Makan Bersama Setelah Misa Pekan Gawai Dayak ke 34

Yang unik disini adalah, semua masakan yang di katakan tersebut tidak menggunakan minyak,

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ FERRYANTO
Suana makan bersama selepas Misa pembukaan pekan gawai Dayak di rumah Radakng Pontianak, Sabtu (18/5/2019).   

Makan Bersama Setelah Misa Pekan Gawai Dayak ke 34

PONTIANAK - Ribuan masyarakat kota Pontianak dan Kalbar  mengikuti Misa Pembukaan pekan Gawai Dayak yang ke 34 dengan khidmat.

Pembukaan dipusatkan di di rumah Radakng Pontianak, yang dipimpin langsung oleh uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, Sabtu (18/5/2019).

Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak ke 34 ini sendiri di mulai pada pukul 17.00 WIB dan selesai pada sekira pukul 19.00 WIB.

Pada misa kali ini pun, juga dilaksanakan doa umat dengan 5 bahasa Dayak daerah Kalbar.

Ketua Pelaksana PGD Sekumdus menjelaskan bahwa pelaksanaan misa yang menggunakan beberapa bahasa Dayak asli Kalimantan barat pada doa umat bermakna bahwa kebhinekaan keberanekaragaman terdapat di Suku Dayak, namun tetap satu.

Baca: Malam Final Festival Sahur-sahur XVII di Mempawah Diguyur Hujan

Baca: Pimpin Misa Pembukaan Gawai Dayak, Ini Makna Gawai bagi Uskup Agung Pontianak

"Kita mencoba dalam rangka misa pekan Gawai Dayak ini menggunakan bahasa yang beragam, karena kita berasal dari berbagai macam suku bangsa, untuk menunjukan kebhinekaan kita, dan menunjukan kepada muda mudi kita kota ini bukan hanya terdiri dari satu suku bangsa, tapi berbagai macam bangsa,"terangnya.

Selanjutnya tentang makan secara bersama makanan khas Dayak di acara tersebut, Sekumdus menjelaskan bahwa masakan tersesbut dimasak oleh tiap Paroki yang ada di Kota Pontianak.

Baca: 60 Persen Anggota DPRD Kalbar Wajah Baru, Ini Penilaian Pengamat

Yang unik disini adalah, semua masakan yang di katakan tersebut tidak menggunakan minyak, semua masakan dimasak dengan cara direbus atau di bakar.

"Makanan itu tidak ada yang pakai tumis - tumis, semua itu ada yang di kukus dan ada yang dibakar, dan sebaginya, dan itulah budaya kita dahulu, karena kita tidak bisa terlepas dari nenek moyang kita,,"jelasnya.

Lebih dalam, menurut Sekumdus, makna yang paling penting dalam makan bersama ini adalah kebersamaan, keseragaman, kesatuan, dalam mewujudkan damai untuk lapisan masyarakat tidak memandang dari berbagai lapisan ekonomi rendah, menengah, ataupun atas, semua disatukan dalam wujud perayaan jamuan atau malam bersama.

Penulis: Ferryanto
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved