Pentingnya Upacara Adat Ngampar Bide Bagi Masyarakat Dayak

Panglima Jilah atau Pangalangok Jilah menjelaskan arti dari Ngampar Bide pada jaman dahulu adalah musyawarah orang Dayak

Pentingnya Upacara Adat Ngampar Bide Bagi Masyarakat Dayak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Marpina Wulan
Penyerahan Tono dari panglima Jilah kepada ketua panitia pekan gawai dayak pada saat upacara adat Ngampar Bide 

Pentingnya Upacara Adat Ngampar Bide Bagi Masyarakat Dayak

PONTIANAK - Panglima Jilah atau Pangalangok Jilah menjelaskan arti dari Ngampar Bide pada jaman dahulu adalah musyawarah orang Dayak, Minggu (19/05/2019).

Acara apapun yang digelar, harus dimulai dengan ritual Ngampar Bide sebagai upaya untuk menentukan persamaan tujuan dari sebuah acara atau kegiatan, serta wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan anugerah yang telah dilimpahkan. Upacara adat Ngampar Bide menggunakan adat Karimawatn Sakayu Bangkule Rajakng.

"Ngampar Bide adalah mufakat kita orang Dayak. Dimana kita mengadakan adat apapun harus diawali dengan Ngampar Bide. Ada segala babi, ayam, beras kita persembahkan kepada Jubata atas kelimpahan panen rezeki yang kita boleh nikmati," ujar Panglima Jilah.

Panglima Jilah menjelaskan, dalam upacara adat ini harus ada yang namanya Buis Bantat yang berwujud hasil panen dan ternak dari masyarakat.

Ia menekankan, dalam upacara adat ini hantaran yang disajikan bukan persembahan untuk berhala, tetapi simbol hasil alam dan persatuan suku. "Rangkaian adat ini kita tunjukkan supaya generasi muda Dayak, supaya tidak punah," jelasnya.

Baca: FOTO: Upacara Adat Ngampar Bide Secara Adat Karimawatn Sakayu Bangkule Rajakng di Rumah Radakng

Baca: Kemendikbud Luncurkan Buku Indeks Aktivitas Literasi Membaca

Baca: Hasil Kualifikasi Moto2 Prancis 2019: Jorge Navarro Pole Position di Le Mans, Dimas Ekky Posisi 28

Untuk hantaran sendiri terdiri dari ayam, babi yang mana bagian kepala menggantikan kepala manusia, lengan babi melambangkan tangan untuk bekerja, paha babi sebagai lambang kaki untuk berjalan, uang, pinang, kapur, beras, tumpik, beras banyu, buah tengkawang, kunyit, dimana semuanya itu sebagai simbol hasil panen dan ternak. Yang dimulai dari proses menanam padi sampai panen.

Hantaran bukanlah sesaji yang diberikan untuk hantu, tetapi simbol dari hasil panen masyarakat yang di sertakan dalam upacara adat syukur kepada Yang Maha Kuasa.

"Urang dayak nanak menyembah berhala, tapi nyembah Yesus Kristus," Ujar panglima Jilah.

Dijelaskan juga terdapat Tempayan dalam hantaran tersebut yang melambangkan Allah, karena tempayan adalah simbol kehidupan bagi nenek moyang dimana jaman dahulu beras di simpan di dalam tempayan, dan dari beras yang ada di tempayan lah manusia makan dan hidup.

Jika diartikan dalam Gereja Katolik sama dengan patung Yesus atau yang di sebut Salib. Karena pada jaman dahulu sebelum nenek moyang mengenal agama, mereka sudah percaya akan adanya Tuhan yang dilambangkan dengan tempayan.

Ada juga Gasing yang diartikan sebagai alat untuk menggiling padi pada saat panen, dimana padi yang masih berupa gabah digiling dan menjadi beras yang siap di masak.

Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved