Sindikat Kawin Kontrak

BREAKING NEWS - Polda Kalbar Bongkar Sindikat Kawin Kontrak, Enam Pria Satu Wanita

Baru-baru ini, sebanyak 7 orang terkait dengan adanya dugaan sindikat perdagangan orang dengan modus kawin kontrak dengan warga negara asing.

BREAKING NEWS - Polda Kalbar Bongkar Sindikat Kawin Kontrak, Enam Pria Satu Wanita
KOMPAS.com/HENDRA CIPTA
BREAKING NEWS - Polda Kalbar Bongkar Sindikat Kawin Kontrak, Enam Pria Satu Wanita 

Bahkan terlihat juga di beberapa kesempatan, DW tampak asyik melakukan siaran langsung di akun media sosial Facebook-nya yang menunjukkan suasana kehangatan bersama keluarga.

Saat DW kembali ke Indonesia 28 Maret dan 31 Maret 2019 tiba di Pontianak, sang ayah sedang di rawat di ruang Paru RSUD Soedarso.

Namun setelah kembalinya sang putri, sang ayah kini telah lebih baik, dan ia tak lagi dirawat di rumah sakit.

"Bapak sudah keluar, kondisinya sudah membaik, sekarang sudah sehat," kata DW.

Ia mengungkapkan, saat ini dirinya sibuk mengurusi rumah dan keluarga, sembari mencari pekerjaan di Kota Pontianak.

"Sekarang si ndak sibuk apa-apa, masih di rumah aja, sama lagi nyari kerja," katanya.

DW merasa sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.

"Ndak bisa diungkapin lah bahagianya, bahagia sekali bisa kumpul lagi sama keluarga di sini," kataya.

TARIF Kawin Kontrak Gadis Belia Pontianak Rp 25-40 Juta

Seorang ayah bernama Atu (60) dan istrinya Cong Mi Tjau (45), warga Jl Kebangkitan Nasional, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara hanya bisa pasrah.

Ia tak tahu seperti apa nasib putri kesayangannya DW (17) di Tiongkok.

Ju ikut dengan suaminya ke Tiongkok sejak menikah pada 2018.

Kabar yang ia terima, sang anak berada di kantor polisi.

Sang anak kerap dianiaya suaminya Cheng Liu Yang yang merupakan warga negara Republik Rakyat Tiongkok.

Atu dan Mi Tjau terus berdoa agar putrinya diberikan Tuhan kesehatan sehingga dapat segera kembali ke Indonesia dalam keadaan baik-baik saja.

Mi Tjau mengatakan, anaknya ditahan polisi lantaran visa izin tinggalnya habis.

Selain itu tak ada dokumen resmi yang dimiliki Ju, termasuk dokumen pernikahan dengan Cheng Liu Yang.

"Dia ditahan sebelum Imlek kemarin. Tiga hari ditahan dia ada ngasi kabar. Mak comblangnya ada jenguk dan nelepon ngasikan kabar ke saya, tapi habis itu sampai sekarang ndak ada kabarnya. HP-nya ditahan sama polisi," ungkap Mi Tjau kepada Tribun ditemui di rumahnya, Jumat (15/3/2019).

Aksi Mak Comblang

Kawasan RW 28, Jalan Kebangkitan Nasional, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi satu di antara daerah yang kerap kedatangan mak comblang.

Mereka membawa pria asal Taiwan dan Tiongkok untuk mencari istri di Kalbar.

Dari penelusuran Tribunpontianak.co.id, ada harga mahal yang harus dibayar oleh WNA Tiongkok atau Taiwan saat hendak mempersunting warga Pontianak ini.

Pihak keluarga si gadis akan menerima uang mahar Rp 25 juta hingga Rp 40 juta.

Pria asal Tiongkok dan Taiwan juga menyasar remaja berusia 15-17 tahun.

Saat mengurus dokumen seperti paspor, nama si gadis sengaja diganti.

Ada tiga mak comblang yang kerap beraksi di wilayah Pontianak.

Dua berasal dari Jakarta dan seorang berasal dari Tiongkok.

Ju merupakan satu di antara remaja asal Pontianak yang menikah dengan warga Tiongkok atas prakarsa mak comblang.

Mak comblang ini yang mempertemukan Ju dengan warga Tiongkok.

Keluarga juga menerima sejumlah uang dari pria asal Tiongkok ini.

Sebelum pernikahan dilangsungkan, keduabelah pihak juga membuat perjanjian di atas materai.

"Asal sama keluarga, kumpul lagi walaupun cuman makan bubur sehari-hari. Asal hati kita senang, jadi bisa bahagia," kata Mi Tjau yang berharap pemerintah bisa membantu mengembalikan akanya ke Indonesia.

Warga Landak Diduga Mengalami Kekerasan Fisik dan Pelecehan Seksual di Beijing

Warga Negara Indonesia (WNI) yang dinikahi pria Cangzhou Beijing, diduga kembali mendapatkan kekerasan fisik dan seksual.

Hal tersebut diungkapkan langsung Meri Andani yang diduga menjadi korban oleh suami dan mertuanya, melalui akun Facebook-nya atas nama Neki Slow.

Melaui akun Facebook-nya, Meri Andani menulis curhatan perlakuan yang dialami. Ia memposting pada Rabu 17 April 2019 sekitar pukul 17:27 waktu setempat.

Hingga saat ini, postingan tersebut sudah dibagikan sebanyak 225 kali, dengan 137 komentar.

Berikut isi postingan akun Facebook atas nama Neki Slow :

Saya mohon kepada teman2 FB di Indonesia di mana pun kalian tinggal saya yang bernama asli di bawah ini.

Nama: Meri Andani
ttg:05-08-1990
asal:ngabang KALIMANTAN BARAT
no paspor:C0629909

Saya di jual di beijing oleh ejen2 yang tidak bertanggung jawab,dan selama saya berada di sini,saya mendapatkan kasus kekerasan dan pelecehan sex oleh mertua saya,saya sekarang berada di kantor polisi cangzhou beijing,untuk melaporkan kasus saya,tetapi bukannya keadilan yang saya dapatkan justru saya di tahan dan jarang di beri makan,sudah 3 minggu saya di tahan dan tidak ada respon dari kepolisian untuk memulangkan saya ke indonesia,keadaan saya sekarang juga sedang sakit,saya mohon bantuan dari teman2 FB,agar membantu saya melaporkan kasus saya sekarang di kepolisian indonesia,dan penegak hukum di indonesia 
atas bantuannya saya ucapkan banyak terimakasih dan biarlah TUHAN yng akan membalas kebaikan teman2 FB semua.

Postingan Neki Slow
Postingan Neki Slow (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA)

Mengetahui informasi itu, Ketua DPC Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Mempawah Mahadir langsung mencari tau alamat Meri di Ngabang Kabupaten Landak.

"Kami bertemu dengan kakak kandung Meri yakni Jeliana, dia mengaku apa yang dialami oleh adiknya di Beijing," ujar Mahadir kepada Tribun, Jumat (19/4/2019).

Diakuinya, kakak Meri sudah memberikan kuasa kepada SBMI untuk mengurus permasalahan tersebut.

"Kami akan dampinggi. Kita juga sudah koordinaasi dengan KBRI di Beijing, mereka sudah berkomunikasi dengan kepolisian Tiongkok," ungkapnya. (*)

Penulis: Rizky Zulham
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved