Pilpres 2019

Refly Harun Sampaikan Kemungkinan Prabowo - Sandiaga Uno Menang di Mahkamah Konstitusi

Refly Harun Sampaikan Kemungkinan Prabowo - Sandiaga Uno Menang di Mahkamah Konstitusi

Refly Harun Sampaikan Kemungkinan Prabowo - Sandiaga Uno Menang di Mahkamah Konstitusi
TVOne
Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun Sampaikan Kemungkinan Prabowo - Sandiaga Uno Menang di Mahkamah Konstitusi 

Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun bersyukur BPN menempuh jalur legal konstitusional (mengajukan gugatan ke MK). 

Refly mengatakan, soal menang dan kalah itu soal lain. Tetapi bagaimana kita menggeser permasalahan ini dari jalan ke ruang sidang.

"Mudah-mudahan persidangan di MK nanti berjalan secara fair, terbuka, hakim-hakimnya juga betul-betul menampilkan diri sebagai negarawan, bukan orang yang partisan, sehingga nanti apapun hasilnya itu bisa diterima kedua belah pihak," katanya dikutip dari Fakta TVOne. 

Saat ditanya mungkin tidak kalau secara kuantitatif apa yang dilaporkan BPN Prabowo - Sandi dibuktikan dengan waktu yang sebegitu ketat, Refly Harun mengatakan ada dua aspek pendekatan.

Satu kuantitatif dan yang kedua kualitatif.

Baca: Ketum Demokrat SBY Harap Joko Widodo & Prabowo Segera Bertemu, Fadli Zon : Pro & Kontra Petinggi BPN

Baca: Jokowi-Prabowo Bertemu? Andre Rosiade: Tolak Sebelum MK Selesai, Luhut: Bola di Prabowo! Fadli Zon?

"Kalau kuantitatif ini BPN harus bisa membuktikan bahwa mereka itu dikurangi, dicurangi atau ada penggelembungan suara bagi pasangan 01, sejumlah separo dari 16.957.123 suara. Artinya kira-kira ada sekitar 8,5 juta suara," kata Refly.

"Kalau dia bisa mendalilkan bahwa saya dikurangi atau di sana ada penggelembungan 8,5 juta suara setelah diakumulasikan, maka di situ kita baru bicara signifikan untuk diproses lebih lanjut dari sisi kuantitatif," jelasnya.

Tapi kalau dari permohonan saja, tidak signifikan, hanya klaim-klaim, maka bergerak pada dimensi kedua yaitu dimensi kualitatif. 

"Contoh misalnya orang yang tidak memilih dihitung, daftar pemilih khusus tambahan dihitung, itu cenderung tidak signifikan. Maka bergerak pada dimensi kedua yaitu dimensi kualitatif. Ketika kita bicara dimensi kualitatif, ada dua juga," lanjutnya. 

"Apakah kita akan bergerak pada TSM (Terstruktur, Sistematis dan Massif) ataukah kita hanya cukup membuktikan bahwa memang ada kecurangan yang diperintahkan, yang langsung dikomando oleh pasangan 01 atau tim kampanye nasionalnya," urainya. 

Halaman
123
Penulis: Nasaruddin
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved