Gelar Halalbihalal dan Dzikir Kebangsaan, Syarif: Kekacauan Bermula dari Penyakit Hati

acara syukuran untuk kemenangan bangsa yang telah berhasil melewati gawai besar Pilpres dan Pileg serentak yang relatif aman

Gelar Halalbihalal dan Dzikir Kebangsaan, Syarif: Kekacauan Bermula dari Penyakit Hati
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Acara syukuran dan dzikir kebangsaan ini ditutup dengan pemotongan tumpeng dan foto bersama. 

Masih tentang penyakit hati, Syarif mengutip ayat al-Quran di surat Azzumar/43:36-37, bahwa “Barang siapa yang lalai dzikir atau mengingat Tuhan Kami tancapkan setan di hatinya dan setan itu menjadi teman dekatnya. Sesunggunya setan itu akan menghalangi mereka dari jalan kebenaran, dan (mereka yang demikian itu) mengira bahwa mereka mendapat petunjuk”.

Seseorang yang hatinya telah dihinggapi setan selalu merasa benar sendiri. Mereka sedang memaki orang lain, sedang memfitnah, sedang mengadu-domba, sedang merencanakan makar, sedang menipu, dan seterusnya, tapi mereka mengira perbuatan mereka itu justru untuk menegakkan kebenaran.

Seperti ditegaskan dalam surat Al-Baqarah “Jika dikatakan kepada mereka jangan melakukan kerusakan di muka bumi, mereka menjawab justru kami orang-orang yang melakukan kebaikan”.

Mengakhiri taushiyahnya, Syarif menekankan bahwa syukuran dan dzikir ini diadakan untuk kemenangan semua bangsa Indonesia yang telah memenangkan NKRI dalam perhelatan akbar nasional yang baru saja berlalu.

"Alhamdulillah pesta demokrasi kita secara nasional berjalan lancar dan aman. Walaupun ada sedikit riak-riak tapi dapat segera diatasi atas kerjasama POLRI dan TNI. Kemudian kita ingin menegaskan rasa syukur kita, karena negeri kita ini yang terdiri dari tidak kurang dari 714 suku, bangsa dan bahasa, lebih dari 17.500 pulau, sampai hari ini tetap utuh sebagai bangsa dan Negara Kesatuan RI. Artinya kita sangat patut bersyukur kepada Allah karena kita dikarunia ketangguhan sebagai bangsa dalam berkesadaran untuk keutuhan NKRI. Sebagai wujud syukur itu, kita tidak boleh ambigu dalam berbangsa dan bernegara tidak boleh semaunya. Pada satu sisi negara dan pemerintah kita butuhkan, tapi pada satu sisi lagi negara dan pemerintah dihujat dan dimakari, itu namanya ambigu, itu bisa jatuh ke sifat munafik," ungkapnya.

Penulis: Anggita Putri
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved