Waspada!, Hoaks atau Berita Bohong lebih Berbahaya dari Terorisme dan Rasisme

Sekitar 53 persen mengatakan tanggung jawab memperbaiki krisis berita palsu ada pada wartawan, tetapi mengatakan masyarakat sendiri yang paling

Waspada!, Hoaks atau Berita Bohong lebih Berbahaya dari Terorisme dan Rasisme
Facebook Indonesia
Facebook Bagikan Tips Cara Membedakan Berita Palsu, Ada Cara Melaporkan Berita Hoaks Juga di Sini 

Waspada!, Hoaks atau Berita Bohong lebih Berbahaya dari Terorisme dan Rasisme

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kini ancaman berita bohong atau hoaks ternyata lebih berbahaya dibandingkan terorisme

Setidaknya itu digambarkan dari hasil survei yang dilakukan di Amerika Serikat, negara yang terkenal dengan demokrasinya. 

Warga 'Paman Sam' menyebutkan bahwa hoaks kini sudah menjadi sumber masalah yang besar. 

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan, separuh orang dewasa Amerika mengatakan berita palsu alias hoaks adalah masalah yang lebih besar daripada rasisme, terorisme, atau perubahan iklim.

Survei oleh Pew Research Center, yang dirilis Rabu (5/6/2019), menemukan bahwa sekitar 50 persen dari mereka yang mengikut jajak pendapat mengatakan berita palsu adalah "masalah yang sangat besar" di Amerika.

Baca: Ketum PD Muhammadiyah: Jangan Sebar Hoaks di Medsos, Jadi Rusak Akal Budi Ditempa Selama Ramadan

Baca: Bawaslu RI Beri Tips Agar Tidak Jadi Penyebar Hoaks, Polri : Hoaks & Ujaran Kebencian Meningkat

Baca: Jubir BPN Andrea Rosiade Sebut Hoaks Pesan Berantai Sebut Prabowo Akan Pimpin Demo Usai Salat Jumat

Sebagai perbandingan, sebanyak 46 persen menyebut perubahan iklim sebagai "masalah yang sangat besar"; 40 persen mengatakan hal yang sama tentang rasisme dan 34 persen mengatakan hal yang sama tentang terorisme.

Sekitar 68 persen dari 6.000 orang yang ditanyai dalam jajak pendapat mengatakan berita palsu memengaruhi kepercayaan mereka terhadap lembaga pemerintah.

Sebagian besar dari mereka, sekitar 57 persen, mengatakan mereka menyalahkan para politisi dan staf mereka atas adanya berita dan informasi palsu itu.

Jumlah itu jauh lebih banyak daripada mereka yang menyalahkan media, yaitu sebanyak 36 persen.

Halaman
12
Penulis: Rihard Nelson Silaban
Editor: Rihard Nelson Silaban
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved