Breaking News:

Anak Kerdil di Kapuas Hulu Cukup Tinggi, Ini Cara Pencegahannya

Stunting tidak bisa diselesaikan oleh petugas kesehatan saja, sebab ada beberapa aspek yang tidak bisa dijangkau petugas kesehatan

Penulis: Sahirul Hakim | Editor: Ishak
shutterstock
Ilustrasi 

Anak Kerdil di Kapuas Hulu Cukup Tinggi, Ini Cara Pencegahannya

KAPUAS HULU - Kepala Seksi (Kasi) Gizi Bidang Kesmas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kapuas Hulu, Wahdah menyatakan kasus stunting (kerdil) di Kabupaten Kapuas Hulu memang cukup tinggi diantara Kabupaten kota se Kalbar.

"Namun bukan yang tertinggi. Dalam menurunkan angka stunting tersebut, bukanlah dilakukan upaya mengobati, namun lebih pada mencegahnya," ujarnya kepada wartawan, Jumat (3/5/2019)

Wahdah menjelaskan, anak diatas lima tahun sudah tidak dapat dilakukan lagi upaya pencegahan stunting ini. Serta tidak bisa menurunkan angka stunting dengan singkat. "Dimana pencegahan stunting itu sendiri dapat dilakukan dengan memastikan pada 1.000 hari pertama kehidupan sang anak terpenuhi gizinya," ucapnya.

Baca: Stunting Masih Hantui Sejumlah Kecamatan di Kapuas Hulu

Baca: Cegah Generasi Stunting, Poltekkes Kemenkes Pontianak Gelar Seminar Nasional

Terus jelasnya, pada saat hamil sang Ibu juga harus terpenuhi asupan gizinya, kemudian bersalinnya di fasilitas kesehatan. Berikutnya setelah anak lahir lakukan inisasi menyusui dini, dengan begitu bayi akan mendapatkan kolostrum atau antibodi terbaik bagi sang bayi. "Dari lahir hingga enam bulan sebaiknya bayi hanya minum Air Susu Ibu (ASI) saja, tidak susu formula," ujarnya.

Setelah enam bulan, ASI sang Ibu memang tidak akan cukup untuk kebutuhan bayi, maka butuh Makanan Pendamping ASI (MPASI). "MPASI itu harus mengandung empat unsur, karbohidrat, protein hewani, kemudian sayur dan buah. Ini harus ada setiap kali anak makan, baru gizinya terpenuhi. Pemberian MPASI ini dilakukan sampai anak berusia 24 bulan," ucapnya.

Kemudian hal terpenting lainnya adalah memantau tumbuh kembang anak. Caranya dengan membawa mereka setiap bulan ke Posyandu terdekat. "Anak dibawa ke Posyandu jadi ibu-ibu tahu perkembangan anaknya, ada buku juga untuk para ibu melihatnya," ujarnya.

Baca: Penanggulangan Bencana Alam, Ini Langkah Pemda Kapuas Hulu

Baca: Atasi Stunting, Pemkab Landak Persiapkan Kawasan Rumah Pangan Lestari

Terkait upaya pencegahan stunting, kata Wahdah pihaknya telah menetapkan Peraturan Bupati. Stunting tidak bisa diselesaikan oleh petugas kesehatan saja, sebab ada beberapa aspek yang tidak bisa dijangkau petugas kesehatan dan itu menjadi faktor stunting.

"Contohnya seperti lingkungan pemukiman yang tidak baik, kemudian BAB sembarangan, ini baru 9 Desa bebas BAB dari 282 Desa, ini masih 97 persen. Belum lagi masalah air bersih, ketersediaan pangan dalam rumah tangga," ucapnya.

Selain itu, penanganan stunting butuh peran semua pihak, baik dari OPD maupun masyarakat dan lembaga-lembaga terkait. "Kita sudah ada Perbub yang juga memuat tentang penanganan stunting. Jadi butuh komitmen bersama dalam mengatasi masalah stunting ini," ungkapnya. (rul)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved