Pol PP Bantah Bubarkan Hari Tari Dunia di Taman Digulis Untan, Adriana Akui Kalah Cepat dari Ormas

Dari itulah kita dari Satpol PP berusaha mengamankan dan ternyata kita kalah cepat sama ormas yang mendatangi TKP

Pol PP Bantah Bubarkan Hari Tari Dunia di Taman Digulis Untan, Adriana Akui Kalah Cepat dari Ormas
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ YA' M NURUl ANSHORY
Kasat Pol PP Kota Pontianak, Syarifah Adriana. 

Pol PP Bantah Bubarkan Hari Tari Dunia di Taman Digulis Untan, Adriana Akui Kalah Cepat dari Ormas

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pontianak membantah bahwa pihaknya telah membubarkan Hari Tari Dunia yang digelar di Taman Digulis Untan Pontianak, Senin (29/4/2019) malam.

Kasat Pol PP Kota Pontianak Syarifah Adriana menjelaskan peristiwa yang terjadi saat momen peringatan Hari Tari Dunia.

Bukan pihaknya yang membubarkan, tapi oleh massa karena menganggap berbau porno.

Baca: VIDEO Tarian LGBT Viral, Massa Bubarkan Peringatan Hari Tari Sedunia di Taman Digulis Pontianak

Adriana membeberkan peristiwa awal karena adanya berita yang tersebar bahwa tarian adalah tarian yang tidak baik. 

Dimana laki-laki berbaju porno dan ada yang mengatakan bahwa tarian tersebut dari para LGBT karena melihat video yang beredar.

"Dari itulah kita dari Satpol PP berusaha mengamankan dan ternyata kita kalah cepat sama ormas yang mendatangi TKP. Tapi kita masih berhasil mengamankan tiga orang, dan mereka dapat kita proses sebagaimana mestinya," kata Adriana kepada Tribun, Selasa (30/4/2019).

Setelah diamankan para penari tersebut, kemudian datanglah penanggung jawab seorang dosen dari Prodi Seni FKIP Untan dan Sanggar tempat penari berlatih.

Baca: Satpol PP Pontianak Bubarkan Peringatan Hari Tari Dunia, Seniman Kecam Sikap Wali Kota Edi Kamtono

"Setelah diberikan pengertian dan didata mereka dipulangkan dengan membuat pernyataan terlebih dahulu bahwa tarian itu adalah murni seni dan bukan LGBT," tegasnya.

Kemudian penanggungjawabnya menyetujui bahwa tarian semacam itu tidak boleh dimainkan lagi di Pontianak.

Sebab masyarakat Pontianak sebetulnya tidak siap menerima hal semacam itu. 

"Disini adalah yang sopan dan sesuai norma yang ada. Kita minta mereka membuat pernyataan baru dipulangkan," tegasnya. (*)

Penulis: Syahroni
Editor: Rihard Nelson Silaban
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved