Pekan Gawai Dayak XXXIV

Eteng: Tato tak Hanya Berupa Gambar, Tetapi Merupakan Seni yang Patut Dilestarikan

Eteng merupakan peserta perwakilan dari desa Pakumbang, Kecamatan Senakin, Kabupaten Landak.

Eteng: Tato tak Hanya Berupa Gambar, Tetapi Merupakan Seni yang Patut Dilestarikan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ MARPINA SINDIKA WULANDARI
Eteng, peserta lomba tato saat mengikuti perlombaan di aula Rumah Radangk Pontianak pada PGD ke- 34 Kalbar, Minggu (26/5/2019) 

Eteng: Tato tak Hanya Berupa Gambar, Tetapi Merupakan Seni yang Patut Dilestarikan

PONTIANAK - Selesainya perlombaan tato menjadi penutup untuk seluruh perlombaan yang digelar dalam perhelatan Pekan Gawai Dayak Kalbar ke- 34, di Rumah Radakng Pontianak.

Minggu (26/5/2019) Lomba tato menjadi lomba yang terakhir diadakan dan dimulai pukul 11:00 WIB hingga 17:00 WIB, di aula Rumah Radangk Pontianak.

Eteng (36) yang merupakan peserta dalam perlombaan tersebut mengaku sudah 5 tahun berturut-turut mengikuti perlombaan tato pada PGD ini.

Kecintaannya terhadap seni tato membuat terus berkreativitas dengan motif-motif baru.

Eteng merupakan peserta perwakilan dari desa Pakumbang, Kecamatan Senakin, Kabupaten Landak.

Baca: Jalankan Tugas Bhabinkamtibmas, Bripka Ewaldus Leo Sambang Desa

Baca: Soal Kemungkinan Jimny Terbaru Diproduksi di Indonesia, Ini Penjelasan Suzuki

Dirinya juga merupakan seorang guru kesenian, sehingga rasa cintanya terhadap dunia seni sudah tidak perlu diragukan.

Pada perlombaan kali ini Eteng memilih sketsa seorang wanita yang sedang menari, ditambah dengan sedikit sentuhan motif dayak berupa gambar akar dan bulu burung enggang.

Eteng menciptakan lukisan yang indah di tubuh modelnya. Alasannya memilih gambar seorang wanita yang menari karena dirinya juga merupakan pelatih tari dan baginya gambar penari memiliki keindahan tersendiri.

"Saya pilih gambar seorang wanita yang menari karena saya terinspirasi dari situ, kebetulan saya juga seorang pelatih tari, kemudian saya tambahkan gambar akar dan bulu burung enggang sebagai pelengkap keindahannya" jelas Eteng.

Baca: Soal Kemungkinan Jimny Terbaru Diproduksi di Indonesia, Ini Penjelasan Suzuki

Baca: Soal Kemungkinan Jimny Terbaru Diproduksi di Indonesia, Ini Penjelasan Suzuki

Ia setuju dengan keputusan panitia yang memberikan tema bagi peserta untuk menggambarkan aktivitas masyarakat suku dayak, karena kreativitas peserta juga semakin terasah tidak hanya sebatas pada menggambarkan motif suku Dayak.

"Saya setuju dengan panitia, jadi tidak hanya kita terfokus pada motif, kita juga bisa menggambarkan aktivitas masyarakat dayak pada umumnya," sambung Eteng seusai mengikuti perlombaan.

Dirinya juga berharap untuk tahun berikutnya perlombaan ini tetap diadakan dan pesertanya semakin banyak, sehingga semangat untuk berkompetisi juga semakin kuat diantara peserta, dengan begitu kreativitas juga semakin bertambah.

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved