Puncak HUT Sintang ke-657, Jarot Pesan Jadikan Perbedaan Sebagai Kekuatan

Sintang adalah suatu identitas kota yang inklusif yang mempertemukan alur sungai Kapuas dan Melawi, sehingga menjadi tempat hidup untuk semua komponen

Puncak HUT Sintang ke-657, Jarot Pesan Jadikan Perbedaan Sebagai Kekuatan
Istimewa
Tarian jepin khas Sintang yang diikuti kurang lebih 500 peserta membentuk formasi 657 dalam rangkaian Upacara Peringatan Hari Jadi Kota Sintang ke-657 Tahun 2019 dengan mengangkat tema "Sintang Adalah Kita" di Stadion Baning Sintang, Kabupaten Sintang, Sabtu (4/5/2019) kemarin. 

Puncak HUT Sintang ke-657, Jarot Pesan Jadikan Perbedaan Sebagai Kekuatan

SINTANG - Bupati Sintang Jarot Winarno memimpin Upacara Peringatan Hari Jadi Kota Sintang ke-657 Tahun 2019 dengan mengangkat tema "Sintang Adalah Kita" di Stadion Baning Sintang, Kabupaten Sintang, Sabtu (4/5/2019) kemarin. 

Hadir Danrem 121/Abw Brigjen TNI Bambang Trisnohadi, unsur Forkopimda Kabupaten Sintang, Sultan Sintang, Sekda Kabupaten Sintang, sejumlah Raja Kerajaan Nusantara dan tamu undangan lainnya. 

Upacara tersebut menjadi puncak peringatan HUT Kota Sintang ke-657.

Para tamu undangan yang hadir menggunakan berbagai pakaian adat nusantara seperti melayu, dayak, jawa, padang, tionghoa dan pakaian adat lainnya. 

Baca: Bupati Jarot Beberkan Sintang Miliki Empat Modal Penting Jaya di Masa Depan

Baca: Tim U-14 Sintang Bakal Tampil Pada Piala Menpora di Solo, Ini Pesan Bupati Jarot!

Dalam sambutannya, Jarot mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam peringatan hari jadi Kota Sintang tahun ini “Sintang Adalah Kita. Tema ringkas ini hendak menghubungkan antara makna Sintang dan makna Kita. 

Dijelaskannya bahwa makna Sintang adalah suatu identitas kota yang inklusif yang mempertemukan alur sungai Kapuas dan Melawi, sehingga menjadi tempat hidup untuk semua komponen bangsa. 

Sedangkan makna kita adalah menujuk seluruh kelompok-kelompok sosial budaya yang telah lama hidup dan memiliki keterikatan batin dengan Kota Sintang. 

“Perpaduan dua diksi ini melahirkan narasi Kota Sintang yang meletakkan perbedaan SARA sebagai kekuatan bukan kelemahan, memelihara nilai-nilai persamaan di tengah perbedaan yang di miliki, membangun interaksi sosial atas dasar kesetaraan serta menyediakan wadah yang luas untuk dialog kewarganegaraan," jelas Jarot. 

Baca: Kesebelasan Sintang Kampiun Liga Menpora U-14 Kalbar dan Melaju ke Tingkat Nasional

Baca: Kesebelasan Sintang Kampiun Liga Menpora U-14 Kalbar dan Melaju ke Tingkat Nasional

Lanjut Jarot, saat ini harus di sadari globalisasi yang mencapai revolusi industry generasi keempat telah membuat dunia semakin menyempit, interaksi beda peradaban makin meningkat dan meluas. 

"Oleh karenanya potensi benturan SARA masih sangat besar, upaya menselaraskan perbedaan SARA ternyata lebih susah daripada menyatukan perbedaan politik dan ekonomi," jelasnya. 

Untuk itulah, menurutnya kita dituntut memiliki suatu kecerdasan atau literasi budaya dan kewargaan yaitu orang atau kelompok yang mampu hidup di tengah-tengah perbedaan sara dan menjadikan perbedaan itu sebagai sumber kekuatan yang konstruktif. 

“Kita harus mencontoh Jubair Irawan 1 yang berhijrah dari Kerajaan Sepauk ke tempat baru yang sekarang menjadi Keraton Al-Mukarramah  Sintang, cita-citanya yang hendak membaurkan berbagai perbedaan yang ada," katanya. 

Baca: Gelora Sintang Tantang PS Sekadau di Babak Final Piala Menpora U-14

Hal inilah menurutnya yang menjadi inspirasi berharga untuk kita membangun kecerdasan budaya dan kewargaan di masa depan. 

"Salah satu contohnya pada hari ini kemauan kita memakai pakaian adat berbagai suku bangsa, inilah menjadi simbol kita untuk membangun literasi budaya dan kewarganegaraan di Kabupaten Sintang," pungkasnya.

Penulis: Wahidin
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved