Pembubaran Tarian, Pengamat Sosial Nilai Karena Adanya Gerakan Purifikasi Agama dan Homophobia

Pengamat Sosial Untan Viza Julian mengatakan kalau saya melihat peristiwa yang terjadi, adanya sekelompok orang yang membubarkan pertunjukan

Pembubaran Tarian, Pengamat Sosial Nilai Karena Adanya Gerakan Purifikasi Agama dan Homophobia
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Pengamat Sosial FISIP Untan, Viza Julian 

Pembubaran Tarian, Pengamat Sosial Nilai Karena Adanya Gerakan Purifikasi Agama dan Homophobia

PONTIANAK - Pengamat Sosial Untan Viza Julian mengatakan kalau saya melihat peristiwa yang terjadi, adanya sekelompok orang yang membubarkan pertunjukan tari dalam memeriahkan hari tari dunia, sebetulnya bukan masyarakat kita belum siap.

Kita sekarang menjadi tidak siap, dulu sebetulnya siap. Budaya tarian dan seperti yang dipertunjukan para penari dan panitia sama sekali tidak ada hubungannya dengan LGBT. Jadi saya bicaranya bukan secara utuh tentang sosialnya tapi ini pengaruh dari konteks politik global.

Secara umum gerakan islamisme atau politik islam biasanya berjalan seiringan dengan fundamentalisme atau gerakan yang  mencoba mengembalikan ajaran ke aslinya.

Masalahnya adalah asli dalam versi siapa?. Ajaran seperti itu sudah mulai berkembang di Indonesia, seiring dengan banyaknya masuk lulusan dari beberapa daerah tertentu Timur Tengah. Biasanya gerakan itu bersikap tidak toleran terhadap budaya lokal dari budaya setempat. Jadi biasanya anti terhadap budaya atau kebalikan dari NU.

Baca: Hasil Rekapitulasi Surat Suara Tingkat Kota Dapil Singkawang Barat DPRD Kota Singkawang

Baca: Stabilkan Harga, Disperindag Kalbar akan Rencanakan Operasi Pasar

Baca: Sutarmidji Pastikan Stok Bahan Pokok Aman

Bukan saya bilang yang semua bersifat kedaerahan itu baik semua, tapi mereka  ini anti, sampai-sampai rela melakukan kekerasan didalamnya.

Seiring dengan perkembangan gerakan-gerakan purifikasi yang mencoba mensucikan kembali ajaran dengan nilai yang mereka intervetasikan sendiri..

Mereka merasa paling tahu mengenai agama tertentu, saya tidak menunjuk Ormas mana tapi kita bisa lihat fenomena itu.

Ini adalah fenomena baru, ada kelompok tertentu, gerakan tertentu mencoba membenturkan budaya tradisional dan agama islam, seakan-akan budaya yang diterima oleh islam hanya budaya yang berbau Timur Tengah. 

Padahal budaya Timur Tengah pun banyak yang bertentangan dengan agama islam, oleh kareena itu ini disebabkan mereka tida mampu memisahkan antara ini ajaran agama dan ini bagian dari budaya.

Halaman
12
Penulis: Syahroni
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved