Kantor Sempat Disegel, Managemen PT PI Siap Penuhi Tuntutan Masyarakat

Managemen PT Putra Indotrovikal (PI) anak perusahaan Wilmar Group, siap memenuhi permintaan petani plasma yakni menuntut gaji yang sempat tertunda

Kantor Sempat Disegel, Managemen PT PI Siap Penuhi Tuntutan Masyarakat
TRIBUNPONTIANAK/Alfon Pardosi
Humas PT Wilmar Landak-Sanggau Gregorius Uus 

Kantor Sempat Disegel, Managemen PT PI Siap Penuhi Tuntutan Masyarakat

LANDAK - Managemen PT Putra Indotrovikal (PI) anak perusahaan Wilmar Group, siap memenuhi permintaan petani plasma yakni menuntut pembayaran Tandan Buah Segar (TBS) yang sempat tertunda.

Sebelumnya, puluhan petani plasma PT PI menyegel kantor perusahaan yang berada di Desa Sungai Keli, Kecamatan Ngabang pada Senin (17/6/2019). Penyegelan kantor pun dilaksanakan dengan ritual adat.

"Besok kita penuhi tuntutan petani plasma terkait pembayaran TBS, duit sudah ada dan akan kita bawa," ujar Humas PT Wilmar Landak-Sangau Gregorius Uus ketika dihubunggi Tribun pada Selasa (18/6/2019).

Baca: TERPOPULER- Mahasiswi UNS Asal Kalbar Tewas, Sindikat Narkotika Jalur Laut, hingga Ibukota Indonesia

Baca: Kalbar 24 Jam - Sutarmidji Ancam Cabut Izin Praktek Dokter, Mahasiswi Tewas, hingga Nikah Siri

Baca: BREAKING NEWS: Pedagang Apam Pinang Ditemukan Meninggal di Parit Sungai Jawi

Uus juga meluruskan tuntutan petani plasma yang mengklaim bahwa pembayaran TBS tidak dibayarkan selama tiga bulan, dan sempat diberitakan Tribun sebelumnya.

"Kalau perhitungan mereka itu benar, lahan plasma sudah dikembalikan ke perusahaan pada bulan Maret kemarin. Tapi kita mulai panen itu pada tanggal 2 Mei," katanya.

Dengan demikian, pembayaran TBS yang akan dibayarkan yakni satu bulan. "Jadi dari bulan Maret sampai April kemarin kita itu bolak balik mengadakan rapat di Dinas Perkebunan. Serta mempersiapkan segala sesuatunya, bukan langsung panen," jelasnya.

Sehingga, sesuai dengan jadwal panen maka akan dibayarkan selama satu bulan. "Mereka juga tau itu kok, mereka yang panen dan mereka juga yang angkut. Mau bayar pakai apa kita kalau tiga bulan, karena yang dipanen satu bulan," bebernya.

Uus juga menyampaikan, pembayaran TBS tersebut sebenarnya memang sudah ada dipersiapkan dan siap dibagikan. Tetapi petani plasma sudah tidak sabar sehingga melakukan penyegelan.

"Jadi karena penyegelan dilakukan dengan adat, kita juga akan buka nanti dengan adat. Kita dari perusahaan yang akan tanggung biaya adat itu," tambahnya.

Berikutnya terkait dengan tuntutan petani plasma yang juga meminta agar lahan mereka dikembalikan lagi ke petani. Uus menerangkan itu bisa saja dilakukan, namun harus duduk bersama dulu dan ada hitam di atas putih.

"Dari tahun 2014 hingga 2019 lahan itu mereka yang kuasai, pada bulan Maret kemarin baru mereka kembalikan. Kalau mereka minta ditarik kembali silahkan, asal mereka sanggup mengurus," ungkapnya.

Tetapi hal itu pun harus didudukkan bersama, rapat dengan Dinas Perekebunan dan instansi terkait. "Jadi tidak bisa diserahkan begitu saja, harus ada mekanisme dan prosesnya," katanya lagi.

Namun pada intinya, Uus menegaskan pihak managemen perusahaan akan segera memenuhi hak para petani yakni pembayaran gaji itu.

"Harapan kita ke depannya, para petani plasma tidak ada lagi panen masal atau melakukan hal-hal yang menghambat operasional kebun," pungkasnya

Penulis: Alfon Pardosi
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved