Remaja Pontianak Meninggal Diduga Tertembak, Pengamat Sebut Polisi dan Masyarakat Adalah Korban

Adek-adek yang 15 tahunan ini atau para remaja bahkan orangtua yang ikut-ikutan ini tidak memiliki analisa yang memadai,

Remaja Pontianak Meninggal Diduga Tertembak, Pengamat Sebut Polisi dan Masyarakat Adalah Korban
ILUSTRASI 

Remaja Pontianak Meninggal Diduga Tertembak, Pengamat Sebut Polisi dan Masyarakat Adalah Korban 

PONTIANAK - Pengamat sosial yang juga akademisi Universitas Tanjungpura, Virza Julian, memberikan penilaian dan analisanya terkait dugaan tertembaknya seorang remaja di Pontianak hingga meninggal dunia dalam kisruh massa terkait hasil Pemilu, Rabu (22/05/2019) lalu. 

Baca: VIDEO: Massa Melawan, Begini Upaya Pembubaran Masa di Simpang Tanjungraya 2

Baca: Massa Mulai Bergerak Menuju Polsek Pontianak Timur

Berikut kutipan wawancaranya, Sabtu (25/05/2019): 

"Kalau saya melihat secara umum kedua belah pihak baik masyarakat maupun polisi adalah korban, termasuk kita sebagai rakyat. Ini adalah pertarungan kelompok besar yang memang dengan sengaja mengorbankan rakyat sebagai salah satu kekuatan untuk memaksakan kehendak mereka.

Jadi ini kan semuanya dari muara  kejadian Jakarta dimana para politisi dan saya harus menyebutkan kelompok yang saat ini menuduh pemilu itu curang.

Pemilu itu curang atau tidak sebetulnya sudah ada mekanismenye, mulai dari Bawaslu hingga MK. Sejak sebelum pemungutan suara dan beberapa jam setelah pemungutan serta ada indikasi kelompok 02 kalah sampai pengumuman, narasi people power, kecurangan dan lainnya terus dibangkitkan sehingga menggerakan masyarakat kedua belah pihak.

Menurut saya kerusuhan yang terjadi di Pontianak dan menimbulkan korban jiwa yang harus bertanggung jawab yaitu yang menyerukan itu. Alangkah baiknya baik calon presiden 02 dan 01 serta tim suksesnya tidak mengeluarkan pendapat dan ide yang sifatnya membakar emosi semua pihak.

Nah mereka yangenjadi korban seperti anak 15 tahun di Pontianak yang tertembak ini adalah korban, termasuk aparat juga menjadi korban dari pertarungan dari pihak yang jauh lebih besar.

Adek-adek yang 15 tahunan ini atau para remaja bahkan orangtua yang ikut-ikutan ini tidak memiliki analisa yang memadai, sehingga sangat mudah terpancing dengan agitasi yang dibangun.

Baca: Ada Titik Kumpul Massa Sekitar Jembatan Kapuas 1, Terdengar Suara Tembakan Aparat

Baca: Ulama FPI Bersama Kepolisian Bersama-sama Halau Aksi massa yang Rusuh

Jadi saya yakin korban dan sebagian besar yang melakukan aksi di Pontianak hingga ricuh tidak mengerti.

Polisi sendiri kita lihat dari segi sudut pandang pemenuhan HAM dalam melaksanakan tugas, sejauh yang saya lihat mereka sudah memenuhi SOP yang ada. Tapi tentu ada wilayah-wilayah yang tidak terlihat kita, sebab faktanya ada yang meninggal.

Tapi sekali lagi kita tidak bisa menuduh apakah itu polisi yang melakukan penembakan atau ada pihak lain yang sengaja memancing di air keruh atau karena terinjak-injak oleh masa itu sendiri.

Semua masih simpang siur, belum bisa kita katakan kalau yang menembak adalah polisi atau bukan. Pada intinya saat ini kita semua adalah korban.

Korban tidak akan terhindarkan saat terjadi kerumunan massa, karena ada kemarahan yang besar, ada provokasi dan lainnya,". (Oni)

Penulis: Syahroni
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved