasi antar kabupaten.

"Sore ini saya sudah minta ketua PPDB untuk mengumpulkan kepala SMAN se-Kota Pontianak untuk menyamakan persepsi," tegasnya. 

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved