Pilpres 2019

Hargai Proses Sidang Pilpres di MK, Bupati Jarot: Apapun Hasilnya Kita Harus Terima

Proses Persidangan sengketa Pemilu Presiden 2019 atas dugaan kecurangan-kecurangan yang disampaikan BPN Prabowo-Sandi

Hargai Proses Sidang Pilpres di MK, Bupati Jarot: Apapun Hasilnya Kita Harus Terima
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/WAHIDIN
Bupati Sintang Jarot Winarno pada kegiatan Open House dan Halal Bihalal yang dihelat di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Sintang, Jalan Pembangunan, Kabupaten Sintang, Senin (17/6/2019) pagi. 

Hargai Proses Sidang Pilpres di MK, Bupati Jarot: Apapun Hasilnya Kita Harus Terima

SINTANG - Proses Persidangan sengketa Pemilu Presiden 2019 atas dugaan kecurangan-kecurangan yang disampaikan BPN Prabowo-Sandi kini tengah berlangsung di Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai sebuah proses secara konstitusional.

Menanggapi proses yang masih berlangsung, Bupati Sintang Jarot Winarno meminta kepada masyarakat Sintang khususnya mempercayai proses peradilan sengketa Pilpres yang saat ini tengah berjalan di Mahkamah Konstitusi.

Hal ini disampaikan Bupati Jarot di sela-sela kegiatan Open House dan Halal Bihalal yang dihelat di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Sintang, Jalan Pembangunan, Kabupaten Sintang, Senin (17/6/2019) pagi.

"Saya minta begini, kita ini kan negara hukum dan sangat percaya dengan Mahkamah Konstitusi yang memutuskan. Apapun hasilnya, saya mengimbau masyarakat Sintang dapat menerima seutuhnya keputusan di MK," katanya.

Baca: 14 Kambing Mati Terbakar, Iyus Rugi Puluhan Juta

Baca: Benarkah Setiap Manusia Miliki Kanker di Dalam Tubuhnya!

Baca: Bupati Landak Sampaikan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun 2018 Kepada DPRD

Menurutnya inilah puncak dari perjuangan secara konstitusi yang dilakukan. Apapun hasilnya, siapa yang kalah dan siapa yang menang harus diterima dengan lapang dada dan pembangunan harus dapat berjalan terus.

"Ngapain kita ribut-ribut, pembangunan harus jalan terus. Kalau di Sintang, kita biasa terjadi selisih paham terhadap suatu hal, namun kita dapat menahan diri. Apalagi kita baru saja merayakan Idul Fitri," jelasnya.

"Perbanyaklah dialog, berbeda pendapat boleh tetapi yang tidak boleh itu adalah ujaran kebencian yang bisa memutus silaturahim. Tetapi kalau pun cuma debat-debat silahkan, asalkan jangan sampai ribut," pungkasnya.

Penulis: Wahidin
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved