Pelajar Islam Indonesia Dilaporkan Radikal, Terbantahkan dengan Pernyataan Kasatbinmas Polres

Pelajar Islam Indonesia (PII) saat ini sudah berumur 72 tahun sejak dilahirkan 4 Mei 1947 lalu. Dalam rangka memperingati Hari Bangkit PII

Pelajar Islam Indonesia Dilaporkan Radikal, Terbantahkan dengan Pernyataan Kasatbinmas Polres
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Kepala Satbinmas Polres Sambas, Abdul Mutholib 

Pelajar Islam Indonesia Dilaporkan Radikal, Terbantahkan dengan Pernyataan Kasatbinmas Polres

PONTIANAK - Pelajar Islam Indonesia (PII) saat ini sudah berumur 72 tahun sejak dilahirkan 4 Mei 1947 lalu. Dalam rangka memperingati Hari Bangkit PII ke 72 tersebut berbagai agenda dilakukan oleh Pengurus Daerah di Kalbar maupun Pengurus Wilayah Kalbar.

Satu diantara kegiatan dalam rangkain agenda Harba PII yang ke -72 yaitu oada tanggal (25-26/5/19) digelar di Sambas, kegiatan yang menggandeng berbagai stakeholder ini kembali memberikan semangat baru untuk bangkit memberikan kontribusi terbaik untuk umat dan negara.

Beberapa bulan yang lalu PII di Sambas dilaporkan bahwa dianggap sebagai ormas radikal oleh oknum tertektu. Tapi jauh dari itu Abdul Mutholib, Kepala Satbinmas Polres Sambas menyampaikan saat digelar acara hari bangkit PII, bahwa dirinya kselama kurang lebih enam tahun sebagai Kasatbinmas tidak ada aktifitas-aktifitas yang sifatnya radikal.

Baca: Kepala Dinas Perhubungan Apresiasi Pelaku Usaha Tambang di Tebas-Perigi Piai

Baca: Dandim Ajak Masyarakat Momentum Hari Raya Idul Fitri Sebagai Pererat Silaturahmi

Baca: Kapolres Sanggau Cek Pos Pengamanan dan Pos Pelayanan Operasi Ketupat 2019

Dalam rilis yang dikirimkan oleh pengurus wilayah, Abdul Muthalib juga menyampaikan PII tidak ada yang mengarah terhadap radikal.

"Saya nyatakan bahwa PII yang di Kabupaten Sambas tidak ada yang mengarah ke perbuatan radikal," tegasnya saat selesai acara peringatan Hari Bangkit PII.

Melihat fenomena ini, Ketua Umum PW PII Kalbar, Ahmad Ghozali pun menyampaikan sikapnya bahwa PII adalah Organisasi yang senantiasa berjuang untuk bangsa dan agama.

"Bahwa PII sudah sangat lama berdiri, 72 tahun memberikan kontribusi terbaiknya. Sejak dari agresi militer belanda sampai kita juga menjadi korban PKI tak sampai di situ, PII juga melebur bersama ormas-ormas lainnya dalam revolusi 98,"ujar Ahmad Ghozali..

Jauh dari pada Itu PII akan terus komitmen dan setia membangun bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, dengan Islam menjadi ruh dalam setiap geraknya.

Ia pun menyatakan bahwa penyebar berita dan pelapor dapat meminta maaf atas kejadian ini.

"Denggan beredarnya berita tak benar ini bahwa PII disebut radikal semua Keluarga Besar PII merespon bahwa harus ada tindakkan melaporkan kembali dan bahkan ada yang meminta memenjarakan, sebab ini menyangkut ribuan orang yang terkader di PII," jelasnya.

Bahkan sekarang menjadi pejabat negera dari kader PII antara lain, Jusuf Kalla, Muhadjir Effendi Menteri Pendidikan, Sofian Djalil Menteri Agraria dan di Kalbar ada Dr Aswandi, dan lain-lain.

"Tapi bagi kami jika mereka yang menyebarkan fitnah ini meminta maaf baik-baik pada kelembagaan dan pada media dan yang bersangkutan, kami akan memaaafkan sebab ini akhlak seorang muslim" pungkasnya.

Penulis: Syahroni
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved