Oknum PNS Bejat

KRONOLOGI Oknum PNS Pemprov Kalbar 3 Kali Setubuhi Gadis 14 Tahun, Gubernur Sutarmidji Angkat Bicara

Ayah korban, PN, mengatakan bahwa anaknya mengaku dipaksa dan diancam akan dibenturkan ke tembok jika menolak ajakan HW.

KRONOLOGI Oknum PNS Pemprov Kalbar 3 Kali Setubuhi Gadis 14 Tahun, Gubernur Sutarmidji Angkat Bicara
istimewa
KELUARGA - Direktur Reskrimum Polda Kalbar Kombes Pol Veris Septiansyah (baju putih) menemui pihak keluarga korban di ruang Ditreskrimum Polda Kalbar, Minggu (28/4/2019) malam. 

KRONOLOGI Oknum PNS Pemprov Kalbar 3 Kali Setubuhi Gadis 14 Tahun, Gubernur Sutarmidji Angkat Bicara

PONTIANAK - Terkait dugaan tindakan asusila terhadap gadis di bawah umur berinisial Na (14 tahun), dengan terlapor berinisial HW (53) selaku oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS Pemrov Kalbar, hingga saat ini pihak penyidik masih mendalami kasus tersebut.

Polisi melakukan pemeriksaan lanjutan mulai dari pelapor hingga saksi serta terlapor.

Menariknya, Gubernur Kalbar, Sutarmidji menegaskan ketika dikonfirmasi terkait sanksi ASN terlibat cabul ini, akan langsung dipecat dengan tidak hormat, karena telah mempermalukan Pemprov Kalbar.

"Saya minta pihak kepolisian teruskan proses hukum. Kalau terbukti bersalah akan kita berhentikan dia dengan tidak hormat," tandas Midji, Senin (29/4/2019).

Ia pun meminta, Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar mengawal kasus ini dan agar ada penegakan hukum, sebab korbannya masih anak di bawah umur.

"KPPAD harus kawal kasus ini agar ada penegakan hukum. Kalau terbukti bersalah, ini oknum otaknye sangsot," tukas Midji.

Baca: BREAKING NEWS - Oknum PNS Kalbar 3 Kali Perkosa Gadis Belia, Putri Pengamen Itu Menangis dan Pingsan

Sebelumnya, oknum ASN di Kantor Pemerintah Provinsi Kalbar berinisial HW (53), dilaporkan ke Polda Kalbar karena diduga melakukan tindakan asusila terhadap gadis di bawah umur berinisial Na (14 tahun), Minggu (28/4/2019).

Ayah korban, PN, mengatakan bahwa anaknya mengaku dipaksa dan diancam akan dibenturkan ke tembok jika menolak ajakan HW.

“Anak saya ini dipaksa. Kalau tak mau diperkosa, nanti kepalanya dibenturkan ke dinding. Anak saya dipaksa dan diancam,” kata PN yang sehari-hari bekerja sebagai pengamen ini.

PN, yang juga penderita disabilitas ini, mengatakan anaknya sempat hilang sejak Rabu (24/4/2019).

Bahkan dirinya sempat melapor ke Polsek Pontianak Barat untuk mencari anaknya ini.

Sementara itu, ibu korban, IP mengatakan, anaknya pergi dari rumah tanpa memberitahu pihak keluarga, dan tanpa alasan.

“Tidak ada masalah apa-apa. Cuma tak tahu kenapa dia pergi dari rumah,” ucapnya.

Setelah dilakukan pencarian selama lima hari, pihak keluarga kemudian berupaya mencari korban melalui media sosial.

Akhirnya, pihak keluarga mengetahui keberadaan Na di daerah Pontianak Tenggara.

Saat ditemukan, ibu korban mengaku anaknya ketakutan setiap kali melihat dirinya. Bahkan beberapa kali jatuh pingsan.

“Dia takut melihat saya, (padahal) mamaknya sendiri. (Seperti) Ndak kenal. Malah nangis,” tambahnya.

Menurut pengakuan anaknya, terduga pelaku melakukan perbuatan tidak senonoh sebanyak tiga kali, di salah satu hotel melati di Kota Pontianak.

“Ndak ade (cerita). Cuma kalau ditanya, (dia) pingsan. Setiap ditanya, pingsan. Dia takut dengan laki-laki,” tuturnya.

Namun, korban juga bercerita kepada ibu angkatnya, jika dirinya sempat diperkosa oleh pelaku.

Direktur Reskrimum Polda Kalbar, Komisaris Besar Polisi Veris Septiansyah, menyampaikan, bahwa awalnya merupakan laporan kehilangan anak, yang dilaporkan oleh salah satu anggota keluarga.

Baca: Putri Pengamen Korban Nafsu Bejat Oknum PNS Kalbar, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan yang Bikin Miris

“Lima hari yang lalu, korban meninggalkan rumah. Lalu kemudian ditemukan tadi siang (Minggu) sekitar jam dua oleh teman-teman kita di lapangan, dan ditemukannya pun di salah satu hotel di Pontianak,” ucapnya.

Veris menegaskan, saat petugas kepolisian menemukannya, korban bersama seorang laki-laki berinisial HW.

“Jadi setelah dibawa ke Polda, dan diinterogasi, pelaku mengaku bahwa dirinya telah menyetubuhi korban. Diajak berbuat tidak senonoh,” imbuhnya.

Veris menjelaskan, bahwa korban tidak diculik. Sebab, berdasarkan keterangan keluarga korban, bahwa dirinya keluar dari rumah.

“Saat ini, kita sedang mencari keterangan lainnya, apakah betul dia ini diculik, kemudian dipekerjakan, atau diperkosa, atau bagaimana. Ini yang belum selesai kita lakukan penyelidikan,” ucap mantan Kapolres Bengkayang ini.

Dia juga mengatakan, kondisi korban saat ini masih mengalami trauma berat, sehingga belum dapat dimintai keterangan.

Polisi saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku, terkait motif, serta bagaimana korban bisa berjumpa dengan pelaku.

“Pelakunya sendiri. Jika kita lihat di KTP, dia adalah seorang PNS. Kita hanya melihat fakta ya. Di KTP-nya itu PNS. Pelaku pun berdomisili di Pontianak,” katanya. Terduga okunuim ini terancam dijerat dengan UU Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014.

Asas Praduga Tak Bersalah

Sementara itu, Penjabat (Pj) Sekda Provinsi Kalbar, Sy Kamaruzaman menyatakan karena kasus tersebut masih berproses di kepolisian, maka pihaknya masih dalam proses menunggu.

"Seperti apa hasilnya kita tunggu saja. Karena dugaan bahwa terlapor merupakan ASN Pemprov Kalbar. Kita serahkan aparat penegak hukum untuk melakukan proses," ujarnya.

Ia juga menjelaskan pihaknya juga akan mengedepankan asas praduga tidak bersalah.

Kendati demikian jika proses hukum yang berjalan menyatakan bahwa yang bersangkutan bersalah dan dijatuhi hukuman pidana maka selain mendapatkan hukuman dari aparat hukum akan juga dijatuhkan sanksi sebagai ASN.

"Karena tindakan itu tidak sesuai dengan etika dan moral sebagai seorang ASN," ujarnya.

Saksi yang akan diberikan itu mulai dari yang paling ringan berupa teguran lisan hingga saksi yang paling berat berupa pemecatan.

Kendati demikian, pihaknya belum mengetahui secara persis siapa oknum tersebut.

Pihaknya akan koordinasikan lebih lanjut terhadap seluruh perangkat pimpinan perangkat daerah.

Sebab secara keseluruhan ASN di Lingkungan pemprov ada 6ribuan untuk petugas administrasi plus guru itu ada sekitar 12 ribu.

"Kita belum dapat informasi secara detail, terduga pelaku ASN di posisi yang mana. Tapi kita yakin akan kita temukan dan akan berkoordinasi dengan polda," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua KPPAD Kalbar, Tumbur Manalu mengungkapkan pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap Na (14) korban kejahatan seksual yang diduga dilakukan oleh oknum ASN Pemrov Kalbar.

"Untuk saat ini Komisioner KPPAD yakni ini Sulasti sudah ada di sana, untuk mendampingi proses BAP korban,"ungkapnya.

Ia mengungkapkan setelah proses pendampingan ini, pihaknya akan fokus melakukan pemulihan dari korban sendiri.

"Ada dua cara yang selama ini kita lakukan untuk korban dalam pemulihan traumanya yakni menggunakan hipnoterapi dan juga psikologi klinis. Ini untuk memastikan bahwa anak traumanya bisa pulih, supaya ia bisa kembali seperti biasanya dan tidak teringat kembali apa yang sudah dialaminya," tandas Tumbur.

Berikan Efek Jera

Wakil Ketua KPPAD Kalbar Tumbur Manalu mengungkapkan, dalam rangka pencegahan kasus serupa ke depan, pihaknya akan lebih menggencarkan sosialisasi terkait pencegahan tindak pidana kejahatan seksual terhadap anak kepada para stakeholder, terutama kepada para orang tua, terkait bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan terhadap anak.

Ia menilai, orang tua merupakan gerbang utama anak-anak dalam pencegahan kasus kejahatan seksual terhadap anak.

"Peran orang tua untuk mengingatkan anak-anak untuk melindungi tubuhnya, pencegahan dini, jangan sampai anak-anak itu, tidak mengenal dirinya, sehingga bila ada orang lain yang mencoba meraba-raba tubuhnya, anak sudah bisa memberi kode kepada masyarakat atau aparat hukum, dan bisa memberi perlawanan,"ungkapnya,” Senin (29/4/2019).

Selain itu, ia mengimbau kepada para orang tua agar menjadikan rumah tempat yang nyaman bagi anak-anak.

"Keluarga itu harus menjadi rumah yang nyaman bagi anak, bukan tempat yang neraka bagi anak, orang malah mencari kesenangan di luar, kalau rumah itu aman, nyaman, tentu anak akan tinggal dirumah, komunikasi antar keluarga lancar, akan membuat rumah semakin sehat, dan anak-anak betah di rumah, jadi kita bisa mengontrol keadaan anak," ungkapnya.

Bila anak tidak betah di rumah, dan mencari hiburan diluar, dinilainya anak akan mudah terpengaruh berbagai hal negatif, sepeti kasus anak.

Selanjutnya, ia pun mengatakan untuk khusus kasus kekerasan terhadap anak dinilainya perlu hukuman yang tegas kepada para pelaku, dibanding hanya hukuman tahanan, sehingga membulkan efek jera, dan membuat orang berpikir dua kali sebelum melakukan kejahatan seksual terhadap anak.

"KPPAD sendiri melihat harus ada penegakkan hukum yang tegas kepada para pelaku, karena kalau kita melihat dampaknya, sudah membunuh secara tidak langsung masa depan si anak, seumur hidup dia, dia akan mengingat masa-masa itu," tuturnya. (*)

Kasus Kejahatan Seksual Lingkup Kalbar

Penanganan KPPAD sejak tahun 2011 hingga 2019.
* Tahun 2011 sebanyak 11 kasus.
* Tahun 2012 sebanyak 18 kasus.
* Tahun 2013 sebanyak 14 kasus.
* Tahun 2014 sebanyak 20 kasus.
* Tahun 2015 sebanyak 20 kasus.
* Tahun 2016 sebanyak 23 kasus.
* Tahun 2017 sebanyak 14 kasus.
* Tahun 2018 sebanyak 11 Kasus.
* Tahun 2019 hingga April 10 Kasus.

Kota Rawan Kejahatan Seksual
a. Tahun 2017
1. Kota Pontianak menempati urutan pertama
* Terdapat 10 Kasus
2. Kabupaten Ketapang
* Terdapat dua kasus
3. Kabupaten Kubu Raya
* Satu kasus
4. Kabupaten Sanggau
* Satu Kasus.

b. Tahun 2018
1. Kota Pontianak masih menjadi urutan pertama
* Terdapat enam kasus,
2. Kabupaten Kubu Raya
* Empat kasus,
3. Kabupaten Mempawah
* Satu kasus.

Sumber: KPPAD Kalbar 

Editor: Marlen Sitinjak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved