Kades Suka Maju Kapuas Hulu Optimis Realisasikan Desa Mandiri di 2020 Mendatang

Bahan baku produksi tapioka sudah ada sekitar 70 hektar lahan petani ubi kayu di Desa Suka Maju yang siap untuk mensuplai selanjutnya akan diperluas

Kades Suka Maju Kapuas Hulu Optimis Realisasikan Desa Mandiri di 2020 Mendatang
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/HAMDAN DARSANI
Kepala Desa Suka Maju, Kabupaten Kapuas Hulu Sabri 

Kepala Desa Suka Maju Kapuas Hulu Optimis Realisasikan Desa Mandiri di 2020 Mendatang

PONTIANAK - Turut hadir pada kegiatan Silatnas dan Workhsop Pemerintah Desa se Kalbar yang digelar oleh DPP Apdesi dan pusat kajian tata kelola keuangan dan pembangunan daerah di Pontianak, Kepala Desa Suka Maju, Kabupaten Kapuas Hulu Sabri menyakini bisa mengejar target sebagai desa mandiri pada tahun 2020 mendatang meskipu secara geografis lokasi desanya berada di jauh di ujung Kalbar.

"Kami menargetkan di tahun 2020 nanti, desanya tersebut sudah bisa berstatus sebagai desa mandiri," ujarnya saat di Pontianak, Jumat (10/5/2019)

Ia menilai target tersebut bukan sekedar motivasi tanpa dasar. Desa yang dipimpinya telah memiliki Badan Usaha Milik Desa yang sudah aktif berjalan.Bahkan sudah mampu mendulang income. Itu Artinya, satu indikator desa mandiri sudah mampu diralisasikan oleh Desa Suka Maju.

Baca: Silaturahmi Nasional & Workshop Apdesi, Sutarmidji Dorong Kades Tingkatkan Status Jadi Desa Mandiri

Baca: Kalimantan Jadi Pulau Modern Broadband Pertama, Wujudkan Desa Mandiri di Kalbar

"Produk unggulan yang kini fokus memproduksi tepung tapioka, hasil olahan ubi kayu. Kita produksi tapioka lewat home industri atau pabrik mini. Dengan memberdayakan anggota masyarakat," ujarnya.

Dirinya memaparkab satu home industri, mampu memproduksi tapioka per-minggu sebanyak 500 kilo gram. Setidaknya sudah lima home industri tapioka milik masyarakat disana yang aktif berproduksi.

"Perbulan bisa memproduksi 2 ton tapioka. Tapioka yang diproduksi oleh masyarakat itu, kemudian kita kelola lewat BUMDes untuk dipasarkan," ujarnya.

Bahan baku produksi tapioka sudah ada sekitar 70 hektar lahan petani ubi kayu di Desa Suka Maju yang siap untuk mensuplai selanjutnya akan diperluas sekitar 200 hektar lagi untuk kawasan petani ubi kayu ini

"Kami yakin produk unggulan tapioka di mampu diproduksi secara berkesinambungan dan bisa menjadi produk andalan. Yang mampu memberi sumbangsih terhadap perbaikan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Baca: 2019 Ini Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kalbar Targetkan 63 Desa Mandiri

Baca: Desa Tertinggal Dekat Konsesi Sawit, Badan Restorasi Gambut Siap Bantu Wujudkan Desa Mandiri

Kendati demikian diakuinya soal pemasarannya saat ini memang masih belum maksimal. harga jualnyapun relatif murah jika dibanding dengan tapioka yang dipasok dari luar kalbar.

"Kalau tapioka yang kita produksi ini perkilo kita jual delapan ribu. Kalau tapioka dari luar itu, sekitar sembilan ribu. Jadi kita masih dibawah. Itu saja kendalanya. Dan mungkin produk kita masih belum dikenal," ujarnya.

Soal tantangan membangun BUMDes, Sabirin mengaku, sangat terkendala dengan modal. Sehinggaa, BUM-Des di Desa Suka Maju baru bisa berjalan setelah tiga tahun setelah dibentuk.

"BUMDes itu tergantung modal. Kendala kita sama. Ditahun pertama sampai ke tiga (2015-2017) dana desa masih fokus kepada kebutuhan infrastruktur desa. Hanya sedikit yang dianggarkan untuk BUMDes-nya," ujarnya. (dan)

Penulis: Hamdan Darsani
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved