Kubu Raya Kembangkan Jagung Pipil di Wilayah Rawan Kebakaran Lahan

Hanya saja focus Perda tidak sekedar mengatur soal sanksi bagi yang melakukan pembakaran, tapi juga mesti mendorong upaya pemberdayaan masyarakat.

Kubu Raya Kembangkan Jagung Pipil di Wilayah Rawan Kebakaran Lahan
TRIBUN PONTIANAK/NINA SORAYA
Para pembicara dalam Media Workshop dengan tema Kolaborasi Multipihak Cegah Kebakaran Lahan yang digagas GAMA Plantation, di Hotel Neo Pontianak, Sabtu (4/5/2019). 

Kubu Raya Kembangkan Jagung Pipil di Wilayah Rawan Kebakaran Lahan   

PONTIANAK – M Khairun Anwar dari Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kubu Raya, Chairil Anwar menjelaskan kondisi lahan di Kabupaten Kubu Raya (KKR) sangat rentan terbakar. Sekitar 40-50 persen merupakan lahan gambut dari total 800 ribu hectare lahan yang tersedia.

Baca: Peringati Hari Pendidikan Nasional, Millenials PLN Ajak Siswa Peduli Listrik

Baca: XL Axiata Luncurkan Paket Baru Xtra Rejeki “Tunjangan Hadiah Ramadan”

“Jadi dari jumlah ini memang separohnya merupakan lahan gambut dan sangat rentan terbakar. Untuk ketersedian lahan ini sebagian besar digunakan untuk perkebunan sawit,” jelasnya saat menjadi pembicara dalam Media Workshop dengan tema Kolaborasi Multipihak Cegah Kebakaran Lahan yang digagas GAMA Plantation, di Hotel Neo Pontianak, Sabtu (4/5/2019).  

Guna mengantisipasi kebakaran lahan ini, Pemkab mendorong lahirnya peraturan daerah (Perda). Hanya saja focus Perda tidak sekedar mengatur soal sanksi bagi yang melakukan pembakaran, tapi juga mesti mendorong upaya pemberdayaan masyarakat.

“Ini penting sekali. Karena hanya memuat sanksi dalam isi Perda tak terlalu efektif. Padahal sanksi pembakar lahan luar biasa nominal ganti ruginya Rp 3-5 miliar dan sanksi pidana. Tapi ternyata tidak efektif juga,” paparnya.

KKR sudah memulainya dengan memberdayakan masyarakat untuk mengelola lahan secara berkelanjutan. Satu di antara pengembangan yang dilakukan untuk masyarakat adalah pengembangan jagung pipil di wilayah Rasau.

“Di Kubu Raya, kita kembangkan kawasan pedesaan berbasis agro industry. Tepatnya di Rasau dengan  pengembangan jagung pipil di sana. Konsep pengembangan dari hulu hingga hilir. Yang diolah dari bonggol, daun, sampai ke  limbahnya kita manfaatkan. Bahkan hasil akhirnya ada yang kita buat kerajinan,” jelasnya.

Menurutnya kalau tidak dikembangkan, masyarakat otomatis akan membuka lahan dengan membakar. Jadi upaya peningkatan kapasitas masyarakat ini penting sehingga memberikan alternative penambahan penghasilan bagi masyarakat.

“Pengembangan jagung pipil oleh masyarakat yang telah kita berdayakan ini jauh lebih baik ketimbang memilih komoditas jagung manis untuk pengembangan. Dengan pemanfaatan ini pada lahan gambut akan lebih baik,” ujarnya. (nin)

Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved