Antusisas Masyarakat Menyambut Gawai di Pontianak, Berbagai Stand di Rumah Radakng Ikut Semarakkan

Mulai dari stand jajanan, baju, peralatan devosi, maupun benda kerajinan. Selain itu, mereka juga menawarkan jasa pembuatan tato.

Antusisas Masyarakat Menyambut Gawai di Pontianak, Berbagai Stand di Rumah Radakng Ikut Semarakkan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Pengunjung mendatangi stand pada kegiatan Pekan Gawai Dayak ke-34 yang akan berlangsung mulai tanggal 20 sampai 26 Mei 2019 di Rumah Radakng Jalan Sutan Syahrir Pontianak. 

Antusisas Masyarakat Menyambut Gawai Berbagai Stand di Rumah Radakng

Citizen Reporter
Pricilia Grasela
Volunteer Komsos KAP

SINGKAWANG - Perhelatan Pekan Gawai Dayak ke-34 yang akan berlangsung mulai tanggal 20 sampai 26 Mei 2019 di Rumah Radakng Jalan Sutan Syahrir Pontianak, mendapat antusias dari masyarakat Kalimantan Barat.

Terlihat pada pelaksanaan misa pembukaan acara tersebut pada hari Sabtu, 18 Mei 2019, stand-stand jualan mulai dipersiapkan oleh masyarakat yang berjualan dan sebagian stand tersebut dikunjungi oleh masyarakat.

Mulai dari stand jajanan, baju, peralatan devosi, maupun benda kerajinan. Selain itu, mereka juga menawarkan jasa pembuatan tato.

Adapun yang laris dikunjungi pembeli ketika misa pembukaan telah selesai, yaitu stand benda-benda kerajinan.

Baca: FOTO: Lomba Menyumpit Berbagai Kategori Meriahkan Pekan Gawai Dayak di Halaman Rumah Radakng

Baca: Pangdam XII/Tanjungpura Hadiri Pembukaan Pekan Gawai Dayak XXXIV Tahun 2019

Stepanus Agung, salah satu pemilik stand benda kerajinan yang merupakan anggota Orang Muda Katolik (OMK) Sambas dan pernah bergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Sungai Raya, Pontianak, mengatakan bahwa benda kerajinan tersebut dibuat oleh para perajin benda kerajinan yang berasal dari daerah di Kalimantan.

Tetapi, banyak kerajinan yang terbuat dari bahan fiber dan telah dimodifikasi. Biasanya kerajinan dari bahan fiber diambil dari luar pulau Kalimantan.

“Banyak kerajinan yang terbuat dari bahan bukan bersumber alam dan telah dimodifikasi. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan, karena pembuatan benda kerajinan harus ramah terhadap lingkungan. Ramah lingkungan yang dimaksud adalah melestarikan bahan baku dari alam. Jadi, penggunaan bahan bukan bersumber dari alam membantu mengurangi pemakaian bahan baku alam yang sudah mulai langka,” jelas Stepanus Agung.

Agung juga menambahkan bahwa benda-benda kerajinan mengandung nilai-nilai kebudayaan, terutama nilai spiritual kebersamaan orang Dayak.

Baca: Buka Pekan Gawai Dayak ke XXXIV, Sutarmidji: Pemprov Kalbar Anggarkan Rp 300 Juta untuk PGD

Baca: Asisten Setda Wakili Bupati Sintang Pada Pembukaan Gawai Dayak ke-XXXIV di Pontianak

“Walaupun telah dimodifikasi dengan cara mengubah bentuk agar lebih menarik, tetapi tidak mengurangi nilai-nilai kebudayaan yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.

Para pemilik stand berjualan dengan sistem kerjasama dengan teman sejawat.

Mereka membagi tugas untuk menjaga stand sesuai jadwal yang telah ditentukan bersama.

Untuk menyewa tempat berjualan, mereka mendaftarkan diri kepada panitia sebelum pelaksanaan Pekan Gawai Dayak tersebut. (*/doi)

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved