Polemik PR Bagi Dunia Pendidikan, Bagaimana Tanggapan Gubernur Kalbar

Beragama warna dunia pendidikan di Indonesia kian terus dipantau oleh pemerintah. Banyak yang menyadari bahwa dunia pendidikan kini

TRIBUNPONTIANAK/Anesh Viduka
Gubernur Kalimantan Barat,Sutarmidji diwawancarai awak media usai rapat Paripurna DPRD Provinsi Kalimantan Barat ke-25 masa persidangan ke-III tahun sidang 2019, di gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (13/6/2019). Rapat ini beragendakan Penyampaian jawaban Gubernur Kalimantan Barat atas pemandangan umum fraksi-fraksi DPRD Provinsi Kalimantan Barat terhadap nota penjelasan Gubernur Kalimantan Barat terhadap raperda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Provinsi Kalimantan Barat tahun anggaran 2018. TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA 

Polemik PR Bagi Dunia Pendidikan, Bagaimana Tanggapan Gubernur Kalbar

PONTIANAK - Beragama warna dunia pendidikan di Indonesia kian terus dipantau oleh pemerintah. Banyak yang menyadari bahwa dunia pendidikan kini semakin tertinggal karena berbagai rintangan dan hambatan yang menginspirasi beberapa daerah di pedalaman.

Tidak lepas dari itu saja, bagi setiap siswa di perkotaan kini banyak di prioritaskan dengan banyaknya kegiatan ekstra kulikuler. Hal ini banyak menjadikan mereka jenuh dan gelisah setiap kali disuruh belajar di rumah oleh orangtuanya.

Setelah belajar dengan waktu satu Minggu full, ditambah tugas pekerjaan rumah (PR) serta tugas dari kegiatan ekstra kulikuler diluar sekolah.

Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji dulu pernah melarang guru untuk memberikan PR. Hal itu diketahui saat ia masih menjabat sebagai Walikota Pontianak.

Baca: Heboh, Ditemukan Dua Jenis Narkoba Tak Bertuan di Bandara Supadio

Baca: Mau Nonton Film di Malam Minggu, Ini Daftar Film yang Diputar di Bioskop Pontianak

Baca: Ketua Forum Pemuda Melayu Mempawah Imbau Masyarakat Tidak Terprovokasi Jelang Sidang PHPU

Aksinya yang melawan arus dunia pendidikan itu bukan karena tanpa alasan. Seperti dilansir oleh Tribun Pontianak, Mantan Walikota Pontianak itupun melarang guru untuk memberikan beban pe-er kepada murid-muridnya.

Walupun terkadang pe-er bisa menjadi ajang menyontek massal di pagi hari. Ah, pe-er memang jadi polemik tersendiri bagi anak sekolahan.

Tapi bila larangan mantan walikota Pontianak ini benar dilakukan, tentu akan jadi alternatif baru untuk metode pendidikan saat ini ya.

Berikut Alasan Mantan Walikota Pontianak Sutarmidji melarang gurunya memberikan Pe-er, simak yuk!

Menurut Pak Sutarmidji, pe-er akan menyita waktu siswa bersama keluarganya. Guru yang memberikan banyak pe-er kepada siswa bisa dibilang malas atau kurang bijak metode mengajarnya.

Halaman
12
Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved