Citizen Reporter

Puasa Diterima Atau Tidak, Ini Penjelasan Dewan Pembina FKPM Mempawah

Banyak lagi contoh yang mengarah kepada tanda-tanda perubahan seseorang pasca puasa ramadan.

Puasa Diterima Atau Tidak, Ini Penjelasan Dewan Pembina FKPM Mempawah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Dewan Pembina Forum Komunikasi Pemuda Madura (FKPM) Kabupaten Mempawah, Abdul Mutolib. 

Citizen Reporter

Kader PMII Mempawah, Salihin

MEMPAWAH -Puasa Ramadan menurut syariat Islam adalah suatu amalan ibadah yang dilakukan dengan cara menahan diri dari segala sesuatu seperti makan, minum, perbuatan tida baik maupun dari yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat karena Allah SWT, dengan syarat yang telah di tentukan oleh syari’at Islam.

Tanda diterimanya puasa seseorang tentu berdasarkan indikator dan dasar-dasar tertentu, seperti yang dikatakan oleh Dewan Penasihat Forum Komunikasi Pemuda Madura (FKPM) Kabupaten Mempawah, Abdul Mutolib.

Ada beberapa tanda yang menunjukkan puasa seseorang diterima oleh Allah SWT. Di antaranya, menurut Abdul Mutolib, terjadinya perubahan positif dalam diri seseorang, hal tersbut dapat dilihat dari sifat maupun perilakunya.

Baca: Lantik 111 Personel BPD, Paolus Hadi: BPD Harus Tahu Tugas dan Fungsinya

Baca: Kabar Gembira untuk Bobotoh, Besok Pemain Timnas Turkmenistan Mulai Latihan Bersama Persib Bandung

"Perubahan itu dapat dirasakan langsung oleh seseorang tersebut, bahkan oleh keluarga, kerabat dan orang-dekatnya," ujar Abdul Mutolib., Rabu (12/6/2019).

Contoh kata dia, perubahan seseorang misalnya yang semula salatnya tidak tepat waktu setelah puasa ramadhan ia bisas salat tepat waktu, yang semula selalu berkata tidak sopan setelah puasa ramadhan bisa berkat lebih sopan dan lebih baik.

Banyak lagi contoh yang mengarah kepada tanda-tanda perubahan seseorang pasca puasa ramadan.

Contoh lain dari perubahannya, jika seseorang awalnya jarang bersedekah setelah puasa ramadhan ia lebih rajin bersedekah, yang semula tidak semangat untuk membuka Al-Qur’an (mengaji) setelah puasa ramadan ia lebih semangat untuk membaca mengaji.

"Kemudian jika dilihat dari perubahan batinnya seseorang itu akan merasa lebih dekat kepada Allah SWT, ia juga akan senantiasa takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat yang bisa menjauhkan dirinya kepada tuhannya," tuturnya.

Maka sebenarnya kata Abdul Mutolib, puasa ramadan ini adalah jembatan bagi umat islam untuk melakukan perubahan diri menjadi lebih baik, sehingga hasil dari puasa yang sebulan penuh kita lakukan tidaklah terbuang sia-sia. (*)

Penulis: Ya'M Nurul Anshory
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved