Cornelis: Gawai Dayak Bukan Tempat Mabuk-mabukan

Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Drs. Cornelis, M.H. mengharapkan kepada masyarakat suku dayak dengan adanya gawai

Cornelis: Gawai Dayak Bukan Tempat Mabuk-mabukan
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Cornelis dan istri saat mengikuti perayaan Misa Kudus 

Cornelis: Gawai Dayak Bukan Tempat Mabuk-mabukan

PONTIANAK - Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Drs. Cornelis, M.H. mengharapkan kepada masyarakat suku dayak dengan adanya gawai ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, untuk saling mengembangkan kreativitas, ide, menambah wawasan dan berdiskusi dengan sesama masyarakat.

Hal ini dikatakan langsung oleh Cornelis saat ditemui di rumah Radank Pontianak, seusai mengikuti perayaan misa Sabtu (18/05/2019).

Beliau mengharapkan masyarakat dayak sadar akan tugas dan tanggung jawab sebagai bagian dari negara.

"Masyarakat dayak sebagai bagian dari negara Indonesia ini apa sih yang bisa diberikan bagi negara, misalnya kegiatan yang berdampak ekonomi, politik, hukum, sosial dan lain-lain, nah  satu diantaranya adalah dengan adanya kegiatan gawai dayak ini," ujar nya.

Baginya masyarakat dituntut untuk lebih kreatif. Ketika pemerintah sudah memberikan lahan, wadah bagi masyarakat untuk berkembang, semestinya dapat digunakan dengan baik.

"Salah satunya kita bisa berdagang, apa yang bisa didagangkan, misalnya Kalau bisa ngasah batu, asah jadi cincin. Bisa nganyam buat bakul, buat keranjang di jual. Sekarang kan didominasi oleh plastik, merusak lingkungan, kalau bisa menggunakan hasil anyaman kan lebih bagus, ramah lingkungan Menghasilkan keuntungan, sambung beliau.

Baca: Pj Sekda Kapuas Hulu Imbau Masyarakat Jaga Kesucian Bulan Ramadhan

Baca: Puncak Waisak, Hari ini Umat Budha di Kalbar Akan Jalani Ibadah di Vihara Masing-masing

Baca: Satgas Yonmek 643/Wns Kembali Amankan Barang Diduga Ilegal Asal Malaysia, Masuk Lewat Jalur Tikus

Kemudian Cornelis juga berharap bagi kaum muda agar nantinya sadar tentang jati diri, dan tanggung jawabnya untuk masa depan. Generasi muda harus tau bahwa perjuangan hidup itu keras, sehingga mulai dari sejak dini diperkenalkan dengan adat dan budaya.

"Nah ini yang harus di jelaskan bersama pada generasi muda, karena kehidupan ini keras, perjuangan untuk hidup lebih berat, dan kita tidak boleh meninggalkan budaya sepanjang itu tidak bertentangan dengan UUD, tidak bertentangan dengan nilai-nilai positif," pungkasnya.

"Kita harus bisa membangun diri sendiri, membangun masyarakat kita, tidak hanya bisa mengeluh. Salah satunya dengan kita berkumpul pada gawai ini, kita bisa saling berdiskusi, menemukan ide baru, kita mengembangkan kreativitas. Bukan untuk mabuk-mabukan, ini perlu diperjelas. Gawai ini bukan tempat mabuk-mabukan," jelas Cornelis.

Cornelis juga mengingatkan bahwa bersama dengan gawai ini, sejatinya memberikan kesempatan bagi masyarakat bertemu langsung dengan tokoh masyarakat, dengan pejabat pemerintah. Untuk menyalurkan aspirasi mereka.

Berhubungan dengan pemilihan legislatif juga, masyarakat berhak tau dan percaya kepada pihak pemerintah. Sehingga tidak muncul rasa curiga diantara masyarakat yang akhirnya menjadi alasan perpecahan di masyarakat.

Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved