Partai Pengusung Sebut Tak Dapat Efek Ekor Jas Pilpres 2019, Pengamat: Tergantung Kerja Politik

Contohnya, dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf, masih saja ada parpol yang tidak dapat lolos Parliementary Threshold (

Partai Pengusung Sebut Tak Dapat Efek Ekor Jas Pilpres 2019, Pengamat: Tergantung Kerja Politik
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Pengamat Politik Untan, Ireng Maulana MA 

Partai Pengusung Tak Dapat Efek Ekor Jas Pilpres 2019, Pengamat: Tergantung Kerja Politik

PONTIANAK - Sejumlah partai pengusung di Pilpres 2019, termasuk di antaranya Partai Gerindra di Kalbar mengaku tak mendapatkan hasil dari efek ekor jas Pemilu 2019.

Terkait hal itu, penengamat politik dari Fisip Untang, Ireng Maulana pun memberikan analisasnya.

Baca: Pengamat Ireng Maulana Sarankan Caleg Berpotensi Tak Terpilih Bersikap Dewasa, Berikut Alasannya

Baca: Ireng Maulana: Hasil Survey Tidak Boleh Bohong

Berikut kutipan wawancaranya, Rabu (22/05/2019): 

"Sulit menyimpulkan jika pasangan capres ataupun cawapres memberikan dampak elektoral signifikan apple to apple kepada perolehan suara bagi parpol pengusung. Pasalnya, pengusung pasangan pilpres multi parpol bukan parpol tunggal. 

Jika ada parpol yang berjaya dalam pileg, maka itu lebih besar karena kerja politik yang dilakukan oleh para caleg daripada keuntungan atas dasar asosiasi terhadap capres tertentu.

Simulasi seperti seorang pemilih yang mencoblos caleg dari partai Gerindra misalkan, ternyata tidak mencoblos Prabowo sebagai capres, demikian pula sebaliknya. 

Simulasi kedua jika suara capres berefek langsung ke suara parpol maka peroleh parpol pengusung tentu saja akan merata terbagi, tidak proporsional dan fluktuatif sebagaimana kita ketahui. 

Contohnya, dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf, masih saja ada parpol yang tidak dapat lolos Parliementary Threshold (PT), sedangkan muncul parpol lain melejit dan menjadi parpol dengan suara terbanyak di pileg. 

Situasi ini juga kita saksikan pada parpol pengusung Prabowo- Sandi. Misalkan PKS, PAN, Demokrat yang tidak identik dengan Prabowo masih saja dapat lolos ke Senayan, dan Suara yang diperoleh Gerindra tidak mencerminkan jika nilainya efek dari Prabowo sebagai capres. 

Baca: Ireng Maulana: Demokrasi Untuk Penyandang Disabilitas Harusnya Tanpa Basa-Basi Formalitas

Baca: Ireng Maulana: Mundurnya Kiai Maaruf Sama Saja, Beliau Tetap Sebagai Sosok Ulama Yang Dihormati

Padahal kita tahu Prabowo adalah ketum Gerindra. Rumus konsolidasi suara karena pileg dan pilpres bersamaan sangat dinamis dan fleksibel. Bahkan di beberapa tempat caleg tertentu harus mengasosiasikan dirinya mendukung capres tertentu yang tidak di usung oleh parpolnya sendiri. 

Dengan pola pertarungan pemilu tadi, jadi kurang relevan jika masih mempersoalkan efek ikutan capres ke parpol tertentu karena munculnya situasi yang serba pragmatis bagi caleg dan parpol untuk mendahulukan lebih besar kepentingan mendapatkan kursi di parlemen daripada urusan capres. 

Jadi hasil akhir perolehan suara dapat dikatakan bukan atas dasar bahwa ada parpol yang diuntungkan karena figur capres, tapi memang amat sangat tergantung kepada kelincahan kerja politik para caleg di dapil masing-masing dan isu pilpres malahan konten ikutan yang mereka jual kemudian setelah memastikan diri mereka dapat diterima oleh pemilih. 

Sementara, jika ada parpol yang merasa tidak mendapatkan efek ikutan dari figur capres tertentu, maka tidak bisa juga menyimpulkan telah terjadi swing voter ke parpol lain di dalam satu koalisi yang sama karena tidak mudah mengalihkan dukungan kecuali pemilih sudah memiliki preferensi politik terlebih dahulu,". (dho)
 

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved