Pimpin Misa Pembukaan Gawai Dayak, Ini Makna Gawai bagi Uskup Agung Pontianak

Uskup Agung pun menjelaskan terkait makna makan bersama dengan berbagai masakan khas masyarakat Dayak masa lampau.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ FERRYANTO
Pelaksanaan Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak ke 34 di rumah Radakng, Sabtu (18/5/2019) 

Pimpin Misa Pembukaan Gawai Dayak, Ini Makna Gawai bagi Uskup Agung Pontianak

PONTIANAK - Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak ke 34 yang di laksanakan di rumah Radank Pontianak yang dipimpin langsung oleh uskup Agung Pontianak berjalan dengan khidmat, Sabtu (18/5/2019).

Acara makan bersama usai pelaksanaan misa pun berjalan dengan lancar.

Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus mengatakan bahwa Makna Gawai adalah bersyukur kepada Tuhan berterima dan kasih kepada sesama.

Baca: Abdullah Yakin Caleg DPRD Kalbar Incumben Akan Tuntaskan Tugas Hingga Akhir Masa Jabatan

Baca: LIVE Stream Babak Dua Persib Vs Persipura Liga 1 Indonesia! 2 Gol Artur Gevorkyan Bawa Persib Unggul

"Bersyukur kepada Tuhan kita laksanakan dengan ibadah keagamaan, karena ini Katolik, maka ritual keagamaan yang paling cocok kita laksanakan Misa Kudus, misa Kudus intinya doa sukur agung, yang kedua kita hidup di dunia ini dengan dibantu orang lain bersama orang lain, tidak ada orang hidup di dunia ini dengan hidupnya sendiri, maka juga berterima kasih kepada sesama," tuturnya.

Uskup Agung pun menjelaskan terkait makna makan bersama dengan berbagai masakan khas masyarakat Dayak masa lampau.

"Lalu kenapa saya meminta mereka masak makanan tradisional, karena kita yang muda - muda ini sering lupa akan nenek moyang kita, dengan masak - masakan masa lalu kita ingat, nenek moyang kita tidak ada rice cooker, rantang, Tupperware, yang ada daun, Jadi maknanya bagi saya bukan enak atau tidaknya makanan, yang harus kita ingat bahwa Datuk moyang kita itu makannya dengan alam, makai daun, batok kelapa untuk makan pengganti piring sebagainya,"terangnya.

"Jadi bagi saya, kalau saya gawai saya ingat Tuhan, ingat nenek moyang, ingat sesama, dan nilai - nilai seperti inilah yang kadang - kadang hilang pada generasi jaman now ini, karena dikuasai teknologi dan sebagainya. Jadi bagi saya tiap kali gawai kita kembali ke nilai - nilai luhur, bangsa kita yang selalu ada kaitannya dengan Tuhan, orang Dayak itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tanpa ingat akan Tuhan," imbuhnya.

Dirinya pun berpesan kepada seluruh masyarakat, agar selalu menjaga semangat untuk mencintai dan mengasihi sesama.

"Jadi, ini bagi saya semangat inilah yang tidak akan pudar oleh jaman, semangat mencintai mengasihi sesama, memperhatikan orang miskin, tidak akan pudar oleh jaman, gaya boleh beda tapi semangat tetap ada," pesannya.

Penulis: Ferryanto
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved